Jumat, 24 Oktober 2014

RA Kosasih berpulang, komikus muda kehilangan inspirasi

| 4.093 Views
id ra kosasih, ra kosasih meninggal, komikus indonesia, komik indonesia, sweta kartika, tony trax, faza meonk, shirley sys, bayou, is yuniarto, garudayan
RA Kosasih berpulang, komikus muda kehilangan inspirasi
Sejumlah keluarga mendoakan R.A Kosasih di kediamannya di Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (24/7). Maestro komik itu meninggal dunia pada usia usia 93 tahun.(ANTARA/Muhammad Deffa)
Tidak ada sedikit pun kekhawatiran di wajah Pak Kosasih tentang nasib komik Indonesia ke depan, seakan beliau yakin betul bahwa generasi komikus saat ini sudah mampu untuk melanjutkan gerakannya.
Jakarta (ANTARA News) - Wafatnya bapak komik Indonesia, RA Kosasih, Selasa (24/07) dini hari membuat banyak orang kehilangan, termasuk komikus muda Sweta Kartika.

Sosok Raden Ahmad Kosasih sebagai legenda komik Indonesia merupakan inspirasi bagi Sweta yang telah mengenal karya Mahabharata sejak kecil.

Begitu berpengaruhnya RA Kosasih pada Sweta, ia sampai membuat seorang tokoh pahlawan berdasarkan komik RA Kosasih, Sri Asih.

"Ini bentuk penghormatan saya sebagai komikus muda dalam menghargai karya pertama Pak Kosasih," kata komikus yang menampilkan Sri Asih dalam komik action Wanara ciptaannya.

Tahun lalu, lelaki yang belajar desain grafis di Institut Teknologi Bandung itu sempat bertemu dengan RA Kosasih untuk meminta ijin memasukkan tokoh Sri Asih dalam komiknya.

Pertemuan itu sangat membekas di hati Sweta, RA Kosasih tidak menampakkan kesombongan sama sekali.

"Sikap dan perilaku beliau sangat membumi. Padahal beliau adalah komikus Indonesia yang pertama kali menerbitkan komiknya," lanjut komikus yang tergabung dalam Wanara Studio itu.

Di pertemuan itu, Sweta juga dibuat kagum karena RA Kosasih tetap menghargai komik-komik zaman sekarang walau gaya gambarnya jauh berbeda dengan zaman komik Indonesia pada era RA Kosasih berjaya.

"Tidak ada sedikit pun kekhawatiran di wajah Pak Kosasih tentang nasib komik Indonesia ke depan, seakan-akan beliau yakin betul bahwa generasi komikus saat ini sudah mampu untuk melanjutkan gerakannya," kata Sweta.

Selain itu, ada lagi hal menarik dari etos kerja RA Kosasih yang begitu berkesan bagi Sweta, yaitu membuat komik tanpa rasa terpaksa.

"Beliau selalu ngomik dalam keadaan hati senang," kenang Sweta teringat saat RA Kosasih bercerita tentang pengalamannya membuat ulang komik Mahabharata versi kedua karena manuskrip aslinya hilang.

Walau RA Kosasih telah menghembuskan nafas terakhir, Sweta berharap karyanya bisa terus menginspirasi para pembaca komik Indonesia.

"Kepergian beliau akan kami antar dengan doa dan kebanggaan karena telah dianugerahkan sosok komikus teladan yang mulia attitudenya," pungkas Sweta.

Pengaruh RA Kosasih pada komikus Indonesia saat ini tidak hanya bisa dilihat di karya Sweta, hal itu juga terjadi pada komikus Is Yuniarto. Pencipta komik bertema wayang "Garudayana" itu mengakui karya RA Kosasih adalah inspirasi bagi komiknya.

"Bapak RA Kosasih adalah inspirator dan lokomotif utama bagi kegerakan komik Indonesia. Beliau mempelopori terbitnya komik Indonesia dalam bentuk buku cetakan, dan meletakkan dasar identitas komik Indonesia pada karya legendarisnya, Komik Wayang Ramayana dan Mahabharata," ujar Is.

Is juga mengemukakan, RA Kosasih adalah sosok yang tidak tergantikan. Kerja keras RA Kosasih mempopulerkan komik Indonesia pada era 1950-1980an harus diteruskan oleh Is dan rekan-rekan komikus lain.

"Semoga komikus generasi saya akan terus menjaga asa dan semangat dari Bapak Komik Indonesia, RA Kosasih, dengan terus membuat komik Indonesia yang berkualitas sehingga dunia komik Indonesia akan selalu berkibar.

Tidak seperti Sweta yang pernah berjumpa dengan sang legenda atau Is yang membuat komik bertema wayang, Tony Trax, pembuat cerita di balik komik Real Masjid, memang belum pernah bertemu muka atau membuat kisah dengan genre wayang. Namun, dia tetap mengagumi karya-karya R.A Kosasih.

"Karya-karyanya sangat Indonesia. Yang lebih membanggakan, sekarang karya-karya lamanya dicetak lagi. Itu adalah hal yang bagus agar generasi sekarang tahu betapa hebatnya karya-karya beliau," kata Tony.

Hal serupa diungkapkan Shirley (S Y S), komikus di balik "Sang Sayur".  Dia berharap dirinya bersama sesama rekan komikus Indonesia bisa meneruskan perjuangan R.A Kosasih untuk menggiatkan kembali dunia komik Indonesia.

"Beliau telah menjadi inspirasi yang amat positif bagi anak-anak bangsa dan meski beliau telah pergi, karyanya akan selalu hidup dan mewarnai hati kami semua di sepanjang masa," katanya.


Mempopulerkan wayang

Selain jadi inspirasi bagi komikus Indonesia saat ini, karya RA Kosasih juga mempopulerkan kisah wayang bagi para komikus muda.

Seperti yang terjadi pada komikus Faza Meonk, dia mengemukakan karya RA Kosasih menjadi angin segar di dunia wayang yang awalnya hanya ada di karya sastra dan perdalangan. Kisah wayang yang dibalut dalam bentuk komik membuat Faza kecil tertarik pada kisah wayang.

"Gue yang orang visual ini jadi lebih paham cerita Mahabharata dan Ramayana lewat komik RA Kosasih. Dari situ gue jadi tertarik baca novel-novel wayang," ungkap dia.

Bagi Faza, karya RA Kosasih meningkatkan kecintaannya pada budaya lokal.

Sementara itu, Bayou, komikus pencipta "The 9 Lives" mengemukakan minimnya pengetahuan wayang pada anak muda saat ini. Namun, dia adalah pengecualian karena saat kecil dia sudah melahap komik-komik bertema wayang karya RA Kosasih.

"Gara-gara dia gue hafal cerita wayang," ungkap Bayou.

Perempuan itu berharap agar wafatnya RA Kosasih bisa jadi momen agar orang-orang kembali mengingat komik-komik jaman dulu.

"Semoga banyak orang yang nyari tahu tentang RA Kosasih karena anak jaman sekarang tidak semuanya tahu komikus jaman dulu," harap Bayou.

RA Kosasih lahir pada 4 April 1919 di Bogor. Dia telah menghasilkan banyak karya besar seperti serial Sri Asih, komik bergenre superhero. RA Kosasih meninggal dunia karena serangan jantung pada usia 93 tahun hari ini  pukul 01.00 WIB di rumahnya, Jalan Cempaka Putih III No 2, Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan.
(nan)

Editor: Desy Saputra

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga