Rabu, 1 Oktober 2014

Olahraga Indonesia saatnya berbenah

Senin, 6 Agustus 2012 03:15 WIB | 4.716 Views
Olahraga Indonesia saatnya berbenah
Rita Subowo (ANTARA)
Kami mohon maaf...
London (ANTARA News) - Begitu Triyaningsing mencapai garis finish, berakhir pula perjuangan kontingen Indonesia di Olimpiade London yang berlangsung sejak 27 Juli lalu.

Catatan waktu dua jam, 41 menit 15 detik yang diraih pelari maraton tersebut menjadi raihan terakhir dari kontingen yang diperkuat 22 atlet dari delapan cabang olahraga.

Perjuangan selama 10 hari tersebut membuahkan dua medali, satu perak dan satu perunggu yang diperolah Triyatno (perak) dan Eko Yuli Irawan (perunggu) dari cabang angkat besi.

Hasil tersebut menurun dari hasil empat tahun lalu di Olimpiade Beijing ketika Indonesia berhasil meraih lima medali serta mempertahankan tradisi medali emas, dengan total satu emas, satu perak dan tiga perunggu.

Satu emas (Markis Kido-Hendra Setiawan), satu perak (Nova Widianto-Liliyana Natsir) dan satu perunggu (Maria Kristin) semuanya dari cabang bulu tangkis.

Dua perunggu lainnya disumbangkan oleh Triyatno dan Eko Yuli Irawan dari cabang angkat besi.

"Kita kehilangan tiga medali dari sebelumnya," kata Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo.

"Kami mohon maaf kepada masyarakat Indonesia karena hasil di Olimpiade 2012 di London sangat mengecewakan," kata Rita tidak lama setelah cabang bulu tangkis gagal mempertahankan tradisi emas.

Rita mengatakan akan segera mengevaluasi dan selanjutnya Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada dua cabang saja, bulu tangkis dan angkat besi.


Angkat Besi

Dari hasil yang diperoleh seluruh atlet Indonesia relatif hanya angkat besi dan panahan yang mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding Olimpiade sebelumnya.

Triyatno yang di Beijing meraih perunggu, meningkat menjadi perak di London, begitu juga Ika Yuliana Rochmawati yang di Beijing langsung tersingkir, di London ia mencapai babak 16 besar.

Selebihnya, cabang-cabang yang tersisa gagal mencapai prestasi yang ditargetkan.

Bulu tangkis adalah cabang yang paling menurun jika tidak bisa dibilang terjun bebas. Dari tiga medali (masing-masing satu emas, perak dan perunggu) yang diraih di Beijing empat tahun lalu, di London bulu tangkis tidak memperoleh satu medali pun.

Kegagalan tersebut tidak hanya menyudahi tradisi emas di Olimpiade yang terpelihara sejak 20 tahun lalu, juga menunjukkan kegagalan fatal cabang tersebut yang sejak dipertandingkan pertama kali di Olimpiade Barcelona 1992 selalu mendapat medali.

Cabang renang yang diwakili I Gede Siman Sudartawa gagal mencapai angka di bawah 55 detik yang ditargetkan untuk nomor 100m gaya punggung. Peraih empat medali emas SEA Games itu hanya mencatat waktu 55,99 detik.

Atlet menembak Diaz Kusumawardhani, Diah Permatasari (anggar) dan I Putu Wiradamungga Adesta (judo) juga tidak membuahkan hasil yang baik.

Hasil tembakan Diaz membuahkan 382 poin, lebih buruk dari catatan terbaiknya 388 poin, Diah begitu pula Putu tersingkir di babak penyisihan.

Adapun dari atletik, meskipun Triyaningsih tidak mencapai target menembus 10 besar, ia mampu memperbaiki catatan waktu yang dihasilkannya pada SEA Games 2011, 2:45:35.

Sementara Fernando Lumain yang turun di nomor 100m putra, berhasil lolos ke babak pertama setelah membukukan waktu 10,80 detik pada penyisihan.

Namun ia gagal ke semifinal setelah mencatat waktu lebih buruh 10,90 detik.


Diperbaiki

Melihat hasil tersebut, Chef de Mission kontingen Indonesia Erick Thohir mengatakan ada empat hal yang harus diperbaiki.

Pertama, harus diperjelas fungsi dari pada stakeholder olahraga di Indonesia, seperti KOI, Satlak Mempora, dan PB. "Rumuskan fungsi masing-masing," katanya.

Yang kedua, pemerintah harus menentukan prioritas cabang untuk ajang multi event. "Misalnya untuk Olimpiade ada cabang seperti bulutangkis, angkat besi dan panahan. Asian Games 15 cabang," katanya.

Ketiga, kata Erick, masalah dana harus dibenahi.

"Bisa bebeda setiap cabang. Contohnya bulutangkis yang sudah mendapat sponsor, hanya mendapat 75 persen bantuan dari pemerintah. Berbeda dengan angkat besi," katanya.

Sementara yang keempat, harus memperbaiki fasilitas olahraga. (F005)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga