Sabtu, 20 Desember 2014

Nelayan Bangka Selatan sulit dapatkan BBM

| 938 Views
id nelayan, nelayan tradisional, bangka selatan, bael, sulit dapat solar, BBM, maraknya pengerit,
Nelayan Bangka Selatan sulit dapatkan BBM
Ilustrasi. Nelayan tradisional. (Foto.ANTARA/Ampelsa)
Saat ini, stok BBM di SPBN sering kosong, sehingga kami terpaksa membeli BBM eceran dengan harga tinggi, sehingga biaya melaut semakin tinggi, sementara hasil tangkapan ikan berkurang karena cuaca yang tidak menentu,"
Toboali, Bangka Selatan (ANTARA News) - Nelayan tradisional di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung (Babel), kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar karena stok BBM di SPBN kurang memadai.

"Selama bulan puasa Ramadan ini, stok di Stasiun Pengisian BBM Nelayan (SPBN) kurang, seiring maraknya pengerit BBM jenis solar untuk penambangan bijih timah," ujar Suyitno, salah seorang nelayan di Toboali, Minggu.

Ia menjelaskan, saat ini, BBM untuk mengoperasionalkan kapal tidak mencukupi sehingga hasil tangkapan nelayan kurang karena nelayan tidak bisa melaut lebih jauh ke tengah laut.

"Saat ini, stok BBM di SPBN sering kosong, sehingga kami terpaksa membeli BBM eceran dengan harga tinggi, sehingga biaya melaut semakin tinggi, sementara hasil tangkapan ikan berkurang karena cuaca yang tidak menentu," ujarnya.

Ia mengatakan, kebutuhan solar untuk kapal berkapasitas 5 GT sebanyak 40 liter untuk melaut selama lima hari, namun karena ketersediaan BBM di SPBN terbatas, nelayan terpaksa membeli solar eceran sebanyak 20 liter dan terkadang tidak mendapatkan BBM untuk melaut karena permintaan solar ini cukup tinggi.

"Saat ini, pedagang solar eceran lebih mengutama permintaan dari penambang timah karena penambang lebih berani membayar solar lebih tinggi," ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Selatan, kebutuhan BBM untuk kapal nelayan mencapai dua ton per hari untuk kebutuhan 2.575 unit kapal yang tersebar di Kecamatan Toboali, Lepar Pongok, Tukak Sadai, Pulau Besar, Simpang Rimba, sementara penduduk di dua Kecamatan Payung dan Air Gegas tidak ada yang berprofesi nelayan.

Dari 2.575 unit kapal nelayan tersebut, jumlah perahu tanpa motor sebanyak 420 unit, perahu motor tempel sebanyak 151 unit, kapal nelayan berkapasitas 5 GT hingga 10 GT sebanyak 1.891 unit, kapal berkapasitas 10 hingga 20 GT sebanyak 15 unit.

Menurut dia, BBM di SPBN mulai sulit didapatkan semenjak harga bijih timah kembali naik, sehingga para pengerit, penambang dan pemilik mesin tambang timah berlomba-lomba membeli BBM dalam jumlah besar untuk mengoperasikan mesin tambangnya.

Untuk itu, kata dia, kami mengharapkan instansi terkait, Pertamina dan aparat kepolisian meningkatkan pengawasan penyaluran BBM di SPBN dan menindak tegas oknum petugas SPBN yang menjual BBM kepada para pengerit.

"Kami berharap penyaluran BBM ini diperketat dan menindak tegas para penimbunan BBM, berdasarkan kententuan yang berlaku, misalnya penyaluran BBM di SPBN diperuntukan untuk nelayan, SPBU untuk masyarakat umum dan BBM industri untuk perusahaan atau usaha lainnya," ujarnya.

Sementara itu, Danan, salah seorang nelayan Toboali mengatakan, banyak nelayan yang tidak bisa melaut karena tidak mendapatkan solar untuk mengoperasikan kapal tangkap ikan.

"Saat ini untuk mendapatkan 20 liter solar untuk melaut sangat sulit dan harus antri berjam-jam karena mobil pengerit BBM cukup banyak, sehingga ketersediaan BBM tidak lagi mencukupi untuk kebutuhan melaut.

"Apabila BBM di SPBN habis, kami terpaksa membeli BBM eceran yang harga mencapai Rp8.000 hingga Rp10 ribu per liter," ujarnya.

(KR-ARS/I013)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga