Jakarta (ANTARA News) - Penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) menguntungkan pasar Indonesia, karena akan makin banyak negara yang mensyaratkan jual-beli kayu dengan sertifikat legal di pasar internasional.

"Dari sudut pandang perdagangan, yang justru ingin kita dorong dari sertifikasi ini adalah ke depan, kalau ini (SVLK) tidak dilakukan, bukan sekedar tidak mendapat nilai tambah, tapi pasarnya juga akan tertutup," ujar Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krishnamurti di Jakarta, Rabu.

Dengan SVLK, industri kayu di Indonesia tidak perlu khawatir apabila negara-negara pengimpor kayu satu per satu mulai mewajibkan sertifikasi terhadap produk kayu seperti halnya produk impor lain.

Bahkan, Bayu mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara pertama yang mewajibkan sertifikasi legalitas kayunya melalui SLVK di Asia. Hal tersebut merupakan sumber keunggulan dan satu langkah penting yang dilakukan Indonesia.

"Maka kita akan menjadi punya keunggulan lebih di antara negara-negara di Asia,dan mungkin dugaan saya, pasarnya tadi bisa jauh lebih besar dan kita bisa rebut kembali," ujar Bayu.

Menurut Bayu, yang paling penting dalam perdagangan berbasis sumber daya alam (SDA) bukanlah menambah volume secara besar-besaran, namun untuk betul-betul memastikan produk tersebut berasal dari Indonesia.

"Jadi kita terapkan `certificate of origin`, setelah itu dia legal, harganya juga akan naik nanti, tetapi kita bisa mengelola dengan baik alamnya," kata Bayu.

Dengan demikian, masyarakat Indonesia dapat menikmati hasil alamnya tanpa eksploitasi berlebihan terhadap SDA yang sangat berharga ini.

(SDP-52)