Jakarta (ANTARA News) - Krisis global yang melanda Amerika Serikat dan Eropa tidak membuat pasar industri kreatif Indonesia semakin menurun, karena pelaku usaha memaksimalkan potensi pasar dalam negeri.

"Industri kreatif di dalam negeri terbukti tahan terhadap krisis dan tidak tergantung pada pembiayaan yang bersumber pada luar negeri. Selain itu, industri kreatif memiliki target pasar nasional yang besar dengan potensi jumlah penduduk Indonesia," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah pada acara pameran Indonesia Fashion dan Craft 2012 di Jakarta, Rabu.

Selama ini, menurut Euis, industri kreatif menyerap 54,3 persen tenaga kerja dan harus ditopang dengan perkuatan pilar ekonomi kreatif.

"Industri harus ditopang dengan sumber daya insani seperti sumber daya kreatif yang berkualitas dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia serta peningkatan efisiensi dan produktivitas dalam upaya untuk meningkatkan keunggulan komparatif," paparnya.

Pemerintah, lanjut Euis, akan mengupayakan pemberian insentif fiskal dan non fiskal, selain juga pengupayan kemudahaan memperoleh bahan baku bagi industri kreatif. Saat ini, banyak pelaku industri kreatif, seperti kerajinan, kesulitan bahan baku, bahkan untuk mewujudkan terminal bahan baku pun masih sulit.

"Untuk insentif fiskal dan non fiskal lebih berbentuk bimbingan Hak Kekayaan Intelektual, pelatihan, dan sarana pameran gratis. Pemerintah juga tengah mengupayakan pembebasan pajak bahan baku, namun pembebasan pajak masih sulit karena yang dapat biasanya perusahaan yang besar-besar," tuturnya.

Euis menambahkan, banyak lokasi di Indonesia yang berpotensi sebagai tempat wisata, yang juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat display produk kreatif. Selain itu, potensi produk kreatif biasanya dibuat oleh pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM)

"Di setiap provinsi mempunyai obyek wisata dan bisa menjadi ajang pameran produk IKM. Pemerintah mengharapkan ada sarana pameran yang memotivasi generasi muda atau wirausahawan muda untuk hasilkan produk kreatif dan menjadi `icon` dari daerah tersebut khususnya produk IKM dan hal tersebut merupakan salah satu cara untuk meningkatkan daya saing untuk menghadapi Asean Economic Community pada 2015," tegasnya.
(IAZ)