Kamis, 21 Agustus 2014

China siksa aktivis

Kamis, 2 Agustus 2012 22:28 WIB | 2.741 Views
China siksa aktivis
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, menangis saat upacara peringatan untuk sang ayah yang juga mantan pemimpin negara itu, Kim Jong-il, di Lapangan Kim Il-sung, Pyongyang, beberapa waktu lalu. Pelarian dari Korea Utara yang dibela aktivis Korea Selatan, Kim Young-hwan, menjadi isu sensitif dengan China, yang menjadi sekutu utama Korea Utara. (Mandatory Credit REUTERS/Kyodo)
Seoul (ANTARA News) - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Korea Selatan, Kamis, meyakini China menyiksa seorang aktivis Seoul yang ditahan otoritas negara itu, sekaligus mendesak Beijing menghukum pihak-pihak terlibat.

Komisi itu mengungkapkan keprihatinan mereka atas apa yang mereka sebut sebagai "pelanggaran hak asasi manusia terburuk" yang melibatkan seorang warga Korea Selatan di luar negeri.

"Walaupun China menyangkal... kesaksian nyata korban dan bukti-bukti yang ditunjukkan pada kami membuat kami percaya telah terjadi suatu penyiksaan," kata Kepala Komisi itu, Hyun Byung-chul, dalam suatu pernyataan.

Dia mendesak Beijing menghukum oknum-oknum agen keamanan yang terlibat dan kalau perlu mengizinkan badan internasional melakukan penyelidikan gabungan atas insiden itu.

Laporan itu disusun pasca wawancara komisi itu dengan Kim Young-hwan yang ditangkap pada 29 Maret lalu bersama tiga aktivis lain, setelah berusaha menolong para pengungsi yang melarikan diri dari Korea Utara ke China.

Setelah mereka dideportasi pada 20 Juli lalu, Kim mengatakan dia mengalami penyiksaan fisik. Media Korea Selatan mengutip pernyataannya, yang menyebutkan para agen di China berkali-kali memukul Kim, melarangnya tidur selama berhari-hari, dan menyiksanya dengan sengatan listrik.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, yang menuai kritikan publik luas karena dinilai tidak melakukan apapun untuk menyelesaikan kasus itu, telah mendorong Beijing melakukan investigasi menyeluruh terkait kasus itu. 

Namun mengatakan sejauh ini belum memperoleh jawaban.

China sekutu tunggal utama Korea Utara dan memiliki kebijakan merepatriasi para pengungsi Korea Utara yang tertangkap menyeberangi perbatasan. Beijing pada umumnya tidak mendukung upaya-upaya para aktivis seperti Kim membantu para pelarian.

Kim adalah mantan pemimpin gerakan bawah tanah partai sayap kiri yang bertemu pemimpin Korea Utara, Kim Il-sung, di Pyongyang, pada 1991. Dia kemudian berubah menjadi pengkritik keras rezim itu dan bekerja bagi kelompok hak asasi manusia yang berkantor di Seoul.

(G003/Z002)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca