Jumat, 1 Agustus 2014

Nicholas Mark padukan mitologi Indonesia dan Barat

Sabtu, 11 Agustus 2012 16:07 WIB | 1.334 Views
Jakarta (ANTARA News) - Buku "Petualangan Anak Indonesia" yang ditulis oleh penulis muda asal Australia, Nicholas Mark, menceritakan tentang petualangan yang penuh dengan paduan imajinasi mitologi Indonesia dan Barat.

Nicholas Mark kepada ANTARA News, Sabtu, mengemukakan bahwa sejak kecil tertarik dengan film dan buku yang mengisahkan petualangan dan mitologi.

"Saya sangat menyukai jenis cerita tentang mitologi dan petualangan. Cerita berjenis seperti ini dapat membangkitkan lagi perasaan waktu masa kecil saya dan orang lain juga sekaligus membangitkan imajinasi anak-anak," kata pemuda yang saat ini bermukim di Sydney, Australia, itu.

Buku "Petualangan Anak Indonesia" merupakan kumpulan cerita yang ditulis oleh Nicholas Mark, dengan ilustrator Bambang Shakuntala.

Buku ini terdiri dari tiga cerita, yaitu cerita Wayan dan petualangannya di Hutan Monyet Ubud, Mutia dan petualangannya di Pulau Emas serta petualangan Nanda, Dhani, dan para peri menyelamatkan Yogyakarta dari letusan Gunung Merapi.

Cerita tentang petualangan Wayan di Bali mengisahkan perjuangan Wayan dan para monyet untuk menyelamatkan hutan Monyet. Nicholas menggambarkan Hutan Monyet sebagai tempat yang mistis, ada para monster jahat yang ingin merebut Hutan Monyet dari para Monyet.

Di cerita kedua yang mengisahkan Mutia dari Padang dan petualangannya di Pulau Emas. Nicholas mengambil latar belakang suasana kota Padang setelah dilanda gempa bumi.

Mutia adalah anak yang rajin dan baik hati. Suatu hari ada seirang nenek yang meminta pertolongannya. Bersama nenek tersebut Mutia bertemu dengan telur emas, serta pergi ke dunia garuda di atas langit dan Danau Toba untuk menyelamatkan kota Padang.

Cerita terakhir tentang petualangan Nanda, Dani, dan para peri menyelamatkan kota Yogyakarta dari letusan Gunung Berapi. 

Kakak beradik Nanda dan Dani mendapatkan perintah dari ayah mereka untuk pergi ke Gang Rahasia untuk bertemu para peri. Setelah itu mereka bertemu dengan tiga raja, pergi ke Candi Borobudur untuk menghentikan letusan Gunung Berapi.

Buku ini mengambil latar belakang di lokasi-lokasi yang khas Indonesia, seperti Padang, Danau Toba, Candi Borobudur, dan Bali dan Nicholas berusaha membangkitkan imajinasi anak-anak tentang petualangan melalui tokoh-tokoh khayalan seperti nenek sihir, burung garuda, para monyet di hutan monyet, gang rahasia, dan para peri.

Tinggal di Indonesia

Nicholas mengatakan, mendapatkan ide cerita dari pengalamannya jalan-jalan dan tinggal di Indonesia. Dia mengatakan, pernah ke tempat-tempat yang dia jadikan latar belakang cerita di bukunya.

"Nama setiap tokoh utama dalam cerita Yogyakarta adalah nama teman akrab saya dari Yogyakarta, jadi cerita itu memiliki unsur personal juga bagi saya," kata lelaki berumur 24 tahun itu.

Baru-baru ini Nicholas juga berkesempatan membacakan cerita tulisannya di depan murid-murid Sekolah Dasar (SD) Santa Ursula Jakarta.

Dia merasa puas karena mendapatkan respon positif, dan para murid juga menikmati ketiga dongeng yang dibacakannya.

"Saya senang karena dongeng yang mencampurkan mitologi barat dan Indonesia bisa diterima oleh anak-anak asli Indonesia," katanya.

Nicholas berharap bisa menulis buku anak-anak lagi. Dia mengatakan ia sangat menyukai jenis cerita petualangan dan mitologi.

"Kalau buku ini sukses, saya ingin sekali lanjutkan series Petualangan Anak Indonesia, dan menulis kumpulan dongeng baru tentang pulau lain di Indonesia," kata Nicholas.

Buku ini sudah bisa didapatkan di berbagai toko buku di Indonesia. Nicholas memperkirakan, hingga saat ini sudah 300 buku yang terjual.
(Rw.A011)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca