Jakarta (ANTARA News) - Indonesia perlu belajar dari China karena Negeri Tirai Bambu ini telah melakukan perubahan dengan memerangi korupsi dan membuka diri dengan pihak asing untuk menarik investasi, kata pengamat ekonomi Universitas Indonesia Firmanzah.

Pemerintah China telah melakukan pembersihan dalam memberantas korupsi dan hal itu merupakan salah satu cara untuk menarik investasi asing, katanya di Jakarta, Selasa.

"Pemerintah harus belajar dari China agar kondisi perekonomian semakin membaik," katanya menandaskan.

Firmanzah berpendapat keunggulan China dalam membangun perekonomian merupakan strategi pemerintahnya dengan menjaga kondisi keamanan nasional serta memastikan berjalannya hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Pemerintah China tidak pandang bulu dalam mengadili para koruptor. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi hukum di Indonesia yang meringankan para koruptor," paparnya.

Masalah kepastian hukum, menurut dia, merupakan salah satu pendorong ekonomi di China. Di Indonesia, pelaku usaha membutuhkan kepastian hukum serta kemudahan perizinan dan insentif yang layak.

Pemerintah China mengundang pengusaha berinvestasi, yang kemudian diarahkan pada sektor-sektor unggulan. Di dalam negeri, untuk masalah perizinan selalu dipersulit dan membuat investor mengalihkan dananya dari Indonesia, tuturnya.

Firmanzah juga menjelaskan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menganut paham ekonomi jalan tengah yang memperhatikan pertumbuhan dan pemerataan.

"Paham ekonomi seperti ini merupakan paham ekonomi yang membawa kesejahteraan rakyat. Penganut paham tersebut biasanya percaya pada pertumbuhan yang berkeadilan (growth and equity) dan Presiden menyebutnya sebagai `Yudhoyonomics`," katanya menandaskan.
(KR-SSB/D007)