Selasa, 2 September 2014

Mencermati peristiwa kegagalan orbit satelit Telkom-3

Kamis, 9 Agustus 2012 02:37 WIB | 5.313 Views
Mencermati peristiwa kegagalan orbit satelit Telkom-3
Menteri BUMN Dahlan Iskan (FOTO ANTARA)
Jakarta (ANTARA News) - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) memastikan layanan dan operasional perusahaan tidak terganggu meskipun satelit Telkom-3 tidak mencapai orbit sesuai yang direncanakan.

"Terjadi anomali saat peluncuran, namun hal ini tidak mengganggu operasional dan layanan Telkom, karena Telkom saat ini mengoperasikan dan menggunakan beberapa satelit," kata Head of Corporate Communication and Affair Telkom, Slamet Riyadi, dalam siaran pers di Jakarta, Rabu malam.

Menurut Slamet, saat peluncuran Satelit Telkom-3 dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, Senin (6/8) terjadi gangguan pada tahap pengoperasian roket peluncur Breeze-M sehingga menyebabkan satelit hanya mencapai intermediate orbit.

"Kami telah mendapat informasi tertulis dari First Deputy General Designer & General Director dari ISS Reshetnev. Pihak ISS Reshetnev juga sedang melakukan investigasi lebih lanjut atas kejadian ini dan akan segera menyampaikan hasilnya kepada Telkom," ujar Slamet.

Sementara itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, dirinya sudah mendapat laporan terkait hilangnya Satelit Telkom-3.

Dahlan juga memastikan kegagalan mengorbit Satelit Telkom-3 tersebut tidak akan menganggu layanan dan kinerja Telkom.

"Tidak ada pengaruhnya, selain karena dijamin penuh asuransi, Telkom saat ini juga memiliki satelit yang masih mengorbit dan memiliki usia cukup lama," ujar Dahlan.

Lagi pula satelit dengan 42 transponder tersebut direncanakan sebagian besar digunakan untuk layanan televisi berbayar Telkom.

Dahlan memastikan, dirinya tidak akan mencampuri lebih jauh soal kontrak proyek peluncurannya, karena tentunya dulu sewaktu memutuskan sudah dikaji segala resikonya. Resiko yang dihadapi beragam seperti hilang, meledak, kemudian faktor cuaca.

"Saya tidak ingin masuk terlalu jauh, karena korporasi sekelas Telkom sudah memperhitungkan segala sesuatunya sebelum benar-benar proyek satelit Telkom-3 diluncurkan," tegasnya.

Mantan Dirut PT PLN ini juga tidak akan mempertanyakan kenapa Telkom menggunakan teknologi Rusia, bukan menggunakan roket Perancis seperti yang digunakan saat peluncuran satelit Telkom-2.

Ia juga berpendapat bahwa kegagalan peluncuran satelit milik Telkom sesuatu hal yang biasa.


Masih Cukup Waktu

Meski begitu, Dahlan meminta Telkom untuk kembali mencoba meluncurkan satelit untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang.

"Masih ada cukup waktu. Karena satelit yang lama ini masih bisa berfungsi agak lama. Jadi ini tidak terlalu mendesak," katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Sammy Pangerapan, mengatakan jaringan telekomunikasi nasional terancam menipis kapasitasnya akibat hilangnya satelit Telkom-3.

"Jika memang satelit itu hilang, yang rugi bukan hanya Telkom. Tetapi industri telekomunikasi nasional karena satelit masih menjadi salah satu backbone dan last mile access andalan untuk area-area remote yang tidak bisa dipenetrasi dengan serat optik," kata Sammy.

Diungkapkannya, satelit sangat dibutuhkan di Indonesia karena kontur geografis yang sulit ditembus dengan serat optik.

Di kawasan timur dan pulau-pulau terpencil mengandalkan satelit untuk "last mile" dan backbone.

Satu satelit dengan teknologi terbaru kapasitasnya mampu mendukung 36 Mbps untuk satu transponder. Sedangkan Satelit Telkom-3 membawa 42 transponder, dimana ada pancaran KU band yang bisa mencapai 70 Mbps untuk satu transponder.

"Pemerintah belajar banyak dari kasus hilangnya satelit dari Telkom dan mulai berani berinvestasi di satelit menggunakan dana Universal Service Obligation (USO) untuk mendukung program tersebut.

"Sebaiknya satelit yang nantinya diinvestasi langsung pemerintah itu untuk akses telekomunikasi seperti Internet, bukan penyiaran," ujar Sammy.

Senada dengan itu, Peneliti Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, hilangnya satelit Telkom-3 tidak memberikan pengaruh kepada layanan telekomunikasi.

"Tapi jika hilang dan tidak dilakukan segera pemesanan, akan menjadi malapetaka bagi Telkom karena disebut-sebut satelit tersebut pengganti Telkom-2," ujar Heru.

Diingatkannya, meluncurkan satelit tidak semudah membalikkan telapak tangan karena dari proses order hingga peluncuran butuh waktu 3-4 tahun.

Menurut catatan, pemanfaatan transponder di Indonesia saat ini lebih dari 160 transponder untuk GSM backhaul, jaringan data dan selanjutnya untuk penyiaran.

Sementara pasokan domestik dilakukan oleh Telkom, Indosat, Cakrawala, dan PSN.

Permintaan saat ini masih tumbuh untuk keperluan penyiaran (broadcast), 3G, Internet, Triple Play dan Quardraple.

Indonesia sendiri memiliki 159 transponder melalui 7 satelit milik lokal dengan pertumbuhan 10 persen setiap tahunnya.

Sedangkan transponder asing sekitar 125 yang berasal dari berbagai negara seperti China, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Belanda, Jerman, Malaysia, dan Singapura melalui 25 satelit.

Di Asia, Coumpound Annual Growth Rate (CAGR) untuk bisnis satelit itu mencapai 1,9 persen dari 2008-2016.

Sedangkan di Indonesia bisnis satelit diperkirakan mencapai Rp5,75 triliun atau tumbuh 10-15 persen setiap tahun. (R017)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga