Jakarta (ANTARA News) - Macam-macam sebutannya, dari pembelot, pemberontak, sampai pembuka tirai makna bahwa seseorang hanya dapat ditakar dari apa yang pernah dikatakan untuk diwujudkan dalam perbuatan. Nah, saatnya belajar dari keteguhan hati Luka Modric.

Bukan asal obral penegasan di pasar kepercayaan hati bening rakyat, "bahwa saya yang bertanggungjawab atas seluruh perbuatan", pemain Tottenham Hotspurs itu justru membelot dan memberontak atas perilaku warisan penjajah Belanda, yakni perilaku khas "koeli" apalagi jongos.

Istilah koeli apalagi jongos, di mata budayawan Umar Kayam (alm) kurang merdu terdengar di telinga mereka yang sudah menyatakan merdeka.

Pembebasan dari soal koeli apalagi jongos mengaitkan hubungan kuasa antara atasan dan bawahan. Modric memosisikan diri sebagai bawahan, sementara para bos di Spurs meletakkan diri sebagai atasan.

Atasan memerintah sementara sang koeli bungkam seribu bahasa. Budaya bisu di tengah gaduh wacana seakan-akan demokratis.

Modric membelot dan memberontak atas janji Presiden Spurs Daniel Levy yang bersedia membantunya berlabuh ke Real Madrid. Atas janji itu pula, pelatih anyar Andre Villas-Boas (AVB) mengamini dengan nilai transfer yang tidak berubah 45 juta euro. Sementara Madrid tetap membanderol Modric dengan 35 juta euro.

Tunggu punya tunggu, setelah setahun, Spurs belum mau luluh dengan menurunkan nilai transfer yang mereka patok seperti sedia kala.

Modric ngamuk lantaran sikap Levy yang ingkar janji. Modric minta kepada Spurs agar menerima tawaran Madrid.

Permintaan pemain serba bisa itu ditolak, sehingga ia melancarkan protes dan pembelotan dengan mangkir dalam latihan pada Kamis pekan lalu. Pemain berusia 26 tahun itu juga tak hadir dalam latihan keesokan harinya, dan Sabtu pekan lalu ia tak ikut terbang ke Amerika Serikat (AS).

Villas-Boas menyebut Luka Modric telah berbuat salah karena sikapnya yang terlihat "ngotot" untuk hengkang ke Real Madrid. "Saya kira Modric salah," katanya menegaskan.

"Sikapnya itu bakal menjadi bumerang bagi dia. Perilakunya itu memperburuk situasi. Dan sekarang presiden klub (Daniel Levy) sangat marah. Ini juga bukan waktu yang ideal bagi Levy yang berada di Amerika Serikat. Istrinya sedang sakit," katanya.

Pernyataan AVB bertuah. Di satus sisi, Modric terancam kehilangan 160 ribu pounds (sekitar Rp2,3 milyar) yang merupakan gajinya selama empat pekan. Di lain sisi, rencana pembelian Modric dilihat dengan sebelah mata dari para suporter Madrid.

"Di Tottenham, dia (Modric) bukan pemain kunci," kata mantan pemain Madrid Jose Maria Guti. Ini lantaran gerbong Los Merengues memiliki sejumlah gelandang brilyan, sebut saja Xabi Alonso dan Mesut Oezil.

Drama dari "koel-koeli" Modric memadatkan makna bola bahwa siapa saja boleh bicara, dari mereka yang menindas, sampai mereka yang tertindas.

Drama itu menjawab pertanyaan yang diajukan pemikir Gayatri C. Spivak, apakah kaum tertindas atau kaum pinggiran (subaltern) memang tidak mampu atau justru dibungkam agar tidak mampu bicara.

Levy bicara, AVB bicara, Modric begitu juga. Mereka tidak terhegemoni untuk bicara, karena itu mereka terbebas menuliskan sejarahnya masing-masing. Bukankah sejarah versi penjajah hanya memanggungkan mereka yang ditaklukkan dan mereka yang dimenangkan?

Bukan Modric, justru Levy dan AVB yang berlaku seperti "koeli-koeli" di panggung bola, karena mereka menganut paham sejarah, bahwa mereka menaklukkan Modric. Sementara Modric telah "menyerahkan seluruh kepalanya" kepada Spurs.

Musim lalu, Modric melirik Chelsea, kemudian mengerling Madrid. Apakah memang Modric harus melucuti dirinya sendiri di hadapan kuasa segudang uang dari pemilik klub? Sebagai pemain sepak bola abad 21, ia berhak menuntut dan mewajibkan dirinya memilih yang terbaik.

Apakah jendela transfer pemain telah menjadi subyek yang berkuasa? Untuk berbicara pun, sampai-sampai Modric memilih mogok latihan untuk memperoleh hak bicara agar tidak menjadi bagian dari "koeli-koeli" bola.

Manajer sekelas Harry Redknapp sampai-sampai menyebut Modric sebagai "pemain fantastis, bukan sosok yang suka membuat onar". Apakah sikap Modric yang menolak latihan dapat dipandang sebagai pembangkangan pemain kepada disiplin tim?

Di mata Spurs, Modric pembuat onar di kamar ganti tim dan pemecah belah kekompakan tim, padahal Modric hanya menuntut untuk hengkang ke Madrid.

Apa yang menimpa Modric dengan Spurs dapat dibandingkan dengan relasi kekuasaan penjajah berdasarkan kepentingan penjajah.

Penjajah akan senantiasa menyebut-nyebut daerah jajahannya sebagai "tanah indah, subur nan permai". Manajemen Spurs akan mengulang kredo bahwa disiplin harus ditegakkan demi kejayaan tim.

Mantan gelandang Real Madrid Rafael van der Vaart mengekspresikan rasa simpati kepada Modric, sementara kubu Spurs bersama AVB memilih bersikap realistis. Dan Modric memilih bersikap yang terbaik bagi dirinya. Bola melawan segala macam hegemoni.

Benar bahwa Modric tidak bergabung bersama dengan skuad Tottenham dalam tur pramusim ke AS meski akhirnya ia "bertobat" dengan kembali berlatih di lapangan pada Senin pekan ini.

Laman resmi klub itu menyatakan, "Klub mengonfirmasikan bahwa Luka Modric kembali berlatih pada hari ini (Senin) di Spurs Lodge. Staf pelatih akan terus menyiapkan tur pramusim."

Dalam membaca teks drama "koel-koeli" Modric, siapa pangreh praja? Siapa ambtenaar? Drama Modric memanggungkan kolonialisme bola dengan mengatasnamakan penegakan disiplin.
(A024)