Rabu, 17 September 2014

Pemudik diimbau tidak bawa keluarga ke Jakarta

Sabtu, 11 Agustus 2012 23:41 WIB | 4.818 Views
Pemudik diimbau tidak bawa keluarga ke Jakarta
Agung Laksono (FOTO ANTARA/Wahyu)

Purwokerto (ANTARA News) - Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengimbau pemudik untuk tidak membawa keluarganya saat kembali ke Jakarta.

"Itu suatu dilema karena untuk melarang, mereka itu juga warga negara Indonesia. Kita mengimbau, kalau pulang ke Jakarta jangan bawa keluarganya lagi, kalau pulang sendiri, datang juga sendiri, jangan pulangnya sendiri tetapi datangnya bawa lima-enam orang," kata Menteri di Purwokerto, Sabtu malam.

Menko Kesra mengatakan hal itu kepada wartawan di sela-sela kegiatan Safari Ramadhan di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Dia mencontohkan bahwa jika yang mudik sebanyak dua juta orang dan pulangnya masing-masing membawa lima orang, hal itu akan menimbulkan berbagai masalah sosial.

Menurut dia bahwa arus urbanisasi tersebut kemungkinan disebabkan pertumbuhan ekonomi di beberapa daerah belum merata.

Dalam hal ini, kata dia, lapangan pekerjaan di daerah sulit ditemukan dan mendapat rangsangan kehidupan mewah di Jakarta dari tayangan televisi maupun setelah membaca koran.

"Tapi dibandingkan beberapa tahun yang lampau, Jakarta sebagai magnetnya yang sangat menarik. Sekarang daerah-daerah lain sudah seperti itu," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan arus urbanisasi ke Jakarta, yakni dengan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.

"Gulanya jangan `ditumplek` (dituangkan, red.) di Jakarta, tetapi disebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Saya berkeyakinan, sebagian besar yang `hijrah` atau bekerja menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri, kalau ditanya secara jujur mereka tidak mau bekerja seperti itu, tapi karena terpaksa untuk menghidupi keluarganya meskipun di sana biasa-biasa saja," kata dia menambahkan.

Lebih lanjut, Agung mengatakan, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang paling utama adalah program pemerintah melaksanakan pembangunan infrastruktur.

Menurut dia, infrastruktur di Pulau Jawa bagian selatan masih kurang, seperti di Cilacap, Pelabuhan Ratu, Pandeglang, dan Lebak sehingga angka kemiskinannya masih tingi-tinggi.

Akan tetapi di wilayah utara yang infrastrukturnya jauh lebih baik, kata dia, angka kemiskinannya lebih rendah.

(KR-SMT/I014)

Editor: Tasrief Tarmizi

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga