Jakarta (ANTARA News) - Akhirnya The Cardigans, yang pernah populer pada tahun 1990-an, menyambangi Jakarta dalam konser bertajuk "Gran Turismo" di Tennis Indoor Senayan, Selasa (14/8) malam.

"Akhirnya The Cardigans!" mungkin begitu banyak yang dilontarkan para penggemarnya yang kini kebanyakan sudah bukan remaja lagi untuk pertama kalinya menyaksikan penampilan band asal Swedia itu di Indonesia.

The Cardigans kembali reuni setelah enam tahun vakum dengan album terakhir mereka, "Super Extra Gravity" (2005). Dan Indonesia cukup beruntung menjadi negara yang dikunjungi selain Jepang serta Taiwan.

"Ini waktu yang cukup lama sampai akhinya kami reuni lagi, sangat lama. Segalanya telah berbeda, banyak yang sudah berubah," kata sang vokalis dan satu-satunya personel perempuan, Nina Persson, dalam jumpa pers Selasa (14/8) siang.

"Jelas beda, dulu diawal tahun 1990-an kami masih umur 20 tahunan sedangkan sekarang sudah hampir 40 tahun," lontar Lars-Olof Johansson yang memegang keyboard seraya tertawa.

The Cardigans dibentuk pada tahun 1992 dengan personel yang tidak pernah berubah, Nina Persson (vokal), Peter Svensson (gitar), Magnus Sveningsson (bass), Bengt Lagerberg (drum), Lars-Olof Johansson (keyboard).

Salah satu hits mereka, "Lovefool" pernah menjadi "lagu kebangsaan" anak muda saat itu. Lagu tersebut merupakan lagu tema yang ikut melegenda seiring filmnya, "Romeo and Juliet" (1996).

Namun sebelumnya, lagu-lagu The Cardigans juga telah meroket dari Swedia ke seluruh dunia lewat "Rise and Shine" dari album pertama, "Emmerdale" (1994) dan "Carnival" dari album kedua, "Life" (1995).

Nama The Cardigans semakin melambung setelah menelurkan album "Gran Turismo" (1998) dimana banyak lagu-lagu dari mereka yang menjadi hits seperti "Erase/Rewind", "My Favourite Game", dan "Hanging Around".
 
Dengan jeda waktu yang cukup lama, album berikutnya "Long Gone Before Daylight" (2003) masih membuktikan eksistensi The Cardigans lewat lagu-lagunya yang kembali digemari seperti "For What It's Worth", "You're the Storm", dan "Live and Learn".


Nostalgia dan Gran Turismo

Tak pelak lagi, konser yang berlangsung sekitar 90 menit itu menjadi momen nostalgia bagi para remaja di zaman 1990-an.

Ribuan penonton yang rata-rata berusia 30 tahun keatas berjingkrak-jingkrak, ikut bernyanyi, terkadang tertawa bersama rekannya, mengenang masa-masa lagu itu.

Sesuai dengan tema konser, "Gran Turismo" yang sama seperti judul album keempat mereka, lagu-lagu dari album "Gran Turismo" pun mendominasi dari 19 lagu yang dibawakan.

"Itu adalah album favorit kami yang kami buat dengan konsep berbeda. Akan menjadi tantangan yang menyenangkan buat kami memainkannya nanti karena lagu-lagunya sudah cukup lama," kata Nina.

Malam itu, The Cardigans konser dalam tata lampu temaram yang berganti warna setiap lagu. Biru, merah dan keunguan seolah-olah menunjukan kedewasaan The Cardigans saat ini.

"Selamat malam! Apa kabaaarr? Sungguh fantastis bisa berada di sini," teriak Nina Persson usai membawakan lagu pertama, "Paralyze".

Nina tampil unik dengan atasan hitam seperti kimono dipadukan dengan celana ketat hitam. Rambutnya yang dikepang kemudian digulung, dipermanis dengan hiasan di atas kepala yang mencolok.

Di awal konser, The Cardigans langsung menghentak panggung lewat salah satu hits-nya, "Erase/Rewind", mengajak penonton bernyanyi bersama. Disusul kemudian lagu-lagu lain yang diambil dari album "Gran Turismo" seperti "Explode", "Starter", "Hanging Around", "Higher", dan "Marvel Hill".

Suasana semakin memanas saat lagu "My Favourite Games" dibawakan. Hampir semua penonton malam itu bergoyang dan ikut bernyanyi bersama Nina berganti kostum tanktop dan jubah hitam sepanjang pinggang.

Setelah membawakan lagu "Do You Believe" dan "Junk of the Hearts" yang masih dari album "Gran Turismo" seluruh personel keluar panggung, dan kembali masuk membawakan lagu "For What It's Worth". Suasana yang sempat sepi akhirnya pecah lagi, terutama saat Nina yang kali ini memakai atasan warna-warni membuka lagu dengan permainan harmonikanya.

"Sangat menyenangkan bisa tampil di sini, sebuah kehormatan bagi kami," kata Lars-Olof Johansson disambut teriakan penonton.

Dan The Cardigans tidak ingin histeria malam itu hilang. Mereka melanjutkan dengan lagu yang paling ditunggu-tunggu, "Lovefool". Sontak saja semua penonton semakin histeris. Sepanjang lagu penonton ikut bernyanyi.

Setelah mengajak penonton bernostalgia, The Cardigans membawakan lagu dari album terakhir mereka "Super Extra Gravity" (2005), "I Need Some Fine Wine and You Need to be Nicer".

Lagu yang cukup dikenal penonton itu juga menunjukan bahwa kesuksesan masih mengiringi The Cardigans hingga album terakhir mereka.


Tanpa "Carnival"


Di penghujung konser, The Cardigans kembali menggoncang panggung dengan salah satu lagu mereka yang populer, "Rise and Shine".

Lagu "Communication" yang melambat dan temaram lampu biru akhirnya menutup momen nostalgia itu dengan manis. Nina, Peter, Magnus, Bengt, dan Lars-Olof melambaikan salam perpisahan kepada para penggemarnya.

Namun, penonton tampaknya belum puas. Satu lagu The Cardigans yang mereka tunggu-tunggu, "Carnival", belum dibawakan. Seolah masih menunggu kehadiran The Cardigans lagi, sebagian penonton masih belum beranjak.

"Carnival.. Carnival.. carnival..." teriak mereka.

Namun, Nina dkk tak kunjung datang. Dan lagu "Carnival" hanya menjadi senandung dalam benak mereka masing-masing. Seperti yang dikutip dari lirik lagu tersebut; "I will never know.. Cause you will never show.."
(M047)