Jumat, 29 Agustus 2014

Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2012 berhadiah Rp300 juta

Kamis, 26 Juli 2012 19:22 WIB | 3.702 Views
Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2012 berhadiah Rp300 juta
(pwi.or.id/adinegoro)
Jakarta (ANTARA News) - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat kembali mengadakan lomba karya jurnalistik Adinegoro bagi wartawan media cetak, siaran televisi dan radio, serta media siber warga negara Indonesia berhadiah total Rp300 juta.

Wartawan peserta lomba dapat mengirimkan karya jurnalistiknya yang telah disiarkan selama periode Januari hingga November 2012 guna disertakan dalam penilaian lomba memperebutkan Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2012, demikian pernyataan pers PWI Pusat.

Kategori penilaian Anugerah Jurnalistik Adinegoro meliputi karya jurnalistik tulis berupa laporan investigasi (JI), jurnalistik radio berupa laporan investigasi atau laporan berkedalaman (JR), jurnalistik televisi berupa laporan investigasi atau laporan berkedalaman (JT), jurnalistik foto meliputi foto berita, feature, potret/profil dan foto olahraga (JF), karya jurnalistik tajuk rencana ((TR), dan jurnalistik karikatur opini (JK), demikian keterangan pers PWI Pusat, Kamis.

Selain itu, panitia mengadakan lomba karya jurnalistik meliputi karya jurnalistik infotainmen (IN) dan karya jurnalistik siber (SR).

Pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro mendapat hadiah masing-masing senilai Rp50 juta berupa cek, tropi dan piagam, serta fasilitas akomodasi untuk menghadiri penyerahan hadiah pada acara puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2013 yang dihadiri Presiden Republik Indonesia di Manado, Sulawesi Utara.

Adapun pemenang penghargaan jurnalisme infotainmen dan jurnalisme siber masing-masing mendapat hadiah Rp10 juta berupa cek, trofi dan piagam.
 
Anugerah jurnalistik Adinegoro mengabadikan nama wartawan multi-talenta Djamaluddin ADINEGORO, yang lebih dikenal dengan nama ADINEGORO, ketimbang nama aslinya Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan yang diberikan ayahnya. Ia tokoh yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan pers nasional.

Tokoh pers nasional yang dilahirkan di Talawi, Sumatera Barat, pada 14 Agustus 1904 dan wafat di Jakarta 8 Januari 1967 itu, mengeyam pendidikan kewartawanan di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda) sebelum kembali ke tanah air tahun 1931 untuk menjadi Pemimpin Redaksi Panji Poestaka untuk kemudian memimpin surat kabar Pewarta Deli.

Pada 1948 ia bersama-sama dengan Profesor Dr. Mr. Soepomo, Ir. Pangeran Moehammad Noer, Soekardjo Wirjopranoto, Mr. Gusti Majur dan Mr. Jusuf Wibisono menerbitkan majalah Mimbar Indonesia, yang merupakan majalah perjuangan yang bermutu pada saat itu.

Tokoh ini pula yang mendirikan Perguruan Tinggi Publisistik dan Fakultas Publisistik & Jurnalistik Universitas Pajajaran Bandung. Tahun 1951 ia mengambil-alih pimpinan bekas kantor berita Belanda Aneta yang namanya diganti Pers Biro Inonesia Aneta (PIA).
 
Adinegoro juga dikenal sebagai kartografer (ahli pembuat peta), dan penulis buku komunikasi bermuatan filsafat jurnalisme, hubungan masyarakat, opini publik, dan geopolitik. Buku "Falsafah Ratu Dunia" dan "Melawat ke Barat" termasuk karya Adinegoro yang hingga isunya kini tetap aktual.
 
Namanya juga diabadikan dalam Yayasan Pendidikan Multimedia ADINEGORO yang menaungi Lembaga Pers Dr. Soetomo sebagai satu institusi yang mengabdi untuk membangun/meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang jurnalistik.
 
Astrid B. Soerjo, putri bungsu Adinegoro, mengharapkan Anugerah Jurnalistik Adinegoro  menjadi peluang bagi seluruh wartawan warga negara  Indonesia untuk berkompetisi membuat laporan jurnalistik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Direktur Konfederasi Wartawan ASEAN (CAJ) PWI Pusat itu menyatakan, "Ini menjadi peluang pula bagi wartawan di daerah, mulai dari Papua hingga Aceh, bahkan wartawan warga negara Indonesia yang bertugas di luar negeri."

Astrid, yang alumni Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), juga berharap bahwa wartawan Indonesia selalu memacu kreativitasnya dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, seperti yang dicita-citakan Adinegoro semasa hidupnya.

"Sudah waktunya pula para wartawan bisa mengembangkan jurnalisme sastrawi yang dapat diterima masyarakat. Sekarang ini kan kecenderungan pemberitaan terkesan serba instan," ujarnya menambahkan.

Dokumen lomba karya jurnalistik Adinegoro dikirim langsung atau melalui pos ke PWI Pusat, Gedung Dewan Pers Lantai IV, Jalan Kebon Sirih 34, Jakarta 10110. (*)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga