Rabu, 30 Juli 2014

Isu Rohingya jangan ganggu umat beragama

Minggu, 5 Agustus 2012 02:48 WIB | 8.623 Views
Isu Rohingya jangan ganggu umat beragama
Sejumlah warga etnis Rohingya yang mengungsi dari Myanmar duduk di sebuah perahu saat mereka mencoba mencapai Bangladesh di Teknaf, Rabu (13/6). "UNHCR telah meminta Bangladesh tetap membuka perbatasan bagi para pengungsi karena meningkatnya tingkat kekerasan di di Negara Bagian Rakhine, Myanmar," kata juru bicara PBB, Martin Nesirky, kepada para wartawan, Selasa lalu. (REUTERS/Andrew Biraj)
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Agama, Suryadharma Ali, menyatakan, isu etnis Rohingya, yang belakangan ini dirasakan makin krusial, diharapkan tidak berdampak buruk kepada hubungan umat beragama di Tanah Air.

Kejadian yang menimpa umat Islam etnis Rohingya di Myanmar telah banyak makan korban. "Tapi hendaknya hal itu tidak membangkitkan kebencian antara umat beragama," kata Ali, yang disampaikan di luar teks pidatonya.

Dia menyatakan itu saat penandatanganan prasasti peningkatan status vihara Ekayana menjadi vihara Ekayana Arama Indonesia Buddhist Center, di Jakarta, Sabtu malam.

Hadir pada acara itu Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama, Joko Wuryana, pimpinan Wihara Ekayana Buddhist Center, YA Maha Sthawira Aryamaitri ,dan sejumlah tokoh agama Buddha.

"Saya harapkan kejadian di Myanmar yang menimpa etnis Rohingya tidak merembet ke Indonesia," katanya, yang disambut tepuk tangan hadirin.

Sementara itu biksu Dharmavimala yang ditemu secara terpisah mengatakan, pernyataan Ali itu merupakan pesan yang harus diindahkan. 

Ia pun sepakat bahwa kekerasan di Myanmar atas suku Rohingya tidak bisa didiamkan. Dari sisi kemanusiaan, pertumpahan darah di Myanmar harus dihentikan. "Kita semua berharap, semua pihak dapat memberi kontribusi untuk mencegah kekerasan yang menimpa suku Rohingya," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Myanmar, Thein Sein, mengatakan kepada PBB, hanya ada dua solusi untuk sekitar suku Rohingya di negaranya: tinggal di kamp pengungsi atau dideportasi.

"Kami akan mengambil tanggung jawab atas suku-suku etnik kami, tapi tidak mungkin menerima orang-orang Rohingya yang masuk secara ilegal, yang bukan termasuk etnik Myanmar," katanya kepada Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi, Antonio Guterres. (*)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca