Selasa, 2 September 2014

ANTARA-GFJA gelar pameran "Makkah Photographic Diary"

Sabtu, 4 Agustus 2012 00:20 WIB | 2.702 Views
ANTARA-GFJA gelar pameran
Pameran Foto Makkah Dirut Perum LKBN Antara Ahmad Mukhlis Yusuf (kiri) mendapat penjelasan dari pewarta foto ANTARA Saptono Soemardjo seusai peluncuran buku fotografi dan pameran foto "Makkah, Photographic Diary" karya Saptono S dan Prasetyo Utomo di Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA) Jakarta, Jumat (3/8). (ANTARA/R Sukendi)
Jakarta (ANTARA News) - Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA) bekerja sama dengan Divisi Mandiri Pemberitaan Foto Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA menggelar pameran dan peluncuran buku kumpulan foto yang membingkai perjalanan dua wartawan foto saat meliput ibadah haji.

Pameran yang memajang foto-foto karya Saptono Soemardjo dan Prasetyo Utomo ini dibuka oleh Direktur Perum LKBN ANTARA, Ahmad Mukhlis Yusuf  yang dirangkai dengan peluncuran buku berjudul "MAKKAH Photographic Diary".

Buku tersebut merupakan buku ketiga dari trilogi Makkah karya pewarta foto ANTARA.

Dua buku sebelumnya adalah "MAKKAH Final Destination" karya Zarqoni Maksum dan "The Other Story of MAKKAH" karya Maha Eka Swasta.

Oscar Motulloh, kurator GFJA yang menjadi editor ketiga buku tersebut mengatakan masing-masing buku itu memiliki konsep dan kisah yang berbeda.

"Buku ketiga ini merupakan catatan harian visual Saptono dan Pras ketika ditugaskan meliput haji. Jadi buku ini lebih personal," katanya.

Dia mengatakan bukan sebuah kebetulan bila peluncuran dan pelaksanaan pameran dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Berbeda dengan buku krtiga itu, dua buku sebelumnya diluncurkan menjelang musim haji.

"Buku ini diluncurkan juga untuk menyambut peringatan kemerdekaan Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan saat Ramadhan dan juga juga di hari Jumat," katanya.

Seri ketiga trilogi Makkah "Photografic Diary" tersebut berisi 144 foto yang berkisah kehidupan sehari-hari masyarakat Mekah, Arab Saudi, dari sudut pandang Saptono dan Prasetyo.

"Tidak ada duka dalam pembuatan buku ini, baik ketika saya berada di Mekah maupun saat produksinya," kata Saptono.
Bagi Saptono yang naik haji pada 2010, pengerjaan buku tersebut merupakan perjalanan rohani yang sangat berharga.

"Di sana saya bekerja, berdoa dan beribadah. Ternyata semua berjalan beriringan,"katanya.

Sementara itu, Prasetyo bersyukur bisa naik haji gratis dan diberi kesempatan untuk membuat seri ketiga trilogi Makkah.

"Saat saya naik haji (2011) orang tua saya juga sedang naik haji, jadi bisa bertemu di sana," katanya.

Sama halnya dengan Saptono, Pras juga menganggap pengerjaan buku foto Makkah Photographic Diary adalah perjalanan rohani yang berkesan sepanjang hidup.

"Saya adalah salah satu orang beruntung yang bisa bekerja sekaligus beribadah," katanya.
(SDP49/A060

Editor: Desy Saputra

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca