Senin, 20 Oktober 2014

Diversifikasi pangan jangan hanya sekedar ujicoba

| 3.893 Views
id presiden susilo bambang yudhoyono, diversifikasi pangan
Diversifikasi pangan jangan hanya sekedar ujicoba
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) - Program diversifikasi pangan yang dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras harus terus dilakukan dan bisa diaplikasikan untuk dikonsumsi secara massal sehingga tidak hanya berhenti pada ujicoba atau penelitian di laboratorium semata-mata.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan pers usai rapat koordinasi ketahanan pangan dan pertanian di Kementerian Pertanian, Senin petang mengatakan, pengembangan makanan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras sudah lama dilakukan namun lebih banyak dalam bentuk pameran atau ujicoba.

"Ini otokritik, sering dalam pengembangan dan penelitian hasilnya bagus, misalnya mie instan tidak hanya (terbuat dari-red) tepung, tapi sekali lagi belum masuk mainstream industri pangan akibatnya belum bisa masuk ke industri pangan, jadi harus kita bereskan (hal itu-red)," kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan, seiring dengan perubahan iklim dan juga peningkatan jumlah penduduk, sejumlah organisasi internasional di bidang pangan telah memperingatkan kemungkinan fluktuasi dan kenaikan harga pangan dunia.

Menurut Presiden, peringatan tersebut harus diperhatikan sehingga semua pihak bekerjasama untuk memastikan ketahanan pangan nasional khususnya kemampuan untuk memproduksi sendiri pangan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Belajar dari pengalaman kenaikan harga pangan empat hingga tiga tahun lalu, maka pemerintah menargetkan lima komoditas yang harus mampu diproduksi di dalam negeri dengan keseimbangan antara permintaan dan persediaan, masing-masing beras, jagung, gula, daging dan kedelai.

"Untuk meningkatkan surplus beras secara nasional diperlukan lahan yang cukup dan areal baru, sehingga bisa kita capai sasaran per tahun," tegasnya.

Kepala Negara mengatakan target pemerintah jelas, supaya aman, mengingat kebutuhan konsumsi beras tinggi, maka secara nasional harus mempunyai surplus beras 10 juta ton untuk jangka menengah yang sejauh mungkin bisa di capai 2014.

Persoalan di lahan, lanjutnya, BPN, sekian tahun lalu sampaikan ada 7,2 juta hektar tanah terlantar setelah didalami dan dicek, 4,8 juta, tetapi sebagian besar HGU dan tidak digunakan.

"Oleh karena itu dengan tujuan baik BPN tanyakan dan bisa digunakan untuk pertanian, untuk meningkatkan produksi, harus tambah lahan, menambahnya dari sumber yang ada. Kepala BPN laporkan dari itu semua dirintis pembebasan untuk kepentingan pertanian kita, banyak HGU yang perkarakan hukum," katanya.

Ditambahkannya,dari Kementerian Kehutanan, ada langkah konkrit dan riil menambah areal pertanian, misalkan di Kalbar, Kalteng dan Kaltim ada 300.000 hektar yang bisa digunakan, Maluku ada 300.000 hektar di Papua ada 500.000 hektar, artinya yang itupun 1,1 juta hektar dengan proses berjalan bisa tambah areal.

"Ada yang sudah ada dan infrastruktur yang harus dibangun dulu, ini pekerjaan besar yang harus dilakuakn tahun-tahun ke depan," kata Presiden.

Presiden menambahkan,"kita menuju ke kemandirian, kalau pangan meski kita bisa beli, saya punya doktrin, kalau pangan sebaiknya kita mandiri, lima komoditas yang harus kita kejar. Bahwa masih ada impor ya, karena bagaimanapun dari 800.000 ton ke 2,5 juta ton kedelai perlu waktu. Saya ingin menjadi pekerjaan bersama dengan pemerintah daerah, implementasi kebijakan ketahanan pangan dan untuk capai sasaran khusus tadi di bidang kedelai dan daging sapi."

Kepala Negara meminta semua pihak untuk secara serius menyelesaikan semua permasalahan yang ada baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sehingga pengembangan ketahanan pangan bisa terwujud sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

(P008*S025)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga