Rabu, 22 Oktober 2014

Pakar: saatnya kembali ke tempe kara

| 3.630 Views
id tempe kara, tanaman kara, tanaman koro, tempe, Pakar pertanian dari Universitas Jember, Prof Dr Achmad Subagio MAgr
Pakar: saatnya kembali ke tempe kara
Pengrajin tempe memperlihatkan kacang jenis koro (Canavalia Ensiformis) yang akan dijadikan bahan baku pembuatan tempe koro di Cimanggu, Kota Bogor, Jabar, Kamis (26/7). Pengrajin tempe di Bogor mengembangkan kacang koro untuk membuat tempe sebagai alternatif pengganti kedelai yang harganya melonjak tajam dengan rasa yang tidak kalah dengan tempe kedele serta bermanfaat untuk menurunkan kadar gula darah penderita diabetes. (FOTO ANTARA/Jafkhairi)
Tempe itu asli buatan Indonesia, tapi kedelai tidak. Kedelai itu bawaan dari China yang kemudian juga dibuat tahu. Dulunya, tempe itu dibuat dari kara,"
Jember (ANTARA News) - Pakar pertanian dari Universitas Jember, Prof Dr Achmad Subagio MAgr, mengatakan meroketnya harga kedelai sekarang ini sudah saatnya dijadikan momentum semua pihak untuk kembali ke asal muasal tempe yang terbuat dari kara.

"Tempe itu asli buatan Indonesia, tapi kedelai tidak. Kedelai itu bawaan dari China yang kemudian juga dibuat tahu. Dulunya, tempe itu dibuat dari kara," katanya kepada ANTARA News di Jember, Jawa Timur, Senin.

Ia mengemukakan bahwa naiknya harga kedelai yang berdampak pada keberlangsungan industri tempe, termasuk tahu, sama dengan masalah beras. Masalah kedua bahan pangan itu terjadi karena pemerintah terlalu fokus pada satu varian.

"Padahal di Indonesia ini sangat kaya bahan pangan. Untuk beras, kan banyak varian penggantinya, seperti jagung, sagu, singkong, termasuk kara. Industri kedelai juga begitu, semua menggunakan kedelai. Begitu kedelai mahal, muncul masalah," kata dosen Fakultas Teknologi Pertanian Unej ini.

Lulusan perguruan tinggi di Jepang ini mengemukakan bahwa dari sisi protein, kara di Jawa disebut koro, tidak berbeda jauh dengan kedelai. Dari sisi pola tanam kara lebih murah karena hampir tidak memerlukan pemupukan. Selain itu, pohonnya juga bisa tumbuh lagi setelah dibabat.

"Kara ini asli tanaman tropis dan bisa tumbuh di tanah marjinal. India sudah mengembangkan tanaman kara ini dan hasilnya bagus. Sementara untuk kedelai merupakan tanaman subtropis, sehingga di Indonesia produksinya tidak akan bisa maksimal," kata penemu beras cerdas dari singkong ini.

Menurut dia, walaupun direkayasa seperti apa pun, tanaman kedelai di Indonesia tidak akan bisa bersaing dengan produksi negara subtropis. Produksi kedelai di Indonesia tidak akan pernah bisa mencapai dua ton per hektare.

"Di Amerika Serikat, tanaman kedelai itu subsidinya luar biasa, produktivitasnya juga sangat tinggi dan harganya di bawah kita karena subsidi itu. Produk kita pasti kalah bersaing, apalagi kemudian bea impornya nol," katanya.

Karena itu, menurut dia, sangat tidak tepat jika menghadapi kenyataan meroketnya harga kedelai saat ini, sejumlah pemerintah daerah mendorong petani untuk berbondong-bondong menanam kedelai.

"Makanya sekarang perlu didorong untuk pembuatan tempe dari kara ini. Jenis kara ini di Indonesia ratusan, karena satu jenis saja variannya sangat banyak," katanya.

Ia bercerita bahwa era 1970-an dirinya masih merasakan tempe kara. Karena semuanya fokus ke kedelai, maka tempe kara tidak ada, termasuk tempe benguk.

Menurut dia, untuk mengembangkan tempe kara saat ini memang tidak mudah, karena ketersediaan bahan bakunya sangat sedikit. Namun demikian, hal itu seharusnya dijadikan pendorong oleh pemerintah dan masyarakat untuk menanam bahan pangan yang sesuai dengan iklim tropis.

"Untung sekarang kami masih menemukan biji-biji kara dalam berbagai jenis, kalau tidak kan sayang. Kara ini memiliki banyak kelebihan dan kandungan karbohidratnya tinggi. Selain untuk tempe, banyak kegunaan kara ini, seperti untuk saus, kecap, penyedap rasa, susu dan lainnya," katanya.

Saat ini, kata dia, FTP Unej sedang melakukan percobaan pembuataan tempe kara untuk menyikapi masalah tingginya harga kedelai.

(M026/M008)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga