Ambon (ANTARA News) - Balai Sungai Wilayah Maluku sedang menangani tanggap darurat luapan banjir akibat hujan deras 30 Juli hingga 1 Agustus 2012 di Dusun Mamua, Desa Hila, Kecamatan Leihitu, Pulau Ambon.

"Permukiman di Mamua terancam tanah dan batu karena mengalirnya sedimen dari arah gunung akibat longsor membentuk danau pada 7 Juli 2006, sehingga harus dibuat normalisasi sungai dan perkuatan tebing," kata staf Balai Sungai Wilayah Maluku, Max Paliama, di Ambon, Sabtu.

Longsoran gunung yang membentuk danau itu bobol pada 28 Mei - Juli 2011, 11 Febuari 2012, dan mengancam permukiman di Maluku akibat musim hujan sejak 1 Mei 2012.

Akibatnya, ratusan rumah warga terencam lumpur, bahkan sejumlah mengalami rusak ringan hingga rusak berat.

Warga setempat mengungsi ke SMP PGRI Mamua maupun rumah kerabat terdekat yang dianggap aman.

Mereka juga sedang membangun rumah darurat di kawasan perbukitan di Mamua yang tidak bisa dijangkau luapan banjir.

"Jadi eskavator saat ini melakukan normalisasi sungai dan perkuatan tebing agar lumpur mengalir sesuai jalurnya," ujar Max.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pernah memprakirakan runtuhnya bukit di Dusun Mamua akibat patahan di bagian bawah bumi.

Dilihat peta geologi Pulau Ambon, Dusun Mamua masuk dalam jalur patahan (sesar) yang dapat mengakibatkan perubahan permukaan bumi. Jalur itu menuju hingga Desa Alang, Kecamatan Leihitu Barat, Pulau Ambon.

Jalur di Dusun Mamua masuk dalam patahan tidak aktif. Patahan itu bisa aktif jika ada pergerakan lempengan bumi.
(T.L005/M008)