Kamis, 28 Agustus 2014

Olimpiade dan memprihatinkannya prestasi kita

Rabu, 15 Agustus 2012 09:41 WIB | 2.805 Views
Olimpiade dan memprihatinkannya prestasi kita
Atlet angkat besi Indonesia Triyatno memperlihatkan medali perak yang diraihnya pada nomor 69kg putra di Olimpiade London 2012 di ExCel, Selasa (31/7). (REUTERS/Paul Hanna)
Jakarta (ANTARA News) -  Olimpiade London 2012 usailah sudah.  Banyak negara bersuka cita karena beroleh kejayaan di sana, bahkan prestise dan kebanggaan.

China misalnya, telah membuktikan diri bahwa mereka tak hanya hebat dari pencapaian ekonomi dan pengaruh politik serta penduduk, tapi juga oleh kilauan prestasi para pahlawan olahraga mereka.

Inggris Raya juga menjumput lagi kebanggaan nasional di tengah erosi krisis Euro.  Amerika Serikat yang dominan pada semua teater kehidupan dunia, juga tetap saja mencari gengsi di Olimpiade.

Pun Jepang, Rusia, Brazil dan seterusnya, juga negeri-negeri kecil seperti Jamaika.

Ada hal yang sama amat membanggakannya dengan mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, bahkan negara semakmur dan seadem ayem Swiss saja turut "gila", larut dalam kemenangan medali atlet-atletnya.

India bahkan sampai memupus kriket dari ingatan mereka, walau sementara, demi memuja Saina Nehwal dan perunggu yang diraihnya dari bulutangkis.

Thailand dan Malaysia malah terlihat amat bernafsu menyandingkan keberhasilan ekonomi dan stabilitas politik dengan pencapaian di gelanggang olahraga.

Lihatlah televisi-televisi dan media Malaysia, demi sekeping medali, habis-habisan mengekspos atletnya, Lee Chong Wei, bahkan  sebelum dia memenangi perak Olimpiade dari bulutangkis.

"(Lee Chong Wei) telah memberikan apa yang terbaiknya malam ini melawan Lin Dan. Semua orang Malaysia sangat bangga padamu!", tulis Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dalam akun Twitternya seperti dikutip AFP.
 
Suasana agak datar terlihat dari Indonesia.  Ekspos dan perhatian publik tak sebesar itu.  Mungkin karena mereka sudah membaca bakal tergerusnya satu tradisi, yaitu tradisis emas Olimpiade.

Untung ada angkat besi. Untung ada Triyatno dan Eko Yuli Irawan yang mungkin tak seagung Usain Bolt atau Michael Phelps, tapi jelas sama sangat pentingnya dengan Lee Chong Wei untuk Malaysia atau Saina Nehwal untuk India.

Harus konsisten

Masyarakat negeri ini mungkin terlalu kemasyuk oleh warta skandal korupsi dan intrik yang baunya sampai ke gelanggang olahraga.

Padahal masyarakat jenuh melihat ini, karena itu berbalikkan dari keinginan mereka melihat olahraga diurus benar-benar demi mencipta kejayaan tertinggi, hingga level dunia.

Mungkin tidak sejenuh itu, karena, setidaknya dari serangkaian wawancara ANTARA News seharian kemarin di Jakarta, masyarakat sebenarnya peduli, kendati kali ini mereka jauh lebih prihatin melihat pencapaian olahraga Indonesia di ajang dunia seperti Olimpiade London 2012 yang baru saja pungkas itu.

Mereka kembali bersuara mengenai inginnya mereka melihat prestasi tinggi olahraga dicapai bangsa ini. Dan mereka ingin semua itu dimulai dari pemerintah.

"Pemerintah hanya mementingkan bisnis saja dan kurang dalam memperhatikan nasib atlet," kata pegawai swasta, Kusnandar (25).

Di mata Kusnandar, kurangnya perhatian pemerintah ini membuat olahraga nasional tak menjadi lebih baik dari dulu, padahal dia menginginkan atlet nasional disegani di level dunia.

Dani (35), seorang sopir pribadi, juga begitu. Sepanjang Dani amati, pemerintah belum optimal mempersiapkan atlet-atlet yang dikirim ke ajang internasional.

"Pemerintah seharusnya memberikan biaya serta sarana dan prasarana bagi atlet berprestasi," katanya sedikit klise.

Dia melihat hanya orang yang mempunyai cukup dana saja yang dapat mewakili negara pada kejuaraan-kejuaraan internasional.  "Pemerintah harus konsisten dalam membina atlet," kata Dani lagi.

Dia mengkritik klub-klub olahraga yang dianggapnya hanya memikirkan keuntungan daripada menghasilkan bibit atlet berprestasi.

Segera benahi

Sementara Amin Prayogo (39) menilai olahraga Indonesia tak memiliki semangat untuk maju. "Kalau semangat maka prestasi yang diraih pun akan lebih baik dari yang sebelumnya," kata Amin yang pengusaha ini.

Dia menunjuk bulutangkis yang menjadi andalan Indonesia tapi kini tidak dapat menunjukkan lagi pamornya di gelanggang dunia.

Amin sedih kondisi prestasi olahraga nasional menjadi semakin lama semakin surut.  Dia ingin pemerintah lebih memperhatikan lagi atlet-atlet nasional sehingga dapat berlatih secara teratur demi prestasi terluhur.

Ada pula yang melihat apa yang dicapai dalam olahraga, akan menstimulasi kemajuan pada matra kehidupan bangsa lainnya.  Ini yang dilihat Haryo Canggih (27), seorang fotografer.

Haryo menilai pencapaian Indonesia di Olimpiade London yang hanya beroleh satu perak dan satu perunggu, akan mempengaruhi perkembangan olahraga di dalam negeri.

"Kemampuan atlet Indonesia di pertandingan internasional berdampak pada psikologi masyarakat Indonesia," kata dia.

Prestasi yang menurun dengan berhentinya tradisi emas, dapat menurunkan minat masyarakat pada olahraga. "Jika tidak segera dibenahi, maka prestasi olahraga akan semakin terpuruk," katanya.

Sementara Erga (26), seorang karyawan swasta di Jakarta, melihat semakin bagus prestasi olahraga, semakin bagus apresiasi masyarakat, sebaliknya  semakin anjlok semakin berpaling orang dari olahraga prestasi.

Jangan biarkan hal ini terus terjadi karena prestasi dalam olahraga sama pentingnya dengan kejayaan dan gengsi nasional di bidang lain.

(SDP-48)

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga