Sabtu, 2 Agustus 2014

Hutan lebat bukan jaminan perlindungan keanekaragaman hayati

Rabu, 15 Agustus 2012 21:57 WIB | 3.397 Views
Hutan lebat bukan jaminan perlindungan keanekaragaman hayati
Ilustrasi hutan (wallpaperstock.net)
Jakarta (ANTARA News) - Sejumlah satwa liar seperti  jaguar, tapir, giant anteater (trenggiling besar) dan monyet  laba-laba  dinyatakan hampir punah di hutan tropis Brazil. 

Satu penelitian menyebutkan  satwa lainnya juga punah lebih cepat dari yang diperkirakan karena lahan tutupan hutan mulai gundul akibat ulah penebang liar dan pemburu. 

Penulis penelitian tersebut menyatakan temuan mereka itu  punya dampak global bagi konservasi karena memastikan bahwa luasnya tutupan lahan hutan bukanlah indikator penting dalam keanekaragaman hayati.

Menurut penelitian itu, kualitas hutan dan usaha melindungi fauna yang ada di dalam hutan ternyata indikator yang jauh lebih penting dalam keanekaragaman hayati.

Penelitian selama 2 tahun yang dipimpin oleh Universitas Anglia Timur melihat tanda 18 mamalia di 196 lokasi yang tersebar di hutan Brasil. 

Mereka menemukan seperlima dari 3.528 populasi mamalia di sana seperti babi hutan telah benar-benar punah.Sementara satwa lainnya sudah diambang kepunahan. 

"Kami menemukan proses kepunahan satwa yang sangat cepat mulai dari satwa besar hingga kecil," kata peneliti dari Universitas Mato Grosso  Gustavo Canale seperti dikutip Guardian. 

Sekitar 90 persen dari hutan tropis dan hutan lindung di Brazil atau enam kali luas Inggris telah dikonversi menjadi lahan pertanian dan peternakan seperti ladang cokelat dan karet. 

Fokus penelitian ini dilakukan di sebuah wilayah hutan sebesar lapangan sepakbola yang terlantar. Kemudian para peneliti ini menambahkan luas area hutan yang memungkinkan peneliti bekerja dengan leluasa untuk meneliti habitat satwa langka. 

Hasilnya, menyatakan kalau selebat apapun hutan terlihat dari luar, namun tetap akan cepat gundul karena perluasan pertanian dan memudahkan satwa liar untuk diburu.   

"Orang berpikir kalau ada hutan lebat maka didalamnya terdapat banyak satwa, tapi itu tidak sepenuhnya benar," kata peneliti lingkungan dari Universitas Anglia Timur Prof Carlos Peres. 

"Brazil contohnya, pertumbuhan ekonomi kami keenam terbesar di dunia, yang seharusnya banyak pendapatan untuk konservasi hutan, namun yang ditemukan malah sebagian besar hutan tropis berada dalam kondisi kritis."

Berita baiknya, perlindungan hutan menghasilkan hal yang positif, dari 200 titik lokasi, peneliti menemukan kekayaan spesies dalam taman nasional, meskipun di .dalamnya luas tutupan hutan tidak besar. 

"Meskipun luas hutan tidak besar, tapi menggambarkan manfaat perlindungan hutan dari sekedar tutupan kanopi hutan yang lebat atau sekedar penyimpanan karbon semata," kata dia. 

(tri)


Penerjemah: PR Wire

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga