Kamis, 30 Oktober 2014

Mahasiswa PENS ciptakan kursi roda pintar

| 4.920 Views
id pens, kursi roda pintar, karya mahasiswa
Desain kursi sempat diubah beberapa kali. Mekaniknya rumit.
Surabaya (ANTARA News) - Dua mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS),  Wahyu Mohammad Ihsan dan Arif Priyanto, menciptakan kursi roda pintar untuk mempermudah penyandang cacat melakukan aktivitas.

"Kursi roda yang kami sebut` Reconfiguration Wheel Chair` itu merupakan hasil riset kami selama setahun untuk tugas akhir," kata Arif yang bertugas merancang mekanik, mengatur kecepatan, dan mobilitas itu di Surabaya, Sabtu.

Didampingi rekannya Wahyu yang membuat mekanik dan kontrol lengan untuk mengatur ketinggiannya, ia menjelaskan` kursi roda yang dikontrol menggunakan remote itu dapat diposisikan ketinggiannya sesuai kebutuhan pengguna.

"Setidaknya, ada tiga tingkatan transformasi, yaitu transformasi minimum, strandar dan maksimal," kata mahasiswa semester akhir jurusan Mekatronika PENS itu.

Menurut Wahyu, pengaturan itu membuat penyandang cacat tidak perlu meminta bantuan orang lain bila ingin mengambil benda, misalnya untuk mengambil benda yang letaknya di atas, seperti buku di rak lemari.

"Kursi roda itu juga dapat membantu menaikkan penggunanya hingga setinggi orang berdiri dan jika benda terjatuh atau posisinya di lantai, maka kursi pun dapat disetel dengan diturunkan menggunakan remote, agar pengguna dapat mengambil benda tersebut," katanya.

Kursi roda itu dioperasionalkan dengan menggunakan aki berdaya 24 volt. Dalam kondisi normal, kursi dapat dipergunakan seperti kursi roda biasa dengan memposisikan di ketinggian standar serta mampu bergerak normal dengan kecepatan 0.3 meter per-detik.

"Kendala yang kami alami selama pembuatan kursi adalah masalah desain kursi dan motor yang digunakan. Desain kursi sempat diubah beberapa kali. Mekaniknya rumit. Selain itu, kami juga harus memastikan keamanan pengguna dengan mengatur keseimbangan kursi jika dipakai," kata Arif.

Tidak hanya itu, mereka pun harus keluar masuk pasar barang bekas untuk mencari motor yang sesuai. Masalah dana pun menjadi tantangan tersendiri, mengingat kursi ini telah menguras kocek mereka hampir Rp10 juta.

"Jadi, cukup dengan duduk di kursi roda dan memegang remote di tangan, maka penyandang cacat dapat lebih mudah berinteraksi dengan lingkungan sekitar tanpa membebani orang di sekitarnya. Mereka pun bisa lebih mandiri," katanya.

Ia mengharapkan, karya yang pertama kali di Indonesia itu dapat dikembangkan risetnya sehingga bentuknya lebih menarik dan sempurna untuk kemudian diproduksi massal.

"Kami akan mematenkan kursi roda pintar itu," katanya.

(E011)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga