Padang (ANTARA News) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Padang mendeteksi 239 keberadaan titik panas alias hot spot di Sumatera pada Senin. Cuaca kering dan panas tanpa hujan memberi sumbangan atas kemunculan titik-titik panas itu.

"Keberadaaan titik api tersebut tersebar di Provinsi Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung dan Sumatera Barat menyebabkan daerah tersebut diselimuti kabut asap," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Padang, Syafrizal, di Padang, Senin.

Ia mengatakan sebagian besar titik api berasal dari Provinsi Sumatera Selatan yang memicu kabut asap hingga ke Sumatera Barat karena angin bertiup dari arah timur Australia menuju Asia.

Tetapi BMKG tidak dapat memastikan titik api itu berasal dari kebakaran hutan atau aktivitas masyarakat yang sengaja melakukan pembakaran membuka lahan.

Menurut dia, kabut asap tersebut dapat diatasi jika terjadi hujan sehingga titik api yang menjadi pemicu akan padam.

BMKG memprediksi kabut asap akan berlangsung hingga beberapa hari kedepan mengingat saat ini sedang berlangsung siklus angin kering berhembus dari Australia menuju Asia sehingga cuaca menjadi panas.

"Dalam kondisi cuaca yang panas dan kering kebakaran hutan sangat mudah terjadi karena itu masyarakat diminta waspada," kata dia.

Untuk wilayah Sumatera Barat kabut asap merata tersebar menyelimuti seluruh daerah itu menyebabkan jarak pandang hanya berkisar tujuh kilometer.

Ia mengatakan saat ini kendati jarak pandang hanya tujuh kilometer masih aman untuk aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padangpariaman. Bandara baru itu dilengkapi sejumlah alat bantu navigasi, di antaranya INS, VOR, dan ILS. (*)