Jumat, 19 September 2014

Jangan harap reformasi besar-besaran Korea Utara

Minggu, 29 Juli 2012 23:10 WIB | 3.815 Views
Jangan harap reformasi besar-besaran Korea Utara
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, menunjukkan kertas suara di sesi kelima Majelis Rakyat Agung Korea Utara ke-12 di Balai Rakyat Mansudae, Pyongyang, dalam arsip foto tanggal 13 April 2012 dan dirilis 14 April 2012. Wacana mengenai sang pemimpin muda Korea Utara yang berencana mereformasi ekonomi buruk sudah berdampak. Membantu menaikkan harga beras hingga sulit terjangkau bagi keluarga di salah satu rakyat yang bergizi buruk di dunia. (REUTERS/KCNA)
Seoul (ANTARA News) - Korea Utara, Minggu, memperingatkan Korea Selatan tidak mengharapkan reformasi besar-besaran di bawah kepempimpinan Kim Jong-un. Seorang pejabat tinggi menepis kemungkinan perubahan di Korea Utara dan menyamakan hal itu dengan "mimpi konyol".

Kim muda, yang diyakini berumur akhir 20 tahunan, mengambil alih kendali kekuasaan pada Desember lalu, menyusul wafatnya sang ayah, pemimpin sangat lama berkuasa, Kim Jong-il. Korea Utara masih menerapkan politik komunis-isolasionis dan selalu menyodorkan misteri bagi dunia.

Spekulasi tentang perubahan muncul awal bulan ini ketika rejim komunis tersebut memecat panglima militer terkemuka Ri Yong-ho dan menggantikannya dengan seorang jenderal yang kurang dikenal.

Korea Utara juga menyampaikan pengumuman yang jarang terjadi. Pekan lalu mereka mengumumkan bahwa pemimpin berusia muda itu telah menikah dengan perempuan setempat, yang dikabarkan bekas artis opera.

Pengumuman itu merupakan perubahan besar dibandingkan masa sebelumnya, yaitu saat kehidupan pribadi para pendahulunya terbungkus rapi.

Para pengamat Seoul melihat Korut kemungkinan sudah melakukan perubahan-perubahan dalam upaya yang mungkin akan dilakukan Kim muda --yang menjalani pendidikan di Swiss-- untuk membuka negaranya melakukan reformasi politik dan ekonomi.

Namun, juru bicara Komite Reunifikasi Damai Korea Korea Utara --yang bertugas menangani masalah-masalah menyangkut perbatasan-- saat wawancara dengan media milik pemerintah, KCNA, menyebut harapan-harapan seperti itu sebagai "konyol" dan "bebal".

"Kelompok boneka (Korea Selatan)... mencoba memberikan kesan kepemimpinan Korea Utara saat ini terpecah dengan masa sebelumnya. Ini merupakan kebebalan yang parah," ujarnya.

"Mengharapkan perubahan kebijakan dan reformasi serta keterbukaan dari DPRK adalah mimpi yang konyol, sama seperti mengharapkan matahari terbit dari barat."

Dari ayahnya, Kim muda mewarisi ekonomi yang hancur karena pengelolaan salah selama beberapa dekade serta penduduk yang kekurangan makanan hingga tergantung pada bantuan pangan pihak asing.

(T008/B002)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga