Rabu, 1 Oktober 2014

Talaud berpotensi suplai bahan kertas dolar

Senin, 23 Juli 2012 18:00 WIB | 4.382 Views
BI saat ini sudah memfasilitasi perbanyakaan bibit pisang abaka dengan mengucurkan dana pengadaan 13 ribu tunas."
Manado (ANTARA News) - Kawasan tanah Talaud memang tidak cocok bagi sebagian tanaman pertanian, karena kondisi tanah berbatu, tetapi siapa sangka, daerah ini justru menyimpan potensi besar yang bisa dikembangkan sebagai pemasok bahan baku uang dolar terbesar di dunia.

"Pisang abaka yang ditanam di Kecamatan Essang dan berapa kecamatan Talaud lainnya, kualitasnya terbaik di bandingkan produksi negara lainnya di dunia sebagai bahan baku kertas uang dolar," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, Suhaedi di Manado, Senin.

Suhaedi mengatakan, ribuan hektare tanah di Kecamatan Essang sudah diteliti sangat cocok ditanami pisang abaka berkualitas terbaik di dunia.

Abaka Talaud, konon memiliki serat terbaik di dunia, karena itu kalau dikembangkan dengan serius, bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat di kabupaten kepulauan yang berbatasan dengan negara tetangga Filipina.

"Ribuan hektare di Kecamatan Essang, berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan pengembangan pisang abaka, selain itu masih ada kemungkinan daerah lain di kabupaten kepulauan itu untuk diangkat menjadi komoditas unggulan," kata Suhaedi.

Karena potensi besar Talaud menjadi daerah penghasil bahan baku kertas dolar dunia, maka mendorong BI untuk memfasilitasi pengembangan pisang abaka di kepulauan tersebut.

"BI saat ini sudah memfasilitasi perbanyakaan bibit pisang abaka dengan mengucurkan dana pengadaan 13 ribu tunas," kata Suhaedi.

Bibit pisang abaka 13 ribu tunas tersebut sudah ditanam areal seluas sembilan hektare.

"Dalam waktu dekat akan, tim akan turun melihat bagaimana perkembangan perbanyakan tunas pisang abaka tersebut, bila berhasil maka BI akan menambah lagi perluasan areal tanam komoditas potensial tersebut," kata Suhaedi.

Asisten Direktur BI Manado, Eko Siswantoro mengatakan, rencana BI mengembangkan luas perkebunan pisang abaka hingga 5.000 Ha.

"Dengan luas 5.000 Ha, maka Talaud sudah bisa mengekspor komoditas tersebut terutama ke negara yang mata uangnya menggunakan dolar," kata Eko.

Tahap awal pengembangan pisang abaka untuk kepentingan produksi 5.000 Ha, tetapi ini akan terus dikembangkan, kalau perlu diperluas di kecamatan lainnya di Kabupaten Kepulauan Talaud, sehingga produksi kertas dari bahan baku abaka bisa diperluas.

Berdasarkan data, dunia membutuhkan sekitar 600 ribu ton serta abaka, dari jumlah tersebut yang mampu disuplai oleh negara-negara penghasil pisang abaka baru sekitar 80 ribu ton.

Melihat potensi yang besar tersebut, maka peluang mengembangkan pisang abaka di Talaud, rasanya tidak sia-sia, tetapi ini tidak mungkin tercapai bila hanya BI saja yang melirik pengembangan tanaman tersebut.

"BI hanya sebatas fasilitasi saja, pengembangannya butuh keterlibatan dari semua stakeholder termasuk pemerintah provinsi dan pemerintah daerah setempat," kata Eko.

Masalah pemasar, kata Eko, tidak jadi masalah, sebab sudah ada beberapa investor yang siap menjadi pemasok pisang abaka tersebut menembus pasar dunia.

"Adanya investor tersebut menjadi salah satu pertimbangan sehingga BI mau ke kabupaten kepulauan meski harus melewati ganasnya ombak perairan laut Sulawesi," kata Eko.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan(Disperindag) Sulut, Sanny Parengkuan mengatakan, menjadi salah satu target pemerintah daerah untuk mengangkat potensi yang ada di masing-masing daerah guna diangkat menjadi keunggulan daerah.

"Pisang abaka, merupakan salah satu potensi, bila berhasil dikembangkan lebih besar, dengan areal pertanaman luas, maka efeknya akan sangat besar terhadap perekonomian daerah ini," kata Sanny.

Terutama yang diharapkan perannya dalam mengangkat ekonomi daerah, yakni pelaku usaha baik swasta, badan usaha milik negara(BUMN) maupun pihak asing.

Pisang abaka, jelas tujuannya untuk ekspor, sebab kegunaannya sebagai bahan baku uang dolar, karena itu butuh keterlibatan semua pihak dalam mendorong komoditas perkebunan Talaud tersebut memenuhi kebutuhan dunia.

Selain peran tersebut, peran kebijakan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten Talaud yang kondusif terhadap investor sangat penting dalam pengembangan komoditas pisang abaka menjadi produk kearifan lokal mendunia.

(G004)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga