Kamis, 18 Desember 2014

Mo Farah contoh sukses imigran Inggris di Olimpiade

| 7.874 Views
id mo farah, imigran inggris, olimpiade london 2012, jessica farah
London (ANTARA News) - Atlet pendatang diakuinya telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi olahraga khususnya pada Olimpiade London 2012  yang tengah berlangsung di Straford London dari tanggal 27 Juli hingga 12 Agustus mendatang.

Sebut saja bintang Olimpiade seperti Mo Farah, atlet yang berhasil mempersembahkan medali emas untuk Inggris Raya akhir pekan atau Jessica Ennis yang salah satu orangtuanya asal Jamaika.

Kolumnis Ian Birrell dari The Evening Standard menulis bagaimana pemenang Tim GB di Olimpiade mendapatkan manfaat dari imigrasi seperti Mo Farah dan Jessica Ennis dan banyak lainnya.

Kolumnis Ian Birrell dalam tulisannya menceritakan tentang perubahan yang terjadi di negara Inggris Raya, terutama perubahan mengenai sikap para penduduknya.

"Mo Farah telah mengirimkan pesan harapan bagi semua migrant," demikian judul opini yang ditulis Ian Birrell.

Sejak zaman dulu, Inggris Raya cenderung merasa lebih superior daripada negara-negara yang menjadi koloninya.

Sekarang, putra-putri dari negara bekas jajahan Inggris Raya tersebut banyak yang sudah bermigrasi ke Inggris, berkeluarga di Inggris, menjadi warga negara Inggris, bahkan mempersembahkan medali emas Olimpiade untuk Inggris.

Salah satunya yang menjadi sorotan adalah Mo Farah yang mempersembahkan medali emas untuk Inggris Raya di cabang atletik.

Mo Farah yang beragama Islam dan berasal dari Somalia ini disebut-sebut sebagai contoh keberhasilan para pendatang yang ada di Inggris.

Artikel ini juga menyoroti bagaimana penduduk Inggris yang awalnya berstatus pendatang lebih mencintai Inggris Raya sendiri, daripada orang kulit putih.

Contohnya saja ketika Mo Farah ditanyakan perihal keinginannya untuk membela Somalia, negara asal usulnya. Dia menolak dan menyatakan bahwa Inggris Raya adalah negara yang ingin dia bela sekarang.

Fakta menyebutkan satu dari delapan anak yang lahir di Inggris Raya memiliki darah campuran dari para pendatang, atau bukan orang kulit putih asli, menunjukkan bahwa peranan masyarakat pendatang di Inggris Raya dan di London khususnya lebih besar.

Di akhir tulisannya, penulis mengajak pembaca untuk lebih menghargai para pendatang yang tinggal di Inggris, karena para pendatang tersebut sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam mendukung negara Inggris, seperti berhasil menyumbang medali pada Olimpiade.

Hargai pendatang

Seperti yang disampaikan Aliendheasja Fawilia, yang tengah menyelesaikan MA Tourism, Environment and Development di King's College London kepada ANTARA London, Selasa mengakui Inggris Raya adalah negara yang sudah sangat menghargai pendatang.

Isu-isu SARA dan diskriminasi etnis sudah sangat tabu untuk diangkat disini, ujar Alen lulusan Institut Teknologi Bandung, angkatan 2010 di bidang Environmental Engineering Bandung, Indonesia.

Penduduk negara ini seperti bahu-membahu untuk membuat para pendatang merasa dihargai di negara ini, ujar Alen demikian Aliendheasja Fawilia biasa disapa rekannya.

Menurut Alen yang pernah bekerja di The Jakarta Post, sering artikel semacam itu muncul di surat kabar. Ajakan untuk lebih menghargai pendatang muncul terus-menerus, sehingga pendatang yang sudah lama tinggal di Inggris pun merasa mendapatkan sambutan yang ramah, demikian Alen yang pernah bekerja di PT. Pertamina (Persero) RU V Balikpapan.

(ZG)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga