Rabu, 22 Oktober 2014

ITS terima sepuluh calon mahasiswa Papua

| 1.897 Views
id its, mahasiswa papua, program kemitraan dan mandiri, PKM, KS Papua
untuk mendukung program 1.000 doktor dari Dikti guna mempercepat proses pembangunan di seluruh pelosok negeri, khususnya Papua."
Surabaya (ANTARA News) - ITS Surabaya menerima sepuluh calon mahasiswa Papua yang diseleksi melalui jalur baru yang digagas Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas yakni jalur KS Papua (Kerja Sama Papua).

"ITS turut serta dalam usaha pemerintah melakukan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok negeri. Tidak kurang dari sepuluh calon mahasiswa Papua akan menempuh pendidikan di ITS," kata Kepala Biro Akademik ITS, Dra Ismaini Zain MSi di Surabaya, Rabu.

Ia menjelaskan sepuluh calon mahasiswa dari Bumi Cendrawasih itu bersama semua mahasiswa baru ITS akan diterima secara resmi oleh Rektor ITS Prof Dr Ir Triyogi Yuwono DEA di Gedung Grha kampus ITS Sukolilo, Surabaya (9/8).

"KS Papua yang dibuka tahun ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua dengan ITS untuk mendukung program 1.000 doktor dari Dikti guna mempercepat proses pembangunan di seluruh pelosok negeri, khususnya Papua," paparnya.

Menurut dia, sepuluh orang terpilih melalui proses seleksi yang dilakukan sendiri oleh Pemprov Papua. Mereka menyeleksi 23 peserta, lalu dipilih 10 orang untuk menempuh pendidikan S1 di kampus ITS.

"Seperti halnya jalur masuk Program Kemitraan dan Mandiri (PKM), sepuluh orang yang terpilih ini akan mendapat biaya pendidikan dan `living cost` hingga lulus dari pihak pemerintah pusat," tuturnya.

Secara skematis, KS Papua tidak jauh berbeda dengan jalur masuk PKM, namun calon mahasiswa dari Papua yang tersebar di seluruh universitas ternama di Pulau Jawa ini memiliki kewajiban untuk kembali ke daerah asal mereka di Papua, setelah menyelesaikan pendidikannya.

"Seperti program Kerja Sama Kementerian Agama (KS Kemenag), mereka akan dipersiapkan untuk turut serta dalam program pembangunan di daerah asal mereka masing-masing," tukasnya.

Namun, tidak tertutup kemungkinan bagi mereka untuk mengikuti program sejenis "Fast Track" dan melanjutkan pendidikan tingginya. "Mereka diberi kebebasan untuk memilih jurusan masing-masing sesuai minat dan keinginan," ujarnya.

(E011)

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga