Kamis, 23 Oktober 2014

"Bourne Legacy " bukan soal Jason Bourne

| 8.034 Views
id bourne legacy, aaron cross, jason bourne, jeremy renner, resensi bourne legacy, resensi film bourne, Tony Gilroy, proyek threadstone, proyek outcome
Aaron cross dalam cuplikan film Bourne Legacy (trailer)
Jakarta (ANTARA News) - Tiga film Bourne sebelumnya yang selalu menampilkan Jason Bourne sebagai pemeran utama, tapi Bourne keempat (Bourne Legacy) sedikit berbeda.

Bukan karena Bourne tewas, namun alasannya  karena pemeran Jason Bourne, Matt Damon menolak tampil pada sequel ini. Hal itulah yang membuat sutradara Tony Gilroy memutar otak, dan akhirnya memutuskan untuk menampilkan tokoh baru.

Di dalam film ini juga disebutkan bahwa Bourne masih hidup dan sedang berada di Manhattan, namun tidak pernah dimunculkan sama sekali secara fisik dalam adegan. Aaron Cross (Jeremy Renner) adalah yang didaulat sebagai 'pewaris' Jason Bourne.

Sama seperti pendahulunya, dia juga mata-mata, tampan dan jago berkelahi. Perbedaannya hanya Cross merupakan bagian dari proyek yang dinamai Outcome, sedangkan Bourne berasal dari proyek Threadstone. Selain itu Cross juga punya ketergantungan pada obat yang harus diminumnya secara teratur untuk hidup.

Cerita dimulai ketika Cross terdampar di Alaska untuk melakukan pengujian terhadap daya tahan tubuhnya. Tantangannya yaitu bisa kembali dari daerah bersalju yang terpencil itu, meski dengan stok obat sedikit.

Bagi Cross, tes tersebut bisa dilaluinya dengan sangat mudah. Dia kemudian bertemu dengan agen lain yang menjamunya untuk beristirahat di sebuah rumah singgah.

Satu hari menginap, rumah itu tiba-tiba hancur oleh serangan rudal pesawat. Beruntung Cross sudah lebih dulu menyelamatkan diri, namun agen lain itu mati seketika terkena ledakan.

Sejak itulah dia mulai mengerti bahwa tes yang dijalaninya bukanlah sebuah ujian, melainkan pembunuhan. Rupanya itu adalah rencana Eric Byer (Edward Norton) sang direktur agen mata-mata, yang takut proyek tersebut terekspose ke publik karena banyak kegagalan.

Byer berencana memusnahkan semua jejak proyek rahasia itu. Dia membunuh semua agen mata-mata, para peneliti, dan wartawan yang memberitakannya.

Cross kemudian berusaha bertahan hidup dengan sisa obatnya yang tinggal satu kali minum. Dia pergi ke kota untuk mencari cara mendapatkan obat tersebut, dan kemudian bertemu dengan salah satu peneliti yang bekerja di proyek mata-mata, Dr. Marta Shearing (Rachel Weisz).

Ternyata keduanya pun sedang sama-sama terancam, akhirnya mereka bekerjasama untuk bertahan hidup. Cross menginginkan agar Marta bisa mencarikan obat untuknya, sedangkan Marta ingin Cross melindunginya dari pembunuhan.

Bukan hanya itu tantangannya, Cross juga harus berhadapan dengan agen mata-mata baru LARX-03 (Louis Ozawa Changchien). Bahkan, secara matematis kekuatan LARX-03 jauh melebihi Cross dan Bourne.

Terlambat tegang
Tidak adanya Jason Bourne dalam film 'Bourne Legacy' ini nampaknya membuat sang sutradara harus membangun cerita dengan perlahan. Hasilnya, 30 menit pertama diisi oleh pembicaraan-pembicaraan untuk menguatkan cerita yang akhirnya membuat penonton banyak berpikir.

Hanya saja, setelah itu film berangsur menanjak dengan intensitas ketegangan yang meningkat. Aksi-aksi yang dilakukan oleh Cross sangat luar biasa, dia begitu lincah berkelahi bahkan terkesan lebih kuat dari Jason Bourne.

Ketika Cross di Alaska, ada kesempatan dimana dia harus berhadapan dengan seekor serigala gunung. Pengambilan gambar yang sedikit bergoyang saat Cross harus berguling melawan Serigala, justru menjadi penambah ketegangan tersendiri bagi penonton.

Bourne Legacy juga menawarkan ketegangan saat Cross dan Marta harus pergi ke Manila, Filipina untuk mencari obat. Keduanya harus melewati petugas imigrasi dengan tanda pengenal palsu, dan disitulah tokoh Cross bisa menjadi penenang bagi Marta yang mungkin baru pertama kali melakukan penipuan seperti itu.

Cross pun harus beradegan kejar-kejaran dengan motor, ketika LARX-03 mulai mengetahui keberadaannya. Kepadatan kota manila, jalan-jalan sempit, dan tabrakan menambah ketegangan film tersebut menjadi klimaks, atau bahkan justru bosan.

Durasi 135 menit, sepertinya menawarkan kepuasaan bagi penyuka film Bourne untuk menikmati aksi tokoh baru, Aaron Cross. Hanya saja, untuk yang belum pernah menonton Bourne sepertinya akan kebingungan di awal film ini.

Meskipun begitu, tidak perlu khawatir karena seiring berjalannya film maka semakin terbuka ketidaktahuan para penonton baru itu. Terlebih lagi aksi bertarung Cross pasti sangat menghibur siapapun yang akan menonton.

(lod)

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca