Rabu, 1 Oktober 2014

Menikmati jazz "beraroma" Ramadhan usai Tarawih

Minggu, 29 Juli 2012 14:10 WIB | 2.999 Views
Menikmati jazz
Penyanyi Jazz Tompi tampil dalam acara bertajuk "Ramadhan Jazz Festival 2012" di Plaza Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/7). (FOTO ANTARA/Dian Dwi Saputra)
..Tidak penting jazz itu apa, yang penting kita dengar saja musiknya. Rasa yang ditularkannya. Emosi yang diteriakannya. Jeritan yang dilengkingkannya...
Jakarta (ANTARA News) - Di halaman sebuah masjid, pada suatu malam di bulan Ramadhan, sebuah pertunjukan musik jazz digelar.

Lafal-lafal ketuhanan mengunci malam dalam sebuah perenungan, menghipnotis ribuan penonton yang beragam dalam sebuah refleksi yang syahdu namun tidak kaku melalui sajian-sajian musik dalam gelaran "Ramadhan Jazz Festival 2012" di halaman Masjid Cut Meutia Jakarta akhir pekan ini.

Ketika Idang Rasjidi dan band membawakan "Shalawat Nabi Muhammad S.A.W, sekitar 3.500 penonton yang duduk di karpet mengangguk-anggukan kepala, terlarut menikmati lantunan Shalawat dengan iringan musik jazz.

Sebelum Tompi menyuguhkan lagu rohani "Muhammad Telah Mengajarkan Kita", penonton dibuat terpukau lewat adu scatch singing antara Tompi dan Idang Rasjidi.

Dwiki Dharmawan menyebut Ramadhan Jazz membawa energi positif bagi penonton yang sebagian besar kaum muda, membawa mereka berkontemplasi dengan musik jazz.

"Ini bisa menjadi sarana kontemplasi dari nol," kata Dwiki, yang ikut tampil di "Ramadhan Jazz Festival 2012" pada Jumat (27/7) malam.

"Sangat relevan karena jazz sendiri aslinya sebuah pemberontakan dari dalam hati, dari kaum-kaum tertindas. Kita di sini sering sekali menjadi manusia tertindas oleh silaunya dunia," tambahnya.


Wadah keberagaman

Gelaran Ramadhan Jazz tahun ini menjadi wadah bersatunya keberagaman. Ragam antara lain terlihat dari penampil dan pesan-pesan yang disampaikan pada pertunjukan yang disajikan di halaman masjid usai shalat Tarawih itu.

Barry Likumahuwa, yang bukan seorang muslim, ikut memeriahkan acara bersama para musisi muslim.

"Saya selalu ingin membangun perspektif bahwa Indonesia tumbuh dari perbedaan. Sudah bukan waktunya lagi kita ngomongin perbedaan," kata putra musisi jazz, Benny Likumahuwa, itu pada Sabtu (28/7) malam.

Bersama Barry Likumahuwa Project, Barry menggandeng BoysIIBoys menyajikan aksi atraktif di panggung.

Mereka memukau penonton dengan lagu-lagu sarat makna seperti "Tombo Ati" milik Opick, "Generasi Synergy" yang mengusung semangat anak muda dan "Unity" yang berkisah tentang perbedaan,

Sebelumnya, band jazz yang dimotori enam anak muda, IYR, juga membawa pesan tentang keindahan keberagaman. Vokalis IYR yang nonmuslim, Albert, membawakan lagu "Oh Tuhan Mohon Ampun" diikuti koor dari para penonton.

"Sebenarnya saya terharu, saya bukan muslim tetapi bisa menyatu dengan kalian di sini. Musik bisa menyatukan kita," kata Albert yang merupakan jebolan "AFI Junior" dan pemeran utama di film "Denias, Senandung di Atas Awan" (2006).


Transformasi

Musik jazz awalnya muncul dari komunitas penduduk berkulit hitam di bagian selatan Amerika Serikat dan disebut-sebut terlahir dari campuran tradisi musik Afrika dan Eropa.

Jenis musik yang banyak menggunakan instrumen gitar, trombon, piano, trompet dan saksofon itu kemudian berkembang dan menyebar ke seluruh dunia, berpadu dengan berbagai jenis musik lokal dan melahirkan gaya-gaya musik jazz baru.

Ada jazz New Orleans pada awal 1910-an, lalu big band swing, Kansas City Jazz, Gypsy Jazz, Afro-Cuban Jazz, Latin Jazz, Jazz Rock, Soul Jazz, Urban Jazz dan masih banyak lagi.

Gaya musik jazz masih terus berkembang. Pemain trombon, komposer, dan penggubah musik jazz Amerika Serikat J.J Johnson dalam sebuah wawancara tahun 1988 mengatakan,"Jazz itu gelisah. Dia tidak akan tinggal diam dan tidak akan pernah."

Di Indonesia, jazz juga bertransformasi. Musisi dalam negeri memadukan jazz dengan berbagai unsur, ada yang menggabungnya dengan musik keroncong, ada pula yang menyatukannya dengan musik-musik rohani.

Dwiki misalnya, sejak tahun 2006 dia membentuk Dwiki Dharmawan Spiritual Jazz dengan personel yang tidak permanen. "Konsepnya memberikan pesan-pesan moral religi," kata Dwiki.

Pada Ramadhan Jazz, Dwiki bersama Dimas (drum) dan Shadu Rasjidi (bass) dalam Dwiki Dharmawan Spiritual Jazz menyajikan musik jazz nan dramatis dengan harmoni yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton lewat sajian instrumental berjudul "Rima" dan "The Spirit of Peace."

Lalu Dwiki mengundang Iwan Abdie (vokal) dan Sa'ad (suling) untuk berkolaborasi menyuguhkan lagu "Rumput Bertasbih" karya Opick dan "Dengan Menyebut Nama Allah" milik Bimbo dengan aransemen yang lebih nge-jazz tanpa menghilangkan nuansa Islami-nya.

Kalau Dwiki menggunakan jazz untuk menyampaikan pesan-pesan religi, Idang Rasjidi menjadikan musik itu sebagai sarana untuk menghayati ayat-ayat Tuhan.

"Kita diberi kunci untuk menaruh hati, mengaduk-adukan perasaan. Jadi kalau main piano seperti membaca Al-Fatihah," kata Idang sebelum membawakan lagu karyanya, "Membaca Al-Quran".

Mereka mengubah rupa jazz dan menggunakannya sebagai instrumen dakwah.

Bagi Endah dari Endah n Rhesa, perubahan semacam itu adalah hal yang wajar karena jazz memang selalu berevolusi.
 
"Jazz itu improvisasi. Ada unsur kebebasan di situ karena jazz selalu berevolusi sampai sekarang, belum ketahuan ujungnya apa," kata Endah.
 
Dan seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam buku "Jazz, Parfum, dan Insiden", "..Tidak penting jazz itu apa, yang penting kita dengar saja musiknya. Rasa yang ditularkannya. Emosi yang diteriakannya. Jeritan yang dilengkingkannya..."

(M047)


Editor: Maryati

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga