Jakarta (ANTARA News) - Mata uang rupiah terhadap dolar AS pada Selasa terangkat dalam kisaran sempit hanya sembilan poin seiring pelaku pasar yang mengambil posisi wait and see.

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa sore bergerak menguat sembilan poin menjadi Rp9.455 dibanding posisi sebelumnya senilai Rp9.464 per dolar AS.

Pengamat Monex Investindo Futures Johanes Ginting di Jakarta, Selasa mengatakan, aktivitas pasar keuangan dunia nampak sepi dan tidak banyak bergerak seiring pelaku pasar mengambil posisi wait and see, namun demikian secara umum mayoritas instrumen pasar masih bergerak di kisaran positif.

"Nyaris tak bergerak banyak. Sejauh ini pergerakan pasar masih belum pasti menjelang pertemuan moneter bank sentral Eropa (ECB) pada pekan ini," ujar dia.

Ia menambahkan, pasar telah berspekulasi bahwa ECB akan mengaktifkan kembali program pembelian obligasi guna membantu menekan yield obligasi Spanyol dan Italia, namun penegasan penolakan negara Jerman atas langkah itu kembali mengundang skeptisisme.

Ia juga mengatakan, minimnya transaksi di pasar uang juga dipicu dari investor yang nampaknya masih khawatir jika ECB akan kembali mengecewakan dengan tidak mengumumkan langkah-langkah agresif untuk membendung krisis hutang zona euro.

"Tidak adanya pengumuman langkah baru akan memicu kekecewaan besar. Tapi masih tersisa harapan bahwa kita akan dapat melihat sesuatu yang berarti pada pertemuan ECB pada pekan ini," kata dia.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Selasa (31/7) tercatat mata uang rupiah tidak bergerak nilainya atau stagnan di posisi Rp9.485 per dolar AS.
(ANT)