Selasa, 23 Desember 2014

Mengapa perlu tertib listrik

| 2.592 Views
id listrik, hubungan arus pendek, pln, pt pln
Mengapa perlu tertib listrik
(ANTARA/Dewi Fajriani)
jangan tergoda oleh harga murah. Gunakan material dengan simbol SNI untuk menghindari gangguan listrik"
Jakarta (ANTARA News) - Anda tak perlu kaget jika tahu kemudian bahwa kebakaran akibat arus pendek listrik lebih banyak disebabkan oleh kelalaian pelanggan, bukan karena lalainya otoritas perlistrikan, dalam hal ini PT PLN.

Dalam banyak hal, kebakaran akibat hubungan arus pendek dipicu dari cara Anda memperlakukan listrik dengan benar.

Mengutip Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PT PLN Disjaya dan Tangerang Irwan Darwin yang pekan lalu berbincang dengan ANTARA News, ada beberapa hal yang sering menjadi penyebab gangguan listrik yang ujungnya berakibat sangat fatal seperti terjadinya kebakaran.

Salah satu faktor penyebab seringnya gangguan listrik terjadi adalah konsumen kerap menggunakan material instalasi listrik yang tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Tentu saja menggunakan perangkat tidak standard atau tidak direkomendasikan otoritas yang kompeten, apapun itu, adalah juga berarti mempertinggi risiko, termasuk keamanan dalam mengonsumsi apapun yang ada standardnya, termasuk penggunaan listrik.

Irwan Darwin menengarai, penggunaan alat yang tak berstandar dan berkualitas rendah, menjadi salah satu sebab mengapa listrik Anda tiba-tiba bermasalah, bahkan tak jarang memicu bahaya lebih fatal seperti kebakaran.

Hal lain yang menjadi penyebab gangguan listrik adalah kebiasaan mengotakatik Miniature Circuit Breaker (MCB) yang berbentuk panel pada instalasi listrik yang berfungsi sebagai pengaman beban listrik yang melebih kapasitas.

"Jika MCB sering diutak-atik, operasinya sering tidak menjadi maksimal dan pengamanan listriknya akan rusak sehingga bisa membahayakan orang," kata Irwan.

Kawasan tertib listrik

Sudah demikian parahkah kebiasaan itu berlaku pada masyarakat?  Irwan tidak mengetahui pasti skala kebiasaan buruk ini, namun dari seringnya kebakaran akibat listrik hubungan pendek, setidaknya di Jakarta, sepertinya level kesadaran warga dalam "memain-mainkan" standard-standard dalam konsumsi listrik memang tinggi.

Mungkin karena tingginya intensitas "pelanggaran"  dalam mengonsumsi listrik inilah yang membuat PLN kemudian merasa perlu menertibkan perkara ini.

Bahkan untuk wilayah Jakarta dan Tangerang saja, sebut Irwan Darwin, PLN akan memanfaatkan 500 pegawai tambahan untuk 140 regu guna mengintensifkan apa yang PLN sebut sebagai "operasi penertiban pemakaian tenaga listrik" (P2TL).

"Kita ingin tambah kawasan tertib listrik di Jakarta dan Tangerang yang hingga Juni sudah terdapat 23 kawasan ," kata Irwan kepada ANTARA News.

Irwan mengatakan PLN memang tengah fokus menanggulangi pemakaian instalasi listrik berkualitas rendah dan mencegah terjadinya hubungan arus pendek listrik yang acap menjadi penyebab kebakaran.

"Banyaknya kejadian kebakaran kemarin-kemarin, membuat kami harus mengintensifkan operasi tim P2TL, dua kali lipat," katanya.

Operasi P2TL yang biasa dilakukan setiap hari, kemungkinan besar akan ditingkatkan menjadi dua kali sehari, terutama untuk menertibkan kawasan-kawasan yang rawan pelanggaran penggunaan listrik.

Momentum hari raya Lebaran kala warga Jakarta mudik meninggalkan ibukota akan dimanfaatkan PLN untuk mengintensifkan operasi penertiban listrik ini.

Jangan tergoda murah

Tak hanya keluar menertibkan masyarakat pengguna listrik, upaya-upaya lain pun dilakukan PLN, diantaranya mempromosikan optimalisasi peran sebuah seksi kerja yang khusus mengurusi instalasi listrik.

Seksi khusus itu dinamai Biro Instalatir.  Ini adalah badan atau perusahaan yang menjual jasa pemasangan tenaga lsitrik. Masih ada satu lagi yang didorong untuk difungsikan lebih intensif lagi, yaitu Komite Nasional Untuk Instalasi Listrik (Konsuil).

"Di sini ada tanggungjawab domain seperti biro instalatir dan Konsuil", kata Manajer Humas Komunikasi PT PLN Bambang Dwiyanto, yang menyebut kedua lembaga diperlulan untuk meningkatkan kualitas instalasi listrik masyarakat.

Dia mengungkapkan, saat instalasi listrik pertama kalinya, warga dan Biro Instalatir biasanya menggunakan material sesuai standar.

Namun begitu pengawasan dari PLN lepas, warga biasanya berusaha meningkatkan daya listrik dengan material berharga murah.  Barang murah biasanya bersesuaian dengan kualitasnya yang lebih rendah. Dan kualitas rendah berarti risiko tinggi. Itu logikanya.

"Kita juga ingin mengimbau masyarakat untuk jangan tergoda oleh harga murah. Gunakan material dengan simbol SNI untuk menghindari gangguan listrik seperti hubungan arus pendek listrik," kata Bambang.

Namun anggota Komisi VII DPR Dewi Aryani punya pendapat lain dengan meminta PLN mengupayakan pemasangan instalasi dengan sistem baru. Agar semua ditata rapi dan aman PLN perlu membuat standar material instalasi listrik.

"Prosedur dan mekanisme pembelian material harus dibuat transparan sehingga warga bisa memperoleh dari penyuplai (biro instalatir) yang terbaik dan bisa dipertanggungjawabkan," kata Dewi.

Sebuah usul yang patut didengar, sama patutnya dengan operasi penertiban listrik itu sendiri.

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga