Jumat, 31 Oktober 2014

Presiden Afghanistan setujui pemecatan dua menteri

| 4.795 Views
id hamid karzai, pemecatan dua menteri, gerilyawan taliban
Presiden Afghanistan setujui pemecatan dua menteri
Presiden Afghanistan Hamid Karzai (REUTERS )
Kabul (ANTARA News) - Presiden Afghanistan Hamid Karzai hari Minggu menyetujui keputusan parlemen memecat dua menteri keamanannya namun meminta mereka tetap bertugas untuk sementara sampai ada pengganti mereka.

Parlemen menyampaikan mosi tidak percaya terhadap Menteri Pertahanan Abdul Rahim Wardak dan Menteri Dalam Negeri Bismillah Mohammadi pada Sabtu, di tengah ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan dan meningkatnya serangan-serangan ketika NATO bersiap-siap menarik pasukan, lapor AFP.

Anggota-anggota parlemen Afghanistan menganggap para menteri itu gagal dalam menangani serangan-serangan bom dan penembakan lintas-batas yang dituduhkan pada Pakistan dan permasalahan keamanan lain di sebuah negara yang menghadapi kekerasan kelompok Taliban.

Pada pertemuan Dewan Keamanan Nasional, Minggu, Karzai "berterima kasih atas pekerjaan berat dan pengabdian mereka" dan meminta mereka tetap bertugas sampai ada pengganti mereka, kata kantor presiden dalam sebuah pernyataan.

"Pemerintah tidak hanya akan memberi mereka medali kehormatan kenegaraan tertinggi namun juga meminta mereka melanjutkan tugas sebagai orang berpengalaman dan berdedikasi untuk melayani bangsa dan negara mereka dalam kapasitas lain di jajaran pemerintahan," kata pernyataan itu.

Pemecatan kedua menteri keamanan itu oleh parlemen, khususnya Wardak yang memiliki dukungan kuat di kalangan sekutu Barat, dilakukan pada masa kritis pemerintah Karzai.

Serangan-serangan gerilya di Afghanistan naik 11 persen dalam tiga bulan terakhir dibanding dengan periode yang sama tahun lalu, demikian data terakhir yang dikeluarkan koalisi internasional pimpinan NATO pada 27 Juli.

Juni merupakan bulan terparah dalam waktu hampir dua tahun, dengan lebih dari 3.000 serangan, termasuk bentrokan dan ledakan bom rakitan, kata Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF).

Kenaikan serangan itu terjadi ketika koalisi bersiap-siap menarik pasukan setelah perang lebih dari 10 tahun di Afghanistan dan akan mengakhiri misi tempur pada akhir 2014.

Presiden Hamid Karzai dan negara-negara Barat pendukungnya telah sepakat bahwa semua pasukan tempur asing akan kembali ke negara mereka pada akhir 2014, namun Barat berjanji memberikan dukungan yang berlanjut setelah masa itu dalam bentuk dana dan pelatihan bagi pasukan keamanan Afghanistan.

Pada Oktober, Taliban berjanji akan berperang sampai semua pasukan asing meninggalkan Afghanistan.

Gerilyawan meningkatkan serangan terhadap aparat keamanan dan juga pembunuhan terhadap politikus, termasuk yang menewaskan Ahmed Wali Karzai, adik Presiden Hamid Karzai, di Kandahar pada Juli dan utusan perdamaian Burhanuddin Rabbani di Kabul bulan September.

Konflik meningkat di Afghanistan dengan jumlah kematian sipil dan militer mencapai tingkat tertinggi tahun lalu ketika kekerasan yang dikobarkan Taliban meluas dari wilayah tradisional di selatan dan timur ke daerah-daerah barat dan utara yang dulu stabil.

Jumlah warga sipil yang tewas meningkat secara tetap dalam lima tahun terakhir, dan pada 2011 jumlah kematian sipil mencapai 3.021, menurut data PBB.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaida Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara berada di Afghanistan untuk membantu pemerintah Kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer. (M014)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga