Jumat, 19 Desember 2014

BCA belum lirik pembiayaan sektor migas

| 3.041 Views
id bank bca, pembiayaan sektor migas
BCA belum lirik pembiayaan sektor migas
Komisaris Utama Bank BCA, D.E. Setijoso (kanan), Presiden Direktur Jahja Setiaatmadja (tengah), Wakil Direktur, Eugene Keith Galbraith (kiri) saat konfrensi pers pemaparan Hasil Kinerja Triwulan I Tahun 2012 PT Bank Central Asia Tbk di Jakarta, Kamis (26/4).(FOTO ANTARA/Reno Esnir)
...`return` yang relatif tidak pasti, sementara nilai investasi perusahaan migas cenderung tinggi."
Jakarta (ANTARA News) - PT Bank Central Asia (BCA) menyatakan belum berminat dalam memberikan pembiayaan bagi sektor minyak dan gas (migas) karena kecenderungan resiko yang tinggi dan belum adanya jaminan dari pemerintah.

"Bisnis migas itu terlalu rumit, lagipula kami lebih suka menyalurkan dana yang dapat memberdayakan masyarakat," kata Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, di sela acara buka puasa bersama di Jakarta, Rabu malam (8/8).

Menurut dia kerumitan itu terlihat dari sedikitnya pemain lokal yang bermain di sektor migas, sehingga tidak heran banyak perusahaan migas asing yang justru datang ke Indonesia dengan dukungan bank luar negeri.

"Sulit sekali kalau bergantung kepada pencarian sumber minyak dan gas, belum lagi `return` yang relatif tidak pasti, sementara nilai investasi perusahaan migas cenderung tinggi," kata Jahja.

Terkait kerja sama yang terjalin dengan satu-satunya perusahan migas nasional, Pertamina, Jahja mengatakan penyaluran kredit yang diberikan lebih bersifat kredit modal kerja, sehingga masih dapat memberikan nilai yang lebih kepada masyarakat.

"Pertamina kan jelas ada pom bensinnya, yang membuat kita bisa masuk ke masyarakat secara tidak langsung," katanya.

Dengan alasan tersebut, Jahja menjelaskan juga bahwa selama ini penyaluran kredit korporasi BCA lebih banyak untuk sektor usaha seperti infrastruktur, telekomunikasi, properti dan industri pangan.

Secara "year on year" BCA mencatat pertumbuhan portofolio kredit dari Rp66,3 triliun menjadi Rp226 triliun per Juni 2012, dengan tingkat pertumbuhan kredit korporasi sebesar 43,4 persen menjadi Rp74,8 triliun yang didukung oleh permintaan kredit di sektor jasa keuangan, rokok dan tembakau, serta minyak nabati dan hewani.

Sementara itu laba perseroan juga tercatat tumbuh 10,5 persen, yaitu sebesar Rp5,3 triliun pada semester pertama 2012 dibandingkan capaian Rp4,8 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (P012/B008)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga