Kamis, 23 Oktober 2014

Mereka senang jadi relawan kontingen Indonesia

| 3.609 Views
id olimpiade london, kontingen indonesia, relawan kontingen indonesia, kbri london
Tugas sepele namun krusial karena kami semua harus dapat membantu atlet untuk berada di venue tepat pada waktunya"
London (ANTARA News) - "Kelelahan saya sebagai relawan Olimpiade ini terbayar hari ini saat Eko Yuli Irawan memenangi medali perunggu pertama untuk Indonesia. Rasanya bangga sekali, terutama karena saya memang ditugaskan untuk membantu tim angkat besi dan anggar."

Ekspresi puas itu dicetuskan Aliendheasja Fawilia, seorang relawan untuk kontingen Indonesia pada Olimpiade London.

Beberapa waktu lalu, Komite Olimpiade Indonesia (KOI) merekrut pelajar dan warga Indonesia di Inggris Raya untuk membantu para atlet Indonesia yang berlaga pada Olimpiade London 2012.

"Kami memang membutuhkan tenaga sukarela untuk membantu KOI dalam pelaksanaan Olimpiade," ujar Sekretaris Pertama Pensosbud KBRI London Heni Hamidah kepada ANTARA.

Menurut Ade Lukman dari KOI, para relawan akan membantu 22 atlet Indonesia dan ofisial selama berada di London.  Mereka juga bahu membahu bekerja bersama Sekretaris Tiga KBRI London Billy Wibisono dan Asisten Atase Pertahanan Mayor Parimeng.

Sebelum Olimpiade resmi digelar, para relawan diajak mengenal lapangan dan meninjau semua venue di mana tlet-atlet Indonesia akan bertanding.

Walau jarang berkomunikasi dengan para atlet dan lebih sering membantu ofisial, para relawan ini luar biasa bangga pada apa yang dicapai Eko Yuli Irawan, ujar Aliendheasja.

Bagi mahasiswa studi MA Tourism Environment and Development pada King's College, London, ini Olimpiade memberinya banyak pengetahuan baru soal olahraga, khususnya olahraga di Indonesia.

"Saya jadi paham proses penilaian kompetisi angkat besi dan saya juga mendapat gambaran proses pelatihan anggar di Indonesia," katanya.

Dia juga mendapat banyak teman baru sesama relawan yang membantu kontingen Indonesia pada cabang-cabang olahraga lainnya.

Selama membantu lebih dari 12 orang anggota tim angkat besi dang anggar Indonesia, Aliendheasja bekerja dengan seorang relawan lainnya, Bowo.

"Ini kesempatan bagi saya untuk menambah teman sesama orang Indonesia di Inggris," akunya.

Senang dan bangga

Yang paling berkesan baginya adalah besarnya kesempatan untuk berinteraksi dengan pahlawan-pahlawan olahraga Indonesia. "Bangga rasanya bisa berbincang dengan para peraih medali emas di ajang Olimpiade, SEA Games, dan Asian Games terdahulu," katanya.

Namun dia mengkritik sistem koordinasi pengiriman kontingen Indonesia ke London yang memakan waktu dan uang.

"Saya harap persiapan administrasi kontingen Indonesia untuk Olimpiade Rio 2016 bisa lebih matang sehingga Indonesia bisa mengirimkan lebih banyak atlet dan bisa meraih lebih banyak medali," kata Aliendheasja.

Sementara Ikbal Alexander, mahasiswa pascasarjana jurusan Studi Pembangunan pada Fakultas Ilmu Sosial, London South Bank University, mengaku telah lama mengetahui London menjadi tuan rumah ajang olahraga akbar dunia itu.

"Saya sudah dapat membayangkan, London tanpa Olympic saja sudah ramai sekali.  Dengan penempatan Olympic di London, pasti akan menjadi momen spektakuler," kata Alex yang meraih diploma untuk juruan Business English dari Wall Street Institute School of English, Indonesia.

Menurut Alexander, medio Juni lalu dia mengetahui KBRI London membutuhkan relawan untuk membantu kontingen Indonesia.

"Tidak pikir dua kali, saya langsung mempersiapkan motivation letter yang menjadi persyaratan utamanya," kata Alexander.

Alexander menyebut partisipasinya dalam gelaran olahraga akbar sejagat ini sebagai kesempatan untuk seumur hidup. Pada motivation letter dia menuliskan bangga dan dedikasinya untuk Indonesia.

Sekitar satu minggu sebelum Olimpide dimulai, dia dikabari KBRI London diterima menjadi relewan Olimpiade. Senang dan bangga menyelimutinya. Dia langsung berimaginasi dapat melihat dan bertemu atlet-atlet kelas dunia dari Indonesia.

Alexander mendapat tugas memandu Tim Bulutangkis yang merupakan andalan medali Indonesia. Di memmbayangkan bisa bertemu dengan pahlawan-pahlawan olahraga seperti Taufik Hidayat, Simon Santoso dan Liliyana.

Ramadan

Walaupun Olimpiade kali ini bertepatan dengan Ramadan, Alexander dan relawan lain tak melihatnya sebagai hambatan dalam menyumbangkan tenaga untuk atlet-atlet Indonesia yang akan mengharumkan nama bangsa.

Seperti halnya Alexander, Sofiana Dewi, juga mahasiwa, tidak menyangka bisa melibatkan diri pada salah satu ajang yang menarik perhatian dunia ini.

"Senang bercampur khawatir, setelah melakukan site visit (kunjungan ke venue) di Stratford City, Royal Artillery Barracks, Wembley, dan Hendon," kata Sofiana yang baru saja menyelesaikan kuliah pada Universitas Westminster.

Mereka bertugas bak seorang liaison officer untuk para atlet.  "Tugas sepele namun krusial karena kami semua harus dapat membantu atlet untuk berada di venue tepat pada waktunya," kata Sofiana.

Dia mengaku agak sedikit khawatir karena relawan tidak mendapatkan free pass untuk membantu atlet langsung ke venue. "Kami hanya mendapat guest pass ke venue sesuai dengan keperluan dan jadwal yang telah ditetapkan," terangnya.

Namun Sofiana bangga bisa turut mendukung perjuangan atlet Indonesia dalam mengharumkan Merah Putih. "Ini bukanlah pertama kalinya saya terlibat dalam sebuah event, tetapi ini event pertama terbesar saya," akunya.

Awalnya Sofiana ingin mendaftar sebagai relawan Olimpiade London, namun urung karena berencana pulang ke Indonesia segera setelah studi Komunikasi Pemasaran-nya pada Universitas Westminster selesai.

Sementara Nevine Rafa yang baru saja meraih gelar MA Interior Design dari Universitas Westminster menceritakan kesan-kesannya selama menjadi relawan.

Awalnya dari iseng membuka akun Facebook PPIUK (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Inggris Raya).  Di sini dia membaca iklan, "Dibutuhkan relawan untuk mendampingi para atlet dan ofisial selama pertandingan Olimpiade berlangsung."

Segera dia mengirimkan data-data mengenai dirinya.  Memperluas jejaring dan berpartisipasi langsung membantu atlet nasional dalam mengharumkan nama bangsa adalah motivasi utamanya.

Sembari menanti pengumuman relawan terpilih, Nevine membayangkan betapa sibuknya dia nanti mendampingi para atlet. Dia akhirnya terpilih menjadi relawan bersama sembilan orang lainnya.

Tak hargai waktu

Briefing dan mengunjungi venue-venue Olimpiade pun dilakukan, sebelum atlet Indonesia tiba di London.

Tanggal 23 Juli, para atlet dan ofisial tiba di Bandara Internasiohnal Heathrow.

Instruksi dari koordinator relawan berdatangan. Sayang, instruksi itu tidak datang dari satu perintah yang mengesankan kurang matangnhya persiapan dalam menghadapi perhelatan besar dunia ini.

Ekspektasi besar para relawan ini meluntur karena melihat apa yang mereka anggap sebagai kesemrawutan koordinasi yang kadang tak efisien.

Mereka juga mengeluhkan mental anggota kontengan Indonesia yang dianggap mereka kurang menghargai waktu. Ini mengecewakan mereka.

Mereka peran telah menyewakan lapangan, tapi tidak dipakai karena anggota kontingen terlambat datang ke venue.

Mereka juga melihat tidak jelasnya pengaturan transportasi untuk atlet dan relawan. Belum lagi, tumpang tindih instruksi yang hanya menghabiskan waktu saja.

Nevine melihat pihak-pihak yang terlibat tidak mengelola dengan baik, terutama pengurus kontingen.  Mereka menangkap kesan kontingen Indonesia belum siap menjadi juara karena melupakan beberapa hal, termasuk disiplin soal waktu.

"Saya berharap, semoga ke depan, para kontingen Indonesia dapat lebih baik lagi dalam masalah time management sehingga dapat memberikan hasil terbaik bagi bangsa," kata Nevine.  (*)

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga