Rabu, 30 Juli 2014

Brazil terjepit skandal korupsi terbesar

Selasa, 31 Juli 2012 16:49 WIB | 2.388 Views
Brazil terjepit skandal korupsi terbesar
Pendemo berpura-pura membersihkan tanda di luar gedung kementrian saat "Aksi Menentang Korupsi" di Brasilia, Rabu (7/9). Kelompok masyarakat sipil menyelenggarakan aksi melalui jejaring sosial menentang korupsi dan penyalahgunaan uang rakyat oleh kementerian di Brasil. Kini skandal terstruktur juga menyeret partai berkuata, Partai Pekerja, yang dibesarkan bekas presiden Brasil, Lula da Silva. (REUTERS/Ueslei Marcelino)
Brazil (ANTARA News) - Puluhan mantan pejabat pemerintah diadili, Kamis lalu (26/7), dalam skandal korupsi terbesar di Brazil, yang bisa menodai partai berkuasa, Partai Pekerja (PT), dan mantan presiden yang populer, Luiz Inacio Lula da Silva.

Sebanyak 38 terdakwa yang tampil di hadapan Mahkamah Agung Brazil dan disebut pers sebagai "pengadilan abad ini" antara lain bekas menteri, anggota parlemen, pengusaha, dan bankir, yang terkait dengan dugaan skema pembelian suara di Kongres antara 2002 dan 2005.

Mirip dengan yang terjadi di Indonesia yang juga menyeret petinggi partai berkuasa saat ini.

Dikenal sebagai Mensalao (pembayaran bulanan besar), skandal itu menghantam partai da Silva dan koalisi yang berkuasa itu. Namun secara lebih luas menyoroti korupsi kini justru dicerca karena diduga terlibat praktik-praktik korupsi pada pembentukan politik secara keseluruhan.

Dalam gugatan yang pertama kali muncul pada 2005 selama pemerintahan da Silva, PT dituduh menawarkan suap hingga 10.000 dolar (Rp100.000.000) bagi anggota Kongres sebagai ganti untuk suara mereka.

Jaksa menduga uang suap tersebut diambil dari anggaran iklan BUMN melalui perusahaan yang dimiliki pengusaha Marcos Valerio de Souza, salah satu terdakwa.

Para terdakwa menghadapi tuduhan penggelapan, pencucian uang, korupsi dan penipuan yang bisa dikenai hukuman hingga 45 tahun penjara.

da Silva, pendiri dan pemimpin partai sayap kiri yang menjabat sebagai presiden dari 2003 hingga 2010, bukan terdakwa. Ia selalu mengaku tidak tahu tentang skema pembelian suara, dan bekas presiden Brasil itu meminta maaf secara terbuka untuk skandal korupsi kepada publik atas nama partainya.

Namun para penasihat kuncinya, termasuk mantan menteri Jose Dirceu, Luiz Gushiken, dan Anderson Adauto, serta belasan anggota parlemen dari empat partai sekutu, masuk dalam nama terdakwa.

Menjelang persidangan, Jaksa Agung Roberto Gurgel mengirimkan dokumen kepada 11 hakim agung yang ia menyebut kasus tersebut sebagai skema korupsi dan penggelapan dana publik yang paling berani dan paling keterlaluan yang pernah terlihat di Brazil, sebagaimana dinyatakan harian Folha de Sao Paolo melaporkan pada Sabtu.

Para analis mengatakan, partai berkuasa yang sekarang dipimpin anak asuh dan penerus da Silva, Presiden Dilma Rousseff, bisa membayar harga dalam pemilu tingkat kota yang dijadwalkan Oktober.

Di persidangan, pemerintah yang tunduk pada metode ilegal untuk menjaga sikap aliansi kongresnya dan, "Hasilnya akan dilihat sebagai sebuah pertanda hukuman atau toleransi," kata Carlos Pereira, seorang profesor di yayasan bergengsi Getulio Vargas.

"Ini adalah jendela kesempatan bagi Brazil untuk menunjukkan dengan cara yang meyakinkan jenis masyarakat yang diinginkan: kuat, institusi yang independen, mampu menghukum mereka yang menyimpang, atau itu justru akan selalu menjadi sebuah masyarakat yang sarat kepentingan tertentu," tambah Perreira, penulis beberapa artikel tentang korupsi.

Persidangan terjangkit kelemahan yang melekat pada sistem politik Brazil, termasuk pembiayaan kampanye pribadi dan biaya pembentukan aliansi pemerintah sejak tidak adanya partai yang mampu mengamankan mayoritas di parlemen sendiri.

"da Silva memenangi pemilu, namun untuk memerintah ia harus menjalin koalisi dengan berbagai partai tengah dan kiri dan ini memerlukan uang untuk membayar utang kampanye," kata Carlos Felix de Melo, seorang ilmuwan politik di Universitas Federal Minas Gerais.

Skandal tersebut terungkap pada 2005, ketika anggota Partai Buruh Brazil Roberto Jefferson, terjerat dalam skandal korupsi yang terpisah, membalas dengan mengungkap skema pembelian suara oleh PT kepada pers.

(C005/H-AK)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga