Sabtu, 1 November 2014

Nostalgia anak cucu Jenderal MacArthur

| 3.389 Views
id sail morotai 2012, sail morotai, syahrin abdurrahman, ade padmo sarwono, kapal spirit of darwin
Nostalgia anak cucu Jenderal MacArthur
peluncuran Sail Morotai 2012 (FOTO ANTARA)
Tubuh-tubuh yang hendak merayakan Sail Morotai 2012 terancam "dibendakan" atau...dilihat semata-mata sebagai benda
Jakarta (ANTARA News) - Terpicu semangat merebut roh kemenangan pertempuran di kawasan Pasifik, Jenderal Douglas MacArthur pada 9 Januari 1945 mendarat kembali di Luzon, Filipina, dengan ujaran tersohor sarat pemenuhan janji, "I shall return" (saya akan kembali).

Benar bahwa Jenderal MacArthur punya spirit menang, bahkan sebelum mendarat, menyerang dan menundukkan balatentara Jepang di Hollandia (Papua), ia menikmati ice cream bersama anak buahnya.

Dari Hollandia, MacArthur kemudian berulangkali meloncat seperti katak (strategi lompat katak, leapfrogging) sampai akhirnya sampai di Pulau Morotai pada tanggal 15 September 1944.

Jenderal Amerika Serikat itu menjalankan taktik "menyerang pertahanan yang paling lemah" sampai-sampai balatentara Dai Nippon tunggang langgang masuk ke hutan Papua.

Sesudah pertempuran, Letnan Jenderal Jo Imura mengatakan, "Pendaratan Sekutu di Hollandia adalah suatu hal yang sama sekali tidak terduga." Nukilan pengakuan ini ditulis oleh P.K. Ojong (alm) dalam buku Perang Pasifik.

Didaulat oleh ungkapan Latin klasik "historia docet" (sejarah itu mengajar), kenangan pertempuran Pasifik di Morotai hendak dikenang kembali kemudian dihelat dalam Sail Morotai 2012. Nostalgia anak cucu Jenderal McArthur

Di bawah tajuk "Menuju Era Baru Ekonomi Regional Pasifik" gelaran Sail Morotai 2012 secara resmi dimulai pada Sabtu (28/7) dari dermaga Cullen Bay, Darwin, Northern Territory, Australia.

Dari atas geladak kapal "Spirit of Darwin", Ketua Panitia Penyelenggara Sail Morotai, Syahrin Abdurrahman menandai dimulainya gelaran lomba (flag off) perahu layar Sail Morotai 2012 dengan tembakan salvo ke udara sebanyak tiga kali.

Tembakan salvo juga dilakukan oleh Menteri Pendidikan Northern Territory, Chris Burns. Dan puluhan hadirin, termasuk Konsul dari Konsulat Indonesia di Darwin, Ade Padmo Sarwono, sontak bertepuk tangan mewakili kegembiraan dan keceriaan di bawah langit cerah Darwin.

Sebelumnya acara digelar, Syahrin mengatakan, Sail Morotai 2012 bertujuan memicu peluang sebesar-besarnya bagi investasi sektor perikanan, menggairahkan wisata sejarah dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

"Morotai adalah tempat bersejarah untuk Perang Dunia II. Negara-negara yang terlibat seperti Amerika Serikat, Jepang dan Filipina akan kita undang saat pelaksanaan Sail di Morotai," katanya.

Soal Morotai, Gubernur Maluku Utara, Thaib Armaiyn yang juga hadir dalam acara itu juga mengemukakan panitia Sail Morotai akan mengundang para veteran Perang Dunia II sebagai upaya bernostalgia.

"Bukan hanya veteran-nya saja. Alat-alat perang berupa pesawat yang dipakai dalam masa PD II juga akan kita hadirkan pada waktu pelaksanaan Sail. Supaya terkesan bernostalgia, mengulang kembali sejarah PD II," kata Thaib.

Syahrin yang juga Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Dirjen PSDKP) juga menyatakan sebanyak 132 kapal dari 22 negara akan ikut Sail Morotai 2012.

Acara puncak dari nostalgia anak cucu Jenderal Mac Arthur itu akan digelar pada 15 September 2012 di dermaga Daruba Morotai. Para opa dari veteran perang dunia ke II di Morotai diharapkan hadir untuk merayakan nostalgia.

Selain diajak bernostalgia, peserta diajak bersorak dan berpesta karena jumlah peserta Sail Morotai 2012 meningkat dibandingkan tahun 2011 (111 peserta dari 18 negara) dan tahun 2010 dengan 107 peserta. Di bawah asa bernostalgia PD II, pelaksanaan Sail Morotai 2012 akan dipusatkan di Pulau Morotai, Maluku Utara.

"Sail Morotai 2012 juga akan dihadiri oleh keluarga para veteran perang dari Jepang, Selandia Baru, Belanda, Australia, dan Amerika Serikat. Ini tentu menjadi nostalgia tersendiri bagi mereka," kata Menko Kesra Agung Laksono di Jakarta, Rabu (25/7).

Untuk memberi darah daging bagi sebuah nostalgia, pemerintah akan membangun Museum Perang Dunia II di Morotai yang menyuguhkan jejak pasukan sekutu selama mendiami Morotai.

"Keluarga veteran yang sudah konfirmasi datang ada sekitar 100 orang. Kami masih menerima lagi jika ada yang mendaftar," kata Agung pula.

Tidak ingin terbuai oleh nostalgia sarat proyek "akan", Padmo Sarwono menyatakan, pemda setempat perlu lebih bersunggug-sungguh menyiapkan diri dengan menyediakan fasilitas jalan dan listrik yang memadai agar para wisatawan mancanegara yang ikut memeriahkan Sail Morotai 2012 dapat lebih leluasa dan nyaman.

"Kawasan pariwisata bukan hanya Bali dan Lombok. Ada Morotai dan kawasan sekitarnya meski masih memerlukan ketersediaa saran pendukung seperti jalan dan listrik. Dua hal ini penting bagi wisatawan, khususnya dari Australia," katanya menegaskan.

Nostalgia anak cucu Jenderal MacArthur yang ingin dipadatkan dalam Sail Morotai 2012 bisa jadi diteror oleh kapitalisme tubuh. Menurut filsuf Pierre Bourdieu, dalam masyarakat berorientasi konsumsi, kemampuan menentukan cita rasa tampil sebagai kekuasaan yang didominasi oleh kelas tertentu.

Kekuasaan itu sedemikian dilanggengkan atau hendak dikenang kembali dalam sebuah nostalgia. Tubuh-tubuh yang hendak merayakan Sail Morotai 2012 terancam "dibendakan" atau dikomodifikasi, atau dilihat semata-mata sebagai benda.

Tubuh-tubuh anak cucu Jenderal MacArthur senantiasa dilihat "dalam proses", tidak statis melainkan dinamis. Tubuh-tubuh mereka selalu "dibuat" dan "dibuat" terus menerus.

Tubuh-tubuh itu "dimanipulasi" sedemikian rupa agar menghasilkan keuntungan semaksimal mungkin, entah itu keuntungan finansial, kultural atau sosial. Tubuh dari anak cucu Jenderal MacArthur itu dapat dikatakan menjadi semacam "modal" atau kapital.

Di usia senja mereka tidak ingin mengamini kredo bahwa, "tubuhku adalah alat yang dapat menghasilkan nafkah bagi kehidupan."

Dan berapa harga segelas kecil ice cream coklat di pasar swalayan kota Darwin?
(A024)

Editor: AA Ariwibowo

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga