Rabu, 22 Oktober 2014

Wamen ESDM: tidak ada kenaikan harga BBM

| 2.079 Views
id harga bbm, icp,
Wamen ESDM: tidak ada kenaikan harga BBM
Sejumlah pengendara sepeda motor mengisi bensin di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Kuningan, Jakarta, Jumat (12/6). Meskipun harga minyak mentah di pasar dunia merangkak naik, pemerintah menyatakan harga jual eceran untuk premium, solar, dan minyak tanah tidak mengalami perubahan dengan pertimbangan peningkatan nilai tukar rupiah. (ANTARA/PRASETYO UTOMO)
Harga BBM bersubsidi boleh naik jika ICP mencapai 120,75 dolar AS per barel. Kalau saat ini rata-rata 115 dolar AS per barel..."
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini memastikan tidak akan terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi pada tahun ini, karena rataan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam enam bulan terakhir hanya mencapai 115,11 dolar AS per barel.

"Harga BBM bersubsidi boleh naik jika ICP mencapai 120,75 dolar AS per barel. Kalau saat ini rata-rata 115 dolar AS per barel rasa-rasanya tidak mungkin 120,75 dolar AS per barel akan tercapai," ujarnya saat ditemui di Kementerian Keuangan, Kamis malam.

Menurut Rudi, ICP sebesar 120,75 dolar AS per barel bisa tercapai apabila dalam tiga atau empat bulan mendatang ICP mencapai kisaran 140 dolar AS per barel.

"Harus mendorong kira-kira 140 dolar AS per barel, sepanjang tiga-empat bulan terakhir, baru bisa menyentuh," katanya.

Selain itu, terkait pasal kenaikan harga BBM bersubsidi dengan syarat tertentu seperti yang terjadi dalam APBN-Perubahan, Rudi memastikan pemerintah tidak akan menggunakan pasal seperti itu lagi.

Ia juga memaparkan rataan per bulan ICP pada Juli 2012 mencapai 102,88 dolar AS per barel karena minyak WTI mencapai 88,06 dolar AS per barel dan minyak Brent 104,92 dolar AS per barel.

Menurut dia, rataan harga minyak (ICP) bulanan hingga akhir tahun akan berada pada kisaran 90 dolar AS hingga 100 dolar AS per barel dan melebihi asumsi yang ditetapkan dalam APBN-Perubahan sebesar 105 dolar AS per barel.

"Sekarang ICP 102 dolar AS per barel. Memang ada kenaikan sedikit (dibandingkan Juni), tapi sekarang tidak mungkin naik terus. Kemungkinan sekitar 90 dolar AS-100 dolar AS," ujar Rudi.

Namun, ia memastikan penggunaan volume BBM bersubsidi akan melebihi kuota yang ditetapkan sebesar 40 juta kiloliter karena hingga pertengahan tahun konsumsinya mencapai 21,6 juta kiloliter.

"Kalau dikalikan dua berarti 43,2 juta kiloliter. Padahal ada penambahan motor dan mobil, berarti itu pasti di atas 40 juta kiloliter," kata Rudi.

Rudi juga menghitung kemungkinan terburuk kuota volume mencapai 45 juta kiloliter yang berarti pemerintah akan menanggung beban subsidi BBM sebesar lima juta kiloliter dari angka nominal dalam APBN-Perubahan Rp137,5 triliun.

"Kalau perhitungan kita 44-45 juta artinya subsidi pun bertambah dari lima juta kiloliter. Dari situ saja sudah bertambah (kuota) apalagi dari harga," ujarnya.  (S034/B012)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga