Selasa, 2 September 2014

"KPK akan usut atasan Deddy Kusdinar"

Minggu, 22 Juli 2012 16:44 WIB | 3.000 Views
Aboe Bakar Al Habsyi (FOTO ANTARA/Andika Wahyu)
Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi III DPR RI, Aboe Bakar Al-Habsy, memperkirakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan terus mengusut dan menyelidiki atasan mantan Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Kemenpora Deddy Kusdinar--yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembangunan fasilitas olahraga Hambalang.

"Kita percayakan saja soal penanganan Hambalang kepada KPK. Belum tentu juga hanya akan berhenti di Deddy Kusnindar, mereka (KPK) pasti punya teknik tersendiri untuk mengungkap mega skandal Hambalang," kata Aboe Bakar, di Jakarta, Minggu.

Dia menambahkan, melonjaknya anggaran mega proyek Hambalang dari Rp125 miliar menjadi Rp1,2 triliun dan naik lagi menjadi Rp2,5 triliun tidak mungkin dilakukan oleh satu atau dua orang saja.

"Penganggaran ini pastinya juga melibatkan pihak-pihak yang punya pengaruh dan akses kuat. Oleh karenanya ini harus dituntaskan sampai akar-akarnya," tambahnya.

Di samping itu, ditemukannya nilai kerugian negara pada kasus Hambalang oleh KPK merupakan titik terang penuntasan kasus ini, secara tidak langsung berarti positioning kasus ini telah terbaca KPK.

"Saya berharap kasus ini segera dibongkar, pemeriksaan 70 saksi, penggeledahan di 7 tempat dan lima kali ekspose perkara seharusnya menjadi modal yang cukup untuk mengurai mega skandal Hambalang," kata politisi Partai Keadilan Sejahtera itu.

Soal nilai kerugian negara yang belum dipastikan, dirinya memperkirakan akan segera terjawab setelah KPK menyita berbagai dokumen saat penggeledahan di tujuh lokasi kemarin.

"Sampai saat ini publik meyakini bahwa banyak pihak yang terlibat dalam persoalan ini, namun yang sampai saat ini menjadi tersangka baru operator lapangan saja," katanya.

Menurut dia, ada dua kemungkinan yang terjadi dalam mengusut perkara ini. Pertama, bisa jadi KPK masih menyisir perkara Hambalang dari pinggir, sehingga operatornya lah yang diproses terlebih dahulu sembari mengumpulkan bukti untuk mendongkel pemain sentral di pusat pusaran kasus.

"Bila yang terjadi seperti ini amat mungkin akan ada nama-nama baru yang menjadi tersangka, termasuk yang telah lama beredar di masyarakat," kata Aboe Bakar.

Kemungkinan kedua, lanjutnya, KPK memang hanya fokus pada persoalan konstruksi, tidak ada keberanian untuk membongkar hulu perkara Hambalang, makanya dari awal terkesan KPK hanya berputar-putar saja sampai memeriksa 70 orang saksi.

"Bisa jadi akhirnya para pelaksana tekhnislah yang dijadikan tumbal, yaitu pejabat selevel pembuat komitmen dan para pimpinan rekanan yang membangun gedung Hambalang," sebutnya.

Padahal, katanya, Ketua BPK menyatakan bahwa proyek Hambalang sudah cacat sejak dalam kandungan, yang ini berarti persoalan Hambalang itu kompleks, mulai hulu hingga hilir.

"Nah dalam kondisi yang demikian tidak akan mungkin ada nama-nama besar yang diproses, apalagi selevel menteri atau pimpinan partai. Namun itu semua kan hanya tebak-tebakkan buah manggis, manis atau asamnya belum ketahuan, kita lihat saja kinerja KPK. Ini merupakan ujian atas independensi dan kredibilitas para komisionernya," kata Aboe Bakar.

Selain itu, proyek Hambalang yang saat ini masih dikerjakan, konstruksinya on the progress, juga harus didalami oleh KPK.

"Saya berharap kerugian negara yang dihitung KPK bukan sekedar pada pengerjaan proyek yang telah diimplementasikan saja, namun harus didalami total potential loss dari keseluruhan proyek ini," pungkas dia. (Zul)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga