Baghdad (ANTARA News) - Serangan-serangan bom dan penembakan terhadap pasukan keamanan, sebuah masjid Syiah dan seorang pejabat setempat menewaskan enam orang dan mencederai puluhan lain, Jumat, kata beberapa pejabat keamanan dan medis.

"Tiga polisi tewas dan dua lain cedera dalam serangan bom yang ditujukan pada patroli mereka di Al-Muqdadiyah pagi ini," kata seorang letnan kolonel polisi di kota yang terletak di provinsi bergolak Diyala itu.

Dr Ahmed Ibrahim di rumah sakit utama di ibu kota provinsi itu, Baquba, 60 kilometer sebelah utara Baghdad, mengkonfirmasi jumlah kematian tersebut.

Di daerah pinggiran kota Mosul, Irak utara, serangan bom bunuh diri terhadap sebuah masjid Syiah menewaskan dua orang dan mencederai 40 lain, kata Letnan Satu Polisi Salim Matta dan Dr Salam Bahnam di Rumah Sakit Umum Mosul.

Di luar Haditha, di provinsi Anbar sebelah baratlaut Baghdad, anggota dewan kota Nabil Shaaker tewas dan dua saudaranya cedera ketika orang-orang bersenjata menembaki mobil mereka, kata seorang letnan kolonel polisi dan seorang dokter di kota itu.

Serangan-serangan itu merupakan yang terakhir dari rangkaian kekerasan yang meningkat sejak awal bulan suci Ramadan.

Menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas sumber-sumber keamanan dan medis, sepanjang bulan ini serangan-serangan di Irak telah menewaskan 105 orang, 55 dari mereka anggota pasukan keamanan.

Serangan-serangan itu berlangsung setelah pemerintah Irak mengumumkan bahwa 325 orang tewas dalam serangan-serangan di Irak sepanjang Juli, yang menjadikannya sebagai bulan paling mematikan di negara itu dalam waktu hampir dua tahun.

Angka dari pemerintah biasanya lebih rendah daripada yang diberikan oleh sumber-sumber lain, namun jumlah korban pada Juli itu lebih tinggi dibanding dengan data yang dihimpun oleh AFP berdasarkan laporan dari aparat-aparat keamanan dan petugas medis.

Menurut hitungan AFP, sedikitnya 278 orang tewas dan 683 cedera akibat kekerasan di Irak sepanjang Juli, sedikit lebih rendah daripada angka pada Juni.

Senin (23/7) merupakan hari paling mematikan di negara itu dalam waktu dua setengah tahun ini, setelah Al Qaida memperingatkan akan melancarkan serangan-serangan baru dan merebut wilayah.

Sejumlah pejabat mengatakan, sedikitnya 111 orang tewas dan 235 cedera dalam 28 serangan berbeda di 19 kota pada hari itu.

Kekerasan itu menyulut kecaman dari utusan khusus PBB untuk Irak, ketua parlemen negara itu dan Iran, negara tetangga Irak.

Serangan-serangan itu dilakukan sehari setelah gelombang pemboman di Irak yang menewaskan sedikitnya 17 orang dan mencederai hampir 100. Jumlah kematian dalam kekerasan Senin itu merupakan yang tertinggi sejak 8 Desember 2009 ketika 127 orang tewas.

Sepanjang Juni Irak dilanda gelombang serangan yang menewaskan sedikitnya 282 orang, menurut hitungan AFP, sementara data pemerintah menyebutkan jumlah kematian pada bulan itu hanya 131 orang.

Kekerasan di Irak turun dari puncaknya pada 2006 dan 2007, namun serangan-serangan masih terus terjadi. Menurut data pemerintah, 132 orang Irak tewas pada Mei.

Irak dilanda kekerasan yang menewaskan ratusan orang dan kemelut politik sejak pasukan AS menyelesaikan penarikan dari negara itu pada 18 Desember 2011, meninggalkan tanggung jawab keamanan kepada pasukan Irak.

Selain bermasalah dengan Kurdi, pemerintah Irak juga berselisih dengan kelompok Sunni.

Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki (Syiah) sejak Desember mengupayakan penangkapan Wakil Presiden Tareq al-Hashemi atas tuduhan terorisme dan berusaha memecat Deputi Perdana Menteri Saleh al-Mutlak. Keduanya adalah pemimpin Sunni, demikian AFP melaporkan.

(SYS/M014)