Kamis, 23 Oktober 2014

FFH: kasus suap dan korupsi dominasi pemberitaan

| 3.937 Views
id korupsi hambalang, korupsi sim simulator, kasus korupsi, pemberitaan suap, ffh, dian permata
Lima kasus tersebut terdiri kasus suap wisma atlet, kasus Nazarrudin, kasus suap pemilihan Deputi Gubernur BI, kasus suap proyek Hambalang, dan skandal penggelapan pajak di Ditjen Pajak oleh Dhana Widyatmika,"
Purwokerto (ANTARA News) - The Founding Fathers House (FFH) menyatakan, kasus suap dan korupsi mendominasi pemberitaan berbagai media massa di Indonesia sepanjang 17 Agustus 2011 hingga 14 Agustus 2012.

Peneliti FFH Dian Permata dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Purwokerto, Jawa Tengah, Rabu, mengatakan bahwa ada lima materi berita tentang suap dan korupsi yang frekuensinya cukup siginifikan di media massa sepanjang 17 Agustus 2011 hingga 14 Agustus 2012.

"Lima kasus tersebut terdiri kasus suap wisma atlet, kasus Nazarrudin, kasus suap pemilihan Deputi Gubernur BI, kasus suap proyek Hambalang, dan skandal penggelapan pajak di Ditjen Pajak oleh Dhana Widyatmika," katanya.

Menurut dia, pemberitaan di media cetak yang berisikan materi publikasi calon presiden sebanyak 584 artikel (3 persen), kasus suap wisma atlet 478 artikel (3 persen), kasus Nazarrudin 419 (3 persen), kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia 419 artikel (2 persen), kasus suap proyek Hambalang 324 (2 persen), dan materi berita lainnya 14.561 (87 persen).

Sementara di televisi, kata dia, kasus wisma atlet sebanyak 300 tayangan (10 persen), pesawat Sukhoi Superjet Rusia jatuh 163 tayangan (5 persen), kasus suap pemilihan Deputi Gubernur BI 155 tayangan (5 persen), skandal penggelapan pajak di Ditjen Pajak oleh Dhana Widyatmika 138 tayangan (3 persen), kasus suap proyek Hambalang 103 tayangan (3 persen), dan tayangan lainnya 2.259 (73 persen).

Sedangkan di media "online", lanjutnya, kasus wisma atlet sebanyak 526 artikel (5 persen), kasus Nazarudin 524 artikel (5 persen), kasus suap pemilihan Deputi Gubernur BI 446 artikel (5 persen), calon presiden 408 artikel (4 persen), reshuffle kabinet 342 artikel (3 persen), dan artikel topik lainnya 7.997 (78 persen).

"Dari kasus suap dan korupsi umumnya sangat berkaitan dengan pemangku jabatan di birokrat, DPR, teknokrat, dan lainnya. Ini menjadi persoalan (kasus suap dan korupsi) bersama dan segara ada tindakan, seperti kanker yang harus segera diamputasi, jika tidak maka akan menjalar ke mana-mana," katanya.

Lebih lanjut, Dian mengatakan, data riset analisis isi media (media content analysis) tersebut bersumber dari 30.135 materi publikasi dari 10 media cetak/surat kabar, enam televisi, dan tujuh media online.

Dalam hal ini, kata dia, riset menggunakan metodologi "purposive sampling", sedangkan "locus" riset terhadap berita tematik dan berdasarkan kategori politik, hukum, dan ekonomi.

Menurut dia, 10 surat kabar yang dipilih tersebut berskala nasional, yakni Bisnis Indonesia sebanyak 1.221 artikel (7 persen), Kompas 2.310 artikel (14 persen), Koran Tempo 2.626 artikel (16 persen), Media Indonesia 2.479 artikel (15 persen), Rakyat Merdeka 1.182 artikel (7 persen), Republika 1.184 artikel (11 persen), Seputar Indonesia 2.344 artikel (14 persen), Sinar Harapan 625 artikel (4 persen), Suara Pembaruan 736 artikel (4 persen), dan The Jakarta Post 1.367 artikel (8 persen).

Dian mengatakan, sebanyak 3.118 dari tayangan publikasi televisi, masing-masing disiarkan Metro TV sebanyak 564 tayangan berita (18 persen), RCTI 544 tayangan berita (17 persen), SCTV 485 tayangan berita (16 persen), Trans TV 137 tayangan berita (4 persen), TV One 835 tayangan berita (27 persen), dan TVRI 553 tayangan berita (18 persen).

"Sejumlah 10.243 artikel dari media `online`, yakni antaranews.com ada 1.208 artikel (12 persen), Detik.com 2.275 artikel (22 persen), Inilah.com 1.550 artikel (15 persen), Kompas.com 1.471 artikel (15 persen), Okezone.com 1.144 artikel (11 persen), Tempo.co.id 932 artikel (9 persen), dan Vivanews.co.id 1.663 artikel (16 persen)," katanya.
(KR-SMT/I007)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga