Sabtu, 20 Desember 2014

Aki Banteur berpulang

| 4.006 Views
id aki banteur, ITB, planolog,
Jakarta (ANTARA News) - Senin (7/8) malam, persis pukul 23.00, pada malam yang diyakini sebagian umat Islam Indonesia sebagai malam ke 17 Ramadhan, malam turunnya Al Quran, wafat salah seorang putera terbaik bangsa Ir. H. Setia Hidayat. 

Planolog senior lulusan ITB (Institut Teknologi Bandung), kelahiran Tanjungkerta, Sumedang, 25 April 1934, itu terakhir menjabat sebagai Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat - Komisaris Utama Bank Jabar, sampai akhirnya pensiun, 2006.

Dr. Ir. Siti Nurbaya, Sekretaris Jendral Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, mengenangnya sebagai sahabat. 

Keduanya bekerja keras ketika masih mengabdi di Kementerian Dalam Negeri, dan almarhum termasuk salah seorang yang sangat "concern" terhadap "reinventing government" di lingkungan pemerintah daerah. 

Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Serang, Pj. Walikota Administratif Cilegon pertama, itu juga dikenang oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf sebagai seorang yang baik dan konsisten dalam memperjuangkan pemikirannya bagi kemajuan Jawa Barat. 

Almarhum memang patut dikenang sebagai seorang nasionalis yang di masanya termasuk seorang yang berfikir, bersikap, dan bertindak merdeka. Bukan pemburu jabatan. 

Saya sangat karib dengannya sejak berlangsung transisi reformasi, 1998-1999, saat ia menjabat Sekda Kabupaten Serang. 

Pertemanan dan persaudaraan kami berlangsung terus sampai almarhum pensiun.

Ketika menjabat Kepala Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Jawa Barat tahun 2000, almarhum membuka ruang yang luas untuk menerapkan metode "imagineering" dalam perencanaan daerah. 

Ia membuka ruang partisipasi seluruh tokoh masyarakat Sunda dan Jawa Barat, tanpa memandang "siapa kawan siapa lawan" termasuk tokoh-tokoh kritis memberikan kontribusi terhadap pembangunan Jawa Barat. 

Sikap itu memungkinkan terjadinya dialog "scenario planning" (Dialog Sunda dan Dialog Jawa Barat) bagi penyusunan Visi dan Misi Jawa Barat 2010: Jawa Barat provinsi termaju di bidang pertanian di Indonesia, dan mitra terdepan DKI Jakarta. 

Dialog, itu disusul oleh dialog sejenis di lima wilayah pembangunan Jawa Barat. 

Sebagai Sekda Jawa Barat, almarhum konsisten melaksanakannya Visi dan Misi yang kemudian disahkan sebagai Peraturan Daerah oleh DPRD Jawa Barat, itu. 

Pada masa kepemimpinannya di Bappeda Jawa Barat, berkembang dinamika dan inovasi pemikiran dari kalangan birokrat muda yang kritis dan visioner.

Almarhum juga yang memelopori pendekatan kearifan lokal dalam praktik manajemen pembangunan pemerintah provinsi Jawa Barat. 

Bahkan, ia sendiri kemudian yang mentransformasikan implementasi kearifan lokal itu ke dalam proses pembangunan Jawa Barat. 

Kala itu, bahkan berkembang canda baginya sebagai `planolog jurusan karawitan. Terutama ketika secara intens almarhum mendalami rumpaka (puisi Sunda) mulai dari karya Dalem Pancaniti (Bupati Cianjur yang banyak menulis tembang Cianjuran), KH Hasan Mustafa, sampai seniman budayawan Sunda generasi kemudian, seperti Pak Bakang.

Sejak saya kenal, almarhum sering memanfaatkan kegemaran memancing dan menjala ikan (ngecrik) sebagai medium untuk melakukan observasi kondisi obyektif rakyat di pedesaan. 

Dari pengalaman lapangan, almarhum yang memulai karir sebagai pegawai Pemda Kabupaten Karawang, concern pada pembangunan lingkungan untuk memperbaiki indeks pembangunan manusia (IPM). 

Sampai akhir hayatnya, almarhum konsisten terhada trilogi pembangunan lingkungan cerdas, lingkungan sehat, dan lingkungan mampu (secara ekonomi). 

Karena sering sekali menyosialisasikan pemanfaatan dan konsumsi ikan beunteur (sejenis Ikan Bilis di Sumatera Barat), almarhum dijuluki Aki Beunteur.

Ketika pensiun, bersama saya almarhum menulis tafsir rumpaka Sunda (Sangkakala Padjadjaran) dalam konteks pengembangan social imagineering. 

Lewat padepokan Napas Sapan Bandung, almarhum mengawinkan Cianjuran, Rumpaka, Tarian Sunda, dan Pencak Silat sebagai satu kesatuan "performing art". 

Kemudian mentransformasikan nilai-nilai lokal itu ke Mancanegara, seperti dalam pertemuan Dunia Islam Dunia Melayu di Melaka (2006), Australia (2007), dan berbagai negeri lainnya.

Jangan serakah

Setia Hidayat yang PEDULI terhadap strategi pembangunan wilayah, khasnya antara Jakarta dengan Jawa Barat, serta Jawa Barat dengan Jawa Tengah dan Banten, sejak mahasiswa, sampai akhir hayatnya masih memikirkan pengembangan kawasan sekitar Jakarta. 

Terutama ketika Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, kurang mendalami prinsip-prinsip dasar megapolitan. 

Almarhum orang pertama yang menyatakan, ibukota negara harus keluar dari wilayah DKI Jakarta. 

Berdasarkan kajiannya, almarhum memandang Kabupaten Purwakarta yang paling tepat untuk itu. Khasnya disimak dari aspek aksesibilitas infrastruktur dan sumberdaya alamnya.

Di penghujung masa karirnya sebagai pegawai negeri, almarhum disibukkan oleh berbagai forum yang membahas ihwal Megapolitan Jabodetabekjur. 

Almarhum sangat lugas menyampaikan pemikiran kritisnya, meski disajikannya secara rileks. 

Di pusaranya, terngiang kembali berbagai pandangannya di Rapat Dengar Pendapat DPR RI dan beragam forum diskusi dan seminar tentang megapolitan. 

Almarhum konsisten menyatakan, megapolitan, metropolitan, atau apapun namanya yang hendak diusung, akan sama saja bila distribusi penduduk tidak digarap dan ditangani dengan baik. 

Persoalan lebih kompleks bahkan akan terus menghimpit DKI Jakarta, siapapun gubernurnya.

Almarhum mengemukakan, problematika Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten relatif sama: kemiskinan struktural, kultural, dan persisten. Penampang paling kongkrit dari persoalan itu adalah populasi pengangguran terbuka. 

Bahkan, situasi itu akan diperparah, ketika penduduk miskin dan penganggur dari berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa terus menyerbu Jakarta. 

Terutama, ketika infrastruktur nasional dan internasional terus memenuhi Jakarta dan Jawa. Almarhum lega ketika mempelahari strategi MP3EI (Masterplan Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia).

Acap berdiskusi berdua atau dengan beberapa sahabat lain, almarhum sering mengutarakan dengan lugas, DKI Jakarta sangat serakah menampung semua fungsi dan semua kegiatan. 

Lantas, berteriak-teriak ketika persoalannya menjadi kompleks. Karenanya, ia selalu "head to head" dalam pemikiran, acapkali mengemuka pandangan tentang perluasan wilayah. 

Almarhum berpandangan, yang harus dilakukan secara sinergis adalah mengeluarkan sejumlah fungsi yang sekarang menghimpit Jakarta. Demikian juga kegiatannya. 

Misalnya, menurut penggagas harmonitas pembangunan Jawa barat sebelah Selatan, Tengah, dan Utara, pemerintah provinsi DKI Jakarta, mesti mengikhlaskan, rumah potong hewan dan pasar induk beras, pindah ke Karawang. 

Pasar induk sayur mayur pindahkan juga ke Bogor atau Cianjur. Lalu, seluruh institusi pendidikan berbasis kampus, pindah ke Depok dan Tangerang. 

Persoalan DKI Jakarta, menurut almarhum, bergantung pada para pembuat kebijakan di tingkat nasional.

Almarhum berpandangan, daripada sibuk menyoal megapolitan yang bisa jadi "fantacy trap", sebaiknya pemerintah pusat dan pemerintah provinsi di seluruh Jawa, Lampung, dan Sumatera Selatan bekerjasama mematangkan kembali konsep DKI Jakarta Metropolitan Development Plan. 

Almarhum berpandangan, benahi dulu metropolitannya, baru melangkah ke megapolitan. Karena secara konseptual, megapolitan meliputi Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya, dan Surabaya.

Dari berbagai pandangan kritis yang dikemukakannya di berbagai forum, benar apa yang dinyatakan Dede Yusuf, almarhum konsisten sekaligus persisten terhadap gagasan yang dikemukakannya, dan ia yakini kebenarannya. 

Dari sikapnya itu, saya mendapat gambaran tentang mengelola pikiran (mind governance) dalam mengelola pembangunan daerah, khasnya di Jawa. 

Bagi saya, almarhum seorang yang pola pikirnya terjaga, jelas strukturnya, fokus, dan berkesinambungan. 

Sikapnya selalu terbuka, dan cenderung membuka ruang dialog. Almarhum sangat mampu mengakomodasi pemikiran orang lain, sehingga mampu merumuskan pemikiran harmoni dalam suatu titik temu, dengan tetap menghormati perbedaan.

Sebagai "leader", tindakannya cerdas dan kerap menjadi inisiator untuk mengembangkan pemikiran. 

Almarhum juga cenderung mengajak berpikir para birokrat, mendalami sesuatu masalah untuk memperoleh prima kausa suatu masalah.

Karenanya, almarhum selalu cenderung mengajak jajarannya berpikir untuk mengelola proses untuk mencapai hasil yang optimal. Bersikap jujur, obyektif dan terukur. 

Saya mencermati, dalam memimpin, almarhum cenderung menerapkan cara dan sistematika yang tak terbayangkan oleh orang lain sebelumnya. Karenanya selalu berorientasi kepada solusi. 

Sikap almarhum juga dinamis, dan tak membiarkan dirinya terjebak pada patronase. 

Dengan begitu, almarhum mampu merespons pemikiran baru yang datang dari siapapun, disertai kemauan dan kemampuan mengapresiasi.

Ketika mengakhiri kiprahnya sebagai pegawai negeri sipil dan memasuki pensiun. 

Ia mengemukakan, masa pensiun, hanya sekadar batas peralihan fungsi diri, dari aparatur pemerintah yang mengemban "civil servant" dan "civic mission secara formal dalam suatu sistem, menjadi "people ambassador" yang mengemban fungsi sama dalam suatu realitas kehidupan yang lebih luas. 

Almarhum, membuktikannya sampai di penghujung hayatnya, di malam Nuzul Quran.

Selamat Jalan, Aki Beunteur, saudaraku.

*) Penulis adalah wartawan utama bersertifikat Dewan Pers, anggota Dewan Penasehat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.

(E007/A025)

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga