Jumat, 19 Desember 2014

Ibas dorong produktivitas sentra keripik tempe Ngawi

| 3.741 Views
id Edhie baskoro, sentra keripik tempe, kedele Ngawi
Ibas dorong produktivitas sentra keripik tempe Ngawi
Edhie Baskoro Yudhoyono. (ANTARA/Andika Wahyu)
"Potensi ini harus ditingkatkan dengan memperluas jaringan pemasaran produk keripik tempe Ngawi."
Ngawi (ANTARA News) - Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) VII Jawa Timur, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mendorong produktivitas sentra keripik tempe di Dusun Sadang, Desa Karang Tengah Prandon, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Dalam kunjungannya di sentra keripik tempe Desa Karang Tengah Prandon, Kabupaten Ngawi, Kamis, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (Sesjen DPP) Partai Demokrat itu menilai, kualitas keripik tempe hasil produksi Kabupaten Ngawi sudah dikenal luas ke daerah-daerah lain, sehingga patut dikembangkan dan menjadi perhatian pemerintah.

"Tentunya, potensi ini harus ditingkatkan dengan memperluas jaringan pemasaran produk keripik tempe Ngawi," ujarnya.

Menurut dia, dorongan tersebut dapat diwujudkan dengan dukungan pemerintah daerah untuk merangkul mulai dari petani kedelai, produsen tempe, dan keripik tempe untuk bersama-sama mengoptimalkan produktivitasnya.

"Harus dapat disinergikan masing-masing elemennya agar manfaat pengembangannya dapat dirasakan, khususnya untuk meningkatkan perekonomian di tingkat lokal karena menjadi mata pencaharian masyarakat. Untuk itu saya mendorongnya," katanya.

Ibas juga menyinggung potensi Ngawi sebagai penyangga produksi kedelai di Jawa Timur. Ia mengapresiasi penerapan strategi perluasan areal tanam komoditas kedelai melalui kerja sama dengan Dinas Kehutanan setempat dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang telah berlangsung di Kabupaten Ngawi.

"Lebih luasnya, Ngawi harus menjadi salah satu wilayah pembuka peluang swasembada kedelai dan menjadi daerah percontohan untuk wilayah lain. Potensi dan peluang itu ada. Untuk itu kita mendorong agar petani di Ngawi bisa melihat potensi ini dan benar-benar memanfaatkannya dengan baik," katanya.

Ia menilai pemanfaatan lahan kehutanan untuk ditanami kedelai akan mendorong peningkatan produksi kedelai. Hal ini sebagai satu peluang khususnya bagi pemerintah daerah Ngawi untuk mendapat perhatian dari pusat.

Terkait gejolak kenaikan harga kedelai dewasa ini, Ibas melihat sejumlah faktor yang menjadi penyebab. Salah satunya karena faktor cuaca yang menyebabkan penurunan produksi kedelai di dunia.

"Kenaikan harga kedelai memang menarik perhatian kita semua karena kedelai merupakan bahan dasar produk-produk makanan yang menjadi selera sebagian besar masyarakat Indonesia, seperti tempe." ujarnya.

Ia menimpali, "Tempe juga menjadi makanan favorit saya. Selain tingginya permintaan menjelang Lebaran, ada faktor lain yang menyebabkan harga kedelai melonjak naik. Produksi kedelai di tingkat global juga mengalami penurunan akibat anomali cuaca."

Namun demikian, Ibas justru melihat peluang komoditas ini bisa menjadi primadona penopang perekonomian petani kedelai. Hanya saja, Ibas mengingatkan, keseriusan petani, pemerintah daerah, dan pusat harus diselaraskan dengan program yang pro-petani.

"Terlepas dari itu semua, Saya optimistis kita bisa memanfaatkan ini menjadi peluang yang baik untuk menyejahterakan petani Indonesia. Kalau kita dukung dengan berbagai kebijakan yang pro-petani, tentu petani akan kembali menggarap lahan pertaniannya untuk tanaman kedelai," katanya.

Ibas mengemukakan, juga mendorong agar regulasi yang pro-petani dan dilakukannya serangkaian inovasi di bidang pertanian terus dikembangkan untuk membantu kaum petani semain produktif.

Pemerintah saat ini sedang berkosentrasi untuk penyiapan lahan pertanian yang kini semakin merosot. Departemen Pertanian juga terus mendorong munculnya varian-varian kedelai baru yang semakin berkualitas dan tahan dengan cuaca ekstrim.

"Saya mendukung semua upaya pemerintah tersebut lewat regulasi yang pro petani. Ini semua merupakan rangkaian upaya kita bersama menuju swasembada kedelai," demikian Ibas.
(T.ANT-072/Rw.P003)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga