London (ANTARA News) - Di sebuah sudut lain London, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk Olympic Park, ratusan atlet bisa mendapatkan hiburan alternatif di Kampung Atlet.

Ratusan atlet dari berbagai negara yang sedang berkompetisi pada Olimpiade 2012, di London, seperti China, Jepang, dan Afrika Selatan ini tak terlalu suka dengan akomodasi yang disediakan gratis di taman Stratford, timur London. Sebaliknya, mereka lebih suka bersantai di sebuah kampus universitas yang teduh, berjarak satu jam perjalanan, yang mereka anggap memiliki suasana yang lebih tenang.

Adalah kampus St. Mary University yang terletak di Twickenham, barat London. Tempat ini juga merupakan markas bayangan tim rugbi nasional Inggris.

Di sana, para atlet bisa makan di restoran, dan bukan di kantin, berjalan kaki menuju tempat latihan atletik, bukan naik bis, dan tentu saja bisa menikmati suasana teduh dan lebih nyaman, khas suasana di daerah pinggiran kota.

"Terlalu ramai di Olympic Park," aku Hezekiel Sepeng, pelatih skuat atletik Afrika Selatan.

"Ya Anda bisa melihat banyak media massa, jurnalis, mereka menginginkan wawancara. Dan Anda harus naik bis ke mana-mana," tambah peraih medali perak lari nomor 800 meter pada Olimpiade 1996 di Atlanta.

"Di Olympic Park, semuanya sudah diatur. Tapi di sini, di St. Mary, semuanya kami yang atur," lanjut Sepeng, seperti dikutip dari AFP.

Oscar Pistorius, pelari putra Afrika Selatan, yang menjadi atlet cacat (kedua kakinya diamputasi dan bertanding memakai kaki palsu) pertama yang diizinkan berkompetisi pada olimpiade, juga melakukan latihan di tempat ini, pada Juli, sebelum bertanding pada nomor 400 meter. Sayang, perjuangannya harus berakhir pada semi final, Minggu.

Penampilannya di depan 80 ribu penonton telah menjadi buah bibir di seluruh dunia, namun di luat trek, atlet berusia 25 tahun ini merupakan pria pendiam yang akhirnya menemukan ketenangan seperti di rumah ketika ia berada di Twickenham.

"Kami memang menginginkan atlet kami ada dalam atmosfer yang tenang. Anda harus berpikir tentang diri Anda. Ini sangat penting sebelum kompetisi," lanjut Sepeng.

St. Mary memiliki sebuah klinik dan lab di tempat tinggi yang mampu membantu para atlet untuk berhatih dengan kondisi di ketinggian.

Tempat ini juga biasa digunakan untuk para atlet seperti saat tim rugbi Selandia Baru sering tinggal di tempat ini ketika mereka melakukan tur ke Inggris. Ditambah lagi, makanan di tempat ini sesuai dengan selera para atlet.

"Para atlet Jepan dan China bahkan datang membawa masakan mereka sendiri," ungkap Dick Fisher, pengelola Kampung Atlet ini.

Kontingen Jepang kini menempati kafe Dolce Vita sementara kontingen China kini menggunakan ruangan konferensi Shannon Suite untuk tempat makan pribadi mereka.

Suasananya berbda jauh dengan Perkampungan Atlet yang ada di Olympic Park, di mana kantin bisa menampung lima ribu atlet bersamaan, dan ada McDonald yang memberi burger gratis, kentang goreng gratis, dan milkshake.

Kontingen China dan Jepang juga telah meminta pihak universitas untuk membelikan lima sepeda, yang nantinya akan mereka hibahkan untuk para mahasiswa ketika olimpiade usai.

"Kami merasa seperti di rumah," aku Liang Songli, pelatih maraton putri China.

Di Olympic Park, sekitar 10.500 atlet berbagi kamar. Sementara di St. Mary masing-masing atlet bisa memiliki kamar dan kamar mandi sendiri.

"Mereka juga tak akan terganggu suara orang lain yang mendengkur," pungkas juru bicara universitas, Marina Boor tersenyum.
(feb)