Pekalongan (ANTARA News) - Para perajin tahu dan tempe di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mengancam mogok berproduksi terkait kenaikan harga kedelai yang mengakibatkan mereka  sulit meneruskan usaha.

Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Kota Pekalongan Bambang Sujatmiko di Pekalongan, Rabu, mengatakan bahwa sekitar 30 anggotanya merencanakan menghentikan produksi sementara waktu karena kedelai sulit diperoleh dan harganya pun mahal.

"Aksi mogok produksi tersebut kemungkinan akan berlangsung selama dua-tiga hari," katanya.

Menurut dia, mogok produksi tersebut sebagai upaya mencari perhatian pemerintah untuk turut memikirkan cara agar harga kedelai bisa kembali stabil.

Jika harga kedelai terus melambung, katanya, para perajin akan kelimpungan.

"Jujur saja, mogok produksi itu bisa menyebabkan kerugian sementara terhadap perajin tahu dan tempe. Tapi jika harga kedelai ini terus melambung maka kami pun akan kesulitan mendapatkan untung yang berkepanjangan," katanya.

Ia mengatakan harga kedelai sudah cukup mahal tetapi para perajin belum berani menaikkan harga tahu dan tempe karena konsumen tidak mau mengerti persoalan terkait dengan kenaikan harga kedelai.

"Oleh karena itu, kami berharap pada pemerintah melalui instansi terkait bisa segera menstabilkan harga kedelai untuk kepentingan para perajin tahu dan tempe," katanya.

Seorang pedagang tempe Faiki mengatakan bahwa melejitnya harga kedelai mengakibatkan para pengrajin tahu dan tempe di Kota Pekalongan "menjerit".

"Harga kedelai saat ini, terpantau hampir mencapai Rp8.000 per kilogram, padahal tiga bulan lalu hanya Rp5.500. Jika kondisi ini terus dibiarkan maka para perajin tahu dan tempe di Pekalongan akan semakin terpuruk bahkan gulung tikar," katanya.

(KR-KTD)