Rabu, 24 September 2014

Helikopter anti kapal selam akan perkuat TNI AL

Rabu, 15 Agustus 2012 15:36 WIB | 11.261 Views
Helikopter anti kapal selam akan perkuat TNI AL
EH-101 Merlin dalam konfigurasi menembakkan "chaff" untuk mengelabuhi sensor infra merah peluru kendali musuh. Helikopter multi fungsi ini dibuat pabrikannya, dalam banyak varian, di antaranya VIP untuk kepresidenan Amerika Serikat hingga anti kapal selam. (*)
Jakarta (ANTARA News) - Sejalan dengan modernisasi dalam koridor kekuatan esensial minimum TNI, TNI AL tengah melirik dan mengaji beberapa tipe helikopter anti kapal selam dari negara-negara produsennya. Banyak tawaran namun cuma satu dipilih karena hingga 2014, dana total perkuatan arsenal TNI itu cuma 5,7 miliar dolar Amerika Serikat untuk semua matra TNI.

Dalam khasanah helikopter tipe ini, terdapat beberapa produsen yang andal. Di antaranya Kamov Ka-27, Ka-28, dan Ka-29 Helix dan Mil Mi-14 (Rusia), Kaman SH2 Seasprite, Sikorsky SH-70B Navy Hawk (Amerika Serikat), EH-101 Merlin (Inggris), NH-90 Multi Role Helicopter, Super Frelon SA 321G (Perancis), Augusta Westland Lynx dan Super Lynx (Inggris), dan beberapa yang lain. 

Semuanya menjanjikan keunggulan sekaligus kompatibilitas dengan sistem yang ada; artinya bisa "dikawinkan" dengan sistem buatan Barat atau Timur, atau alternatif (Israel, China, atau Afrika Selatan).

TNI AL telah meremajakan dua kapal selamnya, KRI Nanggala-402 dan KRI Cakra-401, yang aslinya adalah Type-209 buatan Jerman. Rencananya akan datang lagi tiga perkuatan buatan Galangan Kapal Daewoo, Korea Selatan, lisensi Type-209 dari Jerman; dua dibuat di Korea Selatan dan satu di galangan kapal PT PAL, di Surabaya.

Malaysia dan Singapura telah lebih dulu memperkuat flotila kapal selamnya. Malaysia telah punya dua dari lima unit kelas Marlin DCNS CA-2000 Scorpene buatan Prancis yang harganya lebih mahal --450 juta dolar Amerika Serikat, kosong tanpa senjata-- ketimbang Type-209 sementara Singapura sama dengan jumlah lima juga.

Bicara soal Scorpene ini, dia sekelas dengan Type-212 dan Type-214 besutan Jerman; yang lebih canggih ketimbang Type-209 punya Indonesia. Omong-omong, pemberitaan belakangan ini di Malaysia menyebut-nyebut ada skandal keuangan dalam proses pembelian Scorpene Malaysia itu, yang melibatkan Menteri Pertahanan (saat itu dan kini perdana menteri Malaysia), Najib Tun Razak.

Kalau ada kapal selam, maka harus ada anti kapal selam... itulah gunanya helikopter anti kapal selam itu, selain kapal atas air anti kapal selam yang dilengkapi torpedo dan peluru kendali bawah permukaan.

Rencananya, TNI AL membeli 11 helikopter anti kapal selam (anti submarine helicopter) pada 2014 nanti. Selama ini kita cuma mempunyai dua saja, bekas pakai Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda, yang dibeli pada dasawarsa '70-an.

"Sebenarnya, kita sudah punya sejak 1960 tetapi pada 1970 sudah dipensiunkan," kata Wakil Kepala Staf TNI AL, Laksamana Madya TNI Marsetio. Dia ikut dalam jumpa pers dengan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu. 

Dia tidak merinci tahapan kajian TNI AL yang telah berjalan tentang helikopter ini kecuali jumlahnya yang 11 unit itu. Juga tidak diirinci sistem kesenjataan, sensor, sistem avionika, dan sistem pendukung karena itu mutlak ditentukan setelah jenis dan tipe helikopternya diputuskan.

Dua tahun terakhir pemerintahan Obama "sangat baik" kepada Indonesia sejalan pencabutan embargo militer kepada TNI secara umum. Paling jelas terlihat adalah tawaran hibah 24 jet tempur F-16 Blok 25 Fighting Falcon eks Koprs Udara National Guard mereka; yang dikatakan Yusgiantoro, "Akan ditambah lagi jumlahnya, sehingga nanti skuadron F-16 kita akan luar biasa."

Belum lagi program-program latihan dan peningkatan kapasitas SDM TNI dan pelibatan Indonesia dalam banyak program internasional atau regional. Kalau sudah begitu, tampaknya "lirikan" untuk arsenal anti kapal selam ini bisa mengarah ke Amerika Serikat. (*)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga