Senin, 28 Juli 2014

"Revitalisasi peran bulog akan sulit dilakukan"

Rabu, 1 Agustus 2012 13:11 WIB | 1.861 Views
Anggota komisi IV DPR, Muhammad Prakosa.(FOTO ANTARA/Andika Wahyu)
Jakarta (ANTARA News) - Revitalisasi peran Bulog sebagai penyangga pangan akan sulit dilakukan karena keberadaannya saat ini harus tunduk sesuai aturan undang-undang tentang Perum, kata anggota komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mohammad Prakosa.

"Saya kurang paham terkait adanya keinginan untuk merevitaslisasi Bulog, namun Bulog sekarang yang berstatus Perum akan sulit menjadi badan penyangga pangan karena membutuhkan keuntungan komersial," kata Prakosa saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan peran Bulog tidak lagi bisa seperti sebelum 1998 karena fungsinya sebagai penyangga pangan nasional dirampingkan hanya untuk mengurusi beras saja sesuai saran Dana Moneter Internasional (IMF) pada saat itu.

Menurut dia, Bulog saat ini masih kesulitan untuk menangani beras, meskipun belum direvitalisasi sebagai penyangga pangan. Penanganan kebutuhan pangan dalam negeri akan lebih optimal jika dibentuk badan otoritas pangan nasional yang bertanggungjawab terhadap kemandirian dan kedaulatan pangan dalam negeri.

Badan otoritas yang akan dibentuk itu memiliki wewenang yang lebih dibanding Bulog karena tidak hanya sebagai penyangga, namun juga dapat merumuskan berbagai kebijakan jangka panjang, kata dia.

Badan yang terdiri dari berbagai institusi pemerintah pusat maupun daerah itu dapat menyatukan kebijakan pangan dalam satu atap. Keberadaan badan tersebut juga dapat meminimalisir gesekan kepentingan antar lembaga karena telah bergabung dalam badan otoritas itu, kata dia.

Jika tidak ada badan yang fokus menangani masalah ketersediaan pangan di dalam negeri, maka kemandirian pangan tidak akan mungkin terwujud, kata dia.

Pemerintah akan melakukan revitalisasi peran Bulog sebagai stabilisator harga serta penyangga kebutuhan pangan dalam negeri dengan mengkaji komoditas-komoditas pangan yang akan menjadi tanggung jawab Bulog.

(SDP-48)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca