Minggu, 21 September 2014

Beras Bangka Barat miliki nilai ekonomi tinggi

Rabu, 25 Juli 2012 16:00 WIB | 1.351 Views
Muntok, Bangka Barat (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung mengungkapkan beras lokal varietas "utan antu" memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan beras luar daerah.

"Beras `utan antu` memiliki rasa, aroma dan warna khas sehingga banyak diminati konsumen, meskipun harganya relatif lebih tinggi," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Bangka Barat Suhadi di Muntok, Rabu.

Ia menjelaskan, beras lokal tersebut memiliki keunggulan rasa lebih enak dengan ciri khas berwarna kemerahan, rasanya lebih segar dan kulitasnya juga lebih baik dari beras pasokan luar daerah.

Menurut dia, kebutuhan beras Bangka Barat mencapai 17.052 ton per tahun untuk sekitar 180 ribu jumlah penduduk di daerah itu, sementara produksi beras lokal pada 2011 mencapai 1.264,18 ton atau 2.039 ton gabah kering panen (GKP).

Suhadi mengatakan, harga beras "utan antu" di pasaran pun lebih tinggi atau selisih Rp3.000,- dibanding beras premium, yaitu mencapai Rp13.000,- per kilogram sedangkan beras premium sekitar Rp10.000,- per kilogram.

Dengan berbagi keunggulan tersebut, kami berharap mampu menumbuhkan animo warga bercocok tanam padi karena memiliki prospek cerah seiring minimnya produksi beras dan tanaman pangan lokal lain dalam upaya mewujudkan swasembada pangan nasional, kata dia.

Menurut dia, dengan kondisi seperti itu, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan animo warga mau bercocok tanam padi di ladang yang sudah disediakan.

"Kami juga sudah menyalurkan bantuan berupa alat mesin giling padi untuk meningkatkan kualitas beras petani di beberapa lokasi sentra pertanian seperti Desa Tuik dan Beruas Kecamatan Kelapa" kata dia.

Dengan masih minimnya hasil produksi beras varietas `utan antu` tersebut, kata dia, berdampak pada langkanya pasokan beras lokal di tingkat pedagang pengecer, karena hasil panen biasanya sudah banyak warga yang memesan untuk di konsumsi sendiri.

Ia menambahkan, peredaran beras lokal hanya di sekitar desa penghasil itu, jarang bisa ditemukan di kecamatan lain karena petani sendiri juga memanfaatkannya untuk konsumsi sehari-hari.

"Kami akan berupaya meningkatkan produksi beras `utan antu` dengan memperluas lahan tanam padi, pada tahun ini seluas sekitar 300 hektare dan pada 2013 seluas 1.000 hektare melalui APBN," kata dia.

Suhadi menambahkan, pada 2014 pihaknya tetap merencanakan pembukaan lahan dan bantuan bibit, pupuk, obat-obatan dan pendampingan lainnya dalam upaya meningkatkan produksi beras daerah sekaligus mendukung terciptanya ketahanan pangan nasional.

"Target kami pada 2015 petani lokal mampu mencukupi kebutuhan daerah sebesar 30 persen sekaligusmengurangi ketergantunganpasokan beras dari luar daerah yang saat ini jumlahnya mencapai lebih dari 90 persen," kata Suhadi.

(KR-DSD/S023)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga