Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan prihatin dengan konflik berkepanjangan di Suriah yang menelan ratusan korban dari kalangan sipil.

"Apa yang terjadi di Suriah saat ini sangat memprihatinkan...Saya mengikuti, korban terus bergantian, tidak ada tanda-tanda solusi yang cespleng dilakukan Kofi Annan (Utusan Khusus PBB-Liga Arab --red) ataupun DK PBB," kata Presiden Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis, mengenai memburuknya situasi kemanusiaan di Suriah.

Ia menilai hingga bulan ke-16 konflik tidak ada tanda-tanda penghentian pertempuran yang berkecamuk yang telah mengakibatkan ratusan korban dari kalangan sipil.

Kepala Negara juga menyoroti kegagalan Dewan Keamanan PBB mencapai kata sepakat guna mengakhiri tragedi kemanusiaan di negara itu.

"Sebenarnya saya sudah mengirimkan rekomendasi kepada PBB ...kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon," katanya.

Namun ia mengatakan memahami jika PBB masih kesulitan untuk mencapai kata sepakat guna menyikapi konflik berkepanjangan di Suriah.

Walaupun begitu, Presiden berharap negara-negara pemegang hak veto di Dewan Keamanan PBB yang memiliki kekuatan penuh untuk menentukan sikap PBB dapat mencari solusi segera guna menghindari bertambahnya korban jiwa.

Ia juga mengatakan bahwa penyelesaian konflik di Suriah menjadi tanggung jawab moral bersama karena tidak mungkin dunia internasional berdiam diri menyaksikan hal itu.

Menggarisbawahi mengenai kepedulian Indonesia pada situasi di Suriah, Presiden Yudhoyono dijadwalkan memberikan pernyataan khusus terkait sikap Indonesia terhadap konflik di Suriah pada pukul 20.00 WIB.

"Presiden akan memberikan statement tentang situasi di Suriah di Istana Negara, malam ini," kata Juru Bicara Kepresidenan Julian A Pasha.

Sementara itu DK PBB sekali lagi mencoba mencapai kata sepakat untuk mengeluarkan sebuah resolusi bagi penghentian kekerasan di Suriah, sekalipun usul resolusi sebelumnya memperoleh veto dari Rusia dan China.

(G003/N002)