Sabtu, 26 Juli 2014

"Perizinan masalah dominan investasi MP3EI"

Kamis, 9 Agustus 2012 14:08 WIB | 3.340 Views
Jakarta (ANTARA News) - Sekretaris Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Kemenko Perekonomian, Luky Eko Wuryanto, menilai perizinan merupakan masalah dominan dalam kegiatan investasi terutama dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

"Para investor biasanya terbentur masalah perizinan di pemerintah daerah (Pemda) yang biayanya cukup tinggi," kata Luky saat ditemui di Jakarta, Kamis.

Luky menjelaskan berdasarkan indeks, perizinan masih menempati di atas seratus persen dari pendapatan per kapita. Ia mencontohkan jika pendapatan per kapita senilai tiga ribu dolar AS, maka perizinan bisa lebih dari nilai tersebut.

"Karena itu, tidak semua perusahaan bisa masuk karena banyak yang tidak mampu membayar izin. Jika izin saja tidak mampu, bagaimana mau memulai usaha," katanya.

Seharusnya Pemda dapat menurunkan biaya perizinan agar tidak menghambat investor dalam berinvestasi. Jika biaya perizinan masih belum bisa diturunkan, seharusnya ada kepastian dari Pemda mengenai tenggat waktu penyelesaian surat izin tersebut, saran Luky.

Ia menjelaskan para pengusaha juga terbentur penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebagai syarat perizinan bagi perusahaan yang ingin membuka lahan usahanya.

Berdasarkan data KP3EI, kendala-kendala yang teridentifikasi pada proyek Ground Breaking (GB) Juli 2012 merupakan kendala perizinan, seperti belum didapatkannya surat rekomendasi Gubernur terkait Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH), tumpang tindih Izin Usaha Pertambangan (IUP), belum terbitnya RTRW Provinsi Papua dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan belum keluarnya izin khusus dari Kemnterian Perhubungan (Kemenhub).

Ia berharap pemerintah dan DPR sigap dalam masalah perizinan wilayah tersebut agar tidak menghambat investor dan perusahaan dapat segera merealisasi proyek-proyeknya.

(SDP-54)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga