Jakarta (ANTARA News) - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia memberi "penghargaan" kepada DPR dan Kepolisian Indonesia sebagai Musuh Kebebasan Pers 2012, dalam malam resepsi ulang tahun ke-18 organisasi pers itu, di Galeri Nasional, Jakarta, Selasa.

Kepala Divisi Advokasi AJI, Aryo Wisanggeni, mengatakan, kedua lembaga negara itu dikategorikan Musuh Kebebasan Pers 2012 karena membiarkan kekerasan terhadap jurnalis dan memunculkan peraturan perundangan mengekang pers Indonesia.

"Pengesahan UU Kerahasiaan Negara yang memperluas kategori rahasia negara membuat jurnalis tidak bisa leluasa. Jurnalis berpotensi dipenjara karena undang-undang itu," kata Wisanggeni.

Sedangkan Kepolisian Indonesia dikategorikan demikian karena dinilai membiarkan kasus kekerasan yang dialami pers. Salah satu kasus kekerasan pers yang hingga kini belum selesei adalah pembunuhan wartawan Bernas, Fuad M Syafruddin (Udin), yang akan kadaluarsa pada 16 Agustus 2014.

Wisanggeni mengatakan, pembiaran itu terus terjadi dan diperkirakan akan terus terjadi. Pada periode Agustus 2011 hingga Juli 2012 saja, AJI mencatat terdapat 45 kasus kekerasan yang dialami jurnalis.

"Setiap tahun angkanya selalu tinggi, yaitu di atas 40 kasus," katanya.

AJI mulai memberi "penghargaan" musuh kebebasan pers sejak 1999. Penerima "penghargaan" itu adalah kelompok atau pihak yang melakukan kekerasan atau ancaman kebebasan pers yang acuannya kasus-kasus kekerasan yang dimonitor AJI.

Anggota polisi dan Kepolisian Indonesia sebagai lembaga merupakan pihak yang paling sering menerima Penghargaan Musuh Kebebasan Pers itu. Sedangkan DPR baru tahun ini dikategorikan sebagai musuh kebebasan pers.

(SDP-49/Z003)