Kamis, 21 Agustus 2014

Presiden Bashar berikrar tumpas pemberontakan Suriah

Selasa, 7 Agustus 2012 23:44 WIB | 5.242 Views
Presiden Bashar berikrar tumpas pemberontakan Suriah
Presiden Suriah Bashar al-Assad bertemu dengan Jenderal Fahad Jassim al-Freij (kanan) usai diambil sumpahnya sebagai Menteri Pertahanan di Damaskus, dalam foto handout yang diberikan Lembaga Berita Suriah (SANA), Kamis (19/7). TV pemerintah Suriah menyatakan bahwa al-Freij mengambil sumpah jabatan di hadapan al-Assad yang tidak lagi muncul di hadapan publik sejak serangan bom yang menewaskan tiga pejabat tinggi keamanan dalam pemerintahannya. (REUTERS/SANA/Handout)
Damaskus (ANTARA News) - Presiden Suriah Bashar al-Assad Selasa berikrar akan menumpas pemberontakan 17 bulan terhadapnya dan membersihkan negara itu dari "pembangkang-pembangkang", sementara pasukannya terlibat pertempuran melawan pemberontak di kota Aleppo.

"Rakyat Suriah dan pemerintah mereka berikrar akan membersihkan negara dari pembangkang-pembangkang dan menggempur mereka tanpa henti," katanya yang dikutip kantor berita SANA kepada utusan senior Iran Saeed Jalili, lapor AFP.

Bashar sebelumnya muncul di televisi untuk pertama kali dalam lebih dari dua minggu dalam pertemuanya dengan Jalili.

Teheran, yang mengecam dukungan Amerika Serikat, Turki, Arab Saudi dan Qatar kepada pemberontak, juga mengirim menteri luar negeriya ke Ankara dan dalam sepucuk surat kepada Washington menyatakan AS bertanggung jawab atas nasib 48 warga Iran yang diculik di Suriah.

Gambar terbaru Bashar ditayangkan ketika ia menerima panglima angkatan bersenjata baru Suriah Jenderal Ali Ayyub 22 Juli empat hari setelah satu ledakan bom yang diklaim pemberontak Tentara Pembebasan Suriah membunuh empat komandan penting keamanan.

Media pemerintah Iran mengutip pernyataan Jalili yang mengatakan Teheran "yakin dialog nasional antara semua kelompok demokratis merupakan satu solusi, dan yakin solusi-solusi dari negara-negara asing tidak bermanfaat."

Di Beirut Senin, Jalili mengeluarkan satu peringatan kepada negara-negara yang mendukung pemberontak.

"Mereka yang percaya bahwa dengan mengembangkan kekacauan di negara-negara kawasan itu dengan mengirim senjata-senjata dan mengekspor terorisme, mereka membeli keamanan bagi diri mereka sendiri itu adalah salah," katanya kepada Menlu Lebanon Adnan Mansour, yang dikutip kantor berita Iran IRNA.

Setelah perundingan di Damaskus, Jalili mengemukakan kepada stasiun televisi Al-Alam Iran bahwa Teheran akan menggunakan "segala cara yang mungkin" untuk menjamin pembebasan 48 warganya yang diculik pemberontak di Suriah.

Ia mengatakan bahwa tidak hanya penculik tetapi juga pemerintah-pemerintah asing yang mendukung pemberontakan memerangi pasukan Bashar.

"Kami yakin tidak hanya para teroris tetapi para pendukung mereka bertanggung jawab atas tidak kejahatan ini," kata Jalili.

Di ibu kota bisnis Aleppo, bentrokan senjata terjadi di berapa daerah kota itu Selasa pagi, sementara tentara juga menembaki daerah-daerah yang dikuasai pemberontak di timur, kata Observatorium bagi Hak Asasi Manusia Suriah.

Pertempuran di Aleppo menewaskan setidaknya tujuh orang, kata Observatorium yang bermarkas di Inggris itu dan menambahkan jumlah korban di seluruh negara itu 51 orang

Setidaknya 265 orang tewas Senin, 182 orang dari mereka warga sipil, dalam salah satu dari hari-hari paling berdarah pemberontakan itu, kata Observatorium itu. Dari jumlah itu 57 orang terjadi di Aleppo.

Aleppo diancam satu serangan darat besar-besaran oleh tentara pemerintah terhadap pemberontak, yang mengaku mereka mengusai separuh dari kota itu.

Seorang pejabat senior keamanan, Ahad mengatakan tentara telah menyelesaikan pengerahan sekitar 20.000 tentara yang siap untuk satu serangan menentukan dalam pertempuran yang berlangsung sejak 20 Juli.

Sementara itu misi pemantau PBB di Suriah, Letjen Babacar Gaye, menyatakan kecemasannya atas warga sipil yang terperangkap di kota berpenduduk 2,7 juta jiwa itu.

"Saya mendesak semua pihak melindungi warga sipil dan menghormati kewajiban mereka berdasarkan hukum kemanusian internasional," kata Gaye Senin. "Para warga sipil tidak boleh dijadikan sasaran penembakan dan penggunaan senjata berat."

Missi PBB menarik tim berkuatan 20 orang dari Aleppo akhir pekan lalu sehubungan aksi kekerasan yang memburuk, kata seorang juru bicara PBB. (RN/Z002)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga